Senin, 21 September 2015

BERITA GEREJA 19 & 20 SEPTEMBER 2015 Hari Minggu Biasa XXV

I. Pesta Santo–Santa Minggu ini:
·        Hari Rabu, Perayaan Wajib Santo Padre Pio dari Pietrilcina

II. Misa Harian dalam pekan ini seperti biasa 06:00 AM
·         Hari Senin, 17:30PM Misa Misa dan Devosi Keluarga Kudus

III. Petugas Misa Minggu yang akan datang:
Hari Sabtu 26 September 17:30 PM
Koor: Komunitas Yoseph dan Yohanes
Organis: Sdr. Rudi
Lektor: Sdri. Christa dan Sdr. Kristian T.
Pemazmur: Aveline M.
Kolekte & Persembahan: Komunitas Yoseph dan Yohanes
Putra-Putri Altar: Paulus Yudhistira, Marcellino,Marcela Liauw, Pauline Dwi.


Puasa


St. Matius, 21 September

St. Matius Pemungut Cukai, id.wikipedia.orgMATIUS adalah seorang pemungut cukai di kota Kapernaum, kota di mana Yesus tinggal. Matius seorang Yahudi, tetapi ia bekerja untuk kepentingan bangsa Romawi yang menjajah bangsa Yahudi. Oleh sebab itu, orang-orang sebangsanya tidak menyukai Matius. Mereka tidak mau berhubungan dengan “orang-orang berdosa” seperti Matius si pemungut cukai.

St. Matius, 21 September


Matius adalah seorang pemungut cukai di kota Kapernaum, kota di mana Yesus tinggal. Matius seorang Yahudi, tetapi ia bekerja untuk kepentingan bangsa Romawi yang menjajah bangsa Yahudi. Oleh sebab itu, orang-orang sebangsanya tidak menyukai Matius. Mereka tidak mau berhubungan dengan “orang-orang berdosa” seperti Matius si pemungut cukai.

Namun, Yesus tidak berpikir demikian terhadap Matius. Suatu hari, Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai dan Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Seketika itu juga Matius meninggalkan uang serta jabatannya untuk mengikuti Yesus. Yesus kelihatan demikian kudus dan bagaikan seorang raja. Matius mengadakan suatu perjamuan besar bagi-Nya. Ia mengundang teman-teman lain yang seperti dirinya untuk bertemu dengan Yesus serta mendengarkan pengajaran-Nya. Sebagian orang Yahudi menyalahkan Yesus karena makan bersama dengan oang-orang yang mereka anggap orang berdosa. Tetapi, Yesus sudah siap dengan suatu jawaban. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Ketika Yesus kembali ke surga, St. Matius tinggal di Palestina. Ia tetap tinggal di sana beberapa waktu lamanya untuk mewartakan Kristus. Kita mengenal Injil Matius, yang adalah kisah Yesus serta ajaran-ajaran-Nya. St. Matius mewartakan Yesus kepada kaum sebangsanya. Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan para nabi akan datang untuk menyelamatkan kita. Setelah mewartakan Injil kepada banyak orang, hidup St. Matius berakhir sebagai seorang martir iman yang jaya.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-mu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)

Pelukan yang Menyelamatkan

Gambar berikut diambil dari artikel berjudul “Pelukan yang Menyelamatkan”. Artikel berkisah tentang minggu pertama dari kehidupan sepasang bayi kembar yang dilahirkan duabelas minggu lebih awal. Masing-masing ditempatkan dalam inkubator terpisah. Kyrie, bayi yang lebih besar, cepat sekali bertambah beratnya. Bayi yang lain, Brielle, hanya 1 kg beratnya; jantung dan pernapasannya bermasalah; dan harapan hidupnya tipis. Tidak peduli apapun yang dilakukan para perawat, tetap saja Brielle gelisah dalam ranjangnya dan jantungnya berdetak cepat sekali. Kemudian, seorang perawat rumah sakit menempatkan kedua bayi kecil tersebut dalam satu inkubator. Saat mereka ditempatkan bersama, bayi yang lebih sehat melingkarkan tangannya ke tubuh saudarinya dalam suatu pelukan mesra. Beberapa menit berselang, Brielle mulai tenang; detak jantungnya menjadi stabil, suhu badannya pun mulai normal. Setelah beberapa hari, berat Brielle mulai bertambah. Pada akhirnya, kedua bayi, Kyrie dan Brielle, tumbuh sehat dan kuat.

Pelukan adalah hadiah yang mengagumkan. Ukurannya sama dan pas untuk semua orang. Mudah diberikan dalam berbagai kesempatan.

Jadi Teladan (1)

Mana yang lebih mudah, ikut-ikutan teman atau menjadi teladan yang baik buat mereka? Pada kenyataannya jauh lebih banyak yang ikut-ikutan ketimbang memberi contoh baik. Alasan pun bisa banyak. Takut kehilangan teman, takut tidak diterima dalam kelompok, ingin terlihat gaul dan sebagainya. Memilih untuk hidup benar seringkali menjadi pilihan terakhir alias kalau memang sangat terpaksa. Bukan karena kesadaran tapi dianggap bagai menelan pil pahit. Selain itu, kita pun terbiasa untuk hanya taat aturan saat ada yang melihat, tapi akan seenaknya melanggar kalau merasa tidak ada yang memperhatikan. Lampu merah ditaati di siang dan sore hari, tapi kalau sudah larut malam maka lampu tidak lagi diindahkan, meski itu sangat beresiko mendatangkan malapetaka. Berbagai penyimpangan kebenaran menjadi hal yang sangat lumrah. Saking lumrahnya sampai-sampai orang yang mencoba hidup benarlah yang terlihat aneh. Maka orang percaya pun menyerah. Bukannya menunjukkan pola hidup yang benar menurut Kerajaan Allah tapi malah menyerah ikut-ikutan prinsip dunia dalam memandang hidup. Di tengah dunia yang semakin penuh gemerlap cahaya tapi semakin gelap secara moral, dimanakah seharusnya orang percaya berdiri? Apakah memang jumlah orang percaya yang benar terlalu sedikit sehingga kita harus terlalu mudah menyerah dan mengikuti cara hidup orang dunia? Pentingkah atau wajibkah kita menjadi teladan, atau memang kita diperbolehkan untuk ikut-ikutan dengan alasan-alasan tertentu?

Jadi Teladan (2)

(sambungan)
Kalau kita mundur ke kitab Perjanjian Lama, perihal keteladanan juga telah disampaikan terutama ditujukan kepada orang tua. Ketika pesan “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7) diberikan, itu kemudian disusul dengan keharusan untuk mengaplikasikan itu ke dalam kehidupan sehari-hari yang mampu memberikan teladan. “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9). Ayat ini berbicara dengan jelas mengenai keharusan kita untuk menunjukkan contoh secara langsung dalam hidup kita dan bukan hanya sebatas kata saja. Ini adalah hal yang wajib diaplikasikan setiap kehidupan anak-anak Tuhan. Kita tidak akan pernah cukup menyampaikan saja, tetapi terlebih pula harus mampu menunjukkan secara langsung melalui keteladanan lewat kehidupan kita.

Bekerja Sama Dalam Pelayanan


18 Sept Sesawi RSEBAGAI ungkapan syukur karena telah merasakan kasih Yesus, beberapa wanita dengan sukarela melayani Yesus beserta rombongannya, berbagi harta yang mereka miliki untuk

Target Strategi DPP Bunda Maria banjarbaru 2015-2018

Tujuan Per Bidang
2015
2016
2017
2018
KERYGMA
Pewartaan Iman sampai kepada umat
·   Konsientisasi
·   Update data umat
·   Memperkenalkan isi KS kepada Umat
·   Menambah jumlah pewarta
·   Mengajarkan katekismus Gereja Katolik
·   Mengajarkan Buku III judul I, II, IV, V, VI, VII dari Kitab Hukum Kanonik (KHK dan turunannya
LYTURGIA
Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup kristiani
·   Konsientisasi
·   Update data umat
·   Ajaran KS mengenai Perayaan Ekaristi
·   Mengajarkan Sacrosanctum Concilium dan dokuman Gereja lain
·   Mengajarkan Buku IV judul III dari KHK dan turunannya
·   Mengajarkan Tata Perayaan Ekarosti yang baku.
·   Mengajarkan Statuta berkaitan dengan Ekaristi
DIAKONIA
Umat Katolik memiliki solidaritas dan berlaras kepada sesama dan lingkungan yang memerlukan perhatian dan pertolongan
·   Konsientisasi
·   Update data umat
·   Ajaran KS mengenai perwujudan Kasih kepada sesama
·   Mengajarkan Ajaran-ajaran Sosial Gereja
·   Mengajarkan Buku III Judul III dan Buku V dari KHK dan turunannya
·   Mengajarkan Statuta
KOINONIA
Umat Katolik semakin terlibat aktif dalam hdiup persekutuan
·   Konsientisasi
·   Update data umat
·   Ajaran KS mengenai kehidupan berjemaat
·   Ajaran Gereja tentang Persekutuan Hidup Jemaat
·   Mengajarkan Buku II dan Buku VI dari Kitab Hukum Kanonik (KHK) dan turunannya.
·   Mengajarkan Statuta
MARTYRIA
Umat Katolik berani bersaksi dalam hdiup menggereja dan bermasyarakat
·   Konsientisasi
·   Update data umat
·   Ajaran KS mengenai menjadi saksi Kristus
·   Ajaran Gereja mengenai Kesaksian (Lumen Gentium, EN dsb.)
·   Mengajarkan Buku II dari KHK dan turunannya.
·   Mengajarkan Statuta

Senin, 14 September 2015

BERITA GEREJA 12 & 13 SEPTEMBER 2015 Hari Minggu Biasa XXIV

I. Pesta Santo–Santa Minggu ini:
·        Hari Selasa, Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
·        Hari Rabu, Perayaan Wajib Santo Kornelis, Paus dan Santo Siprianus
·        Hari Sabtu, Hari Raya SP Maria La Salette


Humor Jesuit (20): Benarkah Yunus Ditelan Ikan Paus?

SEORANG ateis bertanya kepada seorang pastor Jesuit dalam suatu pertemuan terbuka.
“Pastor, apakah Anda benar-benar percaya bahwa Yunus ditelan ikan paus?,” tanyanya dengan nada skeptis.
Pastor Jesuit itu menjawab, ”Kalau saya masuk surga nanti, akan saya tanya langsung ke Yunus.”
“Bagaimana kalau Anda tidak menemukannya di sana?,” cerca sang ateis.

“Kalau begitu, Bapak yang harus bertanya kepadanya,” sahut pastor Jesuit tersebut dengan tangkas.

Pesta Salib Suci: Sebuah Tradisi Gereja Katolik

Salib Suci, jesusthelordoftheking.blogspot.comKALENDER liturgi Gereja Katolik mengenal beberapa tingkatan prioritas hari-hari liturgi. Yang terutama dari semuanya adalah Trihari Paskah. Berikutnya menyusul Natal, Epifani (Penampakan Tuhan), Kenaikan dan Pentakosta. Urutan ini masih panjang. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam Bina Liturgia 2: Pedoman Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi, halaman 514-516. Di luar hari-hari yang secara khusus disebutkan, termasuk yang tersebut di atas, secara umum ada tiga kategori besar, berturut-turut mulai dari yang terutama, yaitu: Hari Raya (Solemnitas), Pesta (Festum) dan Peringatan (Memoria). Pesta Salib Suci, sesuai namanya, termasuk kategori yang kedua, pesta atau festum, yang wajib dirayakan oleh semua umat Katolik.


St. Matius 21 September


Matius adalah seorang pemungut cukai di kota Kapernaum, kota di mana Yesus tinggal. Matius seorang Yahudi, tetapi ia bekerja untuk kepentingan bangsa Romawi yang menjajah bangsa Yahudi. Oleh sebab itu, orang-orang sebangsanya tidak menyukai Matius. Mereka tidak mau berhubungan dengan “orang-orang berdosa” seperti Matius si pemungut cukai.

Namun, Yesus tidak berpikir demikian terhadap Matius. Suatu hari, Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai dan Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Seketika itu juga Matius meninggalkan uang serta jabatannya untuk mengikuti Yesus. Yesus kelihatan demikian kudus dan bagaikan seorang raja. Matius mengadakan suatu perjamuan besar bagi-Nya. Ia mengundang teman-teman lain yang seperti dirinya untuk bertemu dengan Yesus serta mendengarkan pengajaran-Nya. Sebagian orang Yahudi menyalahkan Yesus karena makan bersama dengan oang-orang yang mereka anggap orang berdosa. Tetapi, Yesus sudah siap dengan suatu jawaban. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Ketika Yesus kembali ke surga, St. Matius tinggal di Palestina. Ia tetap tinggal di sana beberapa waktu lamanya untuk mewartakan Kristus. Kita mengenal Injil Matius, yang adalah kisah Yesus serta ajaran-ajaran-Nya. St. Matius mewartakan Yesus kepada kaum sebangsanya. Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan para nabi akan datang untuk menyelamatkan kita. Setelah mewartakan Injil kepada banyak orang, hidup St. Matius berakhir sebagai seorang martir iman yang jaya.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-mu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)

St. Kornelius & St. Siprianus 16 September


St. Kornelius, Paus
St. Siprianus
S. Kornelius
S. Siprianus
Pada pertengahan abad ketiga, Gereja masih mengalami penganiayaan. Penganiayaan yang kejam dalam masa pemerintahan Kaisar Decius telah merenggut nyawa Paus St. Fabianus. Gereja tidak memiliki paus selama hampir satu tahun lamanya. Seorang imam kudus dari Roma, Kornelius, dipilih menjadi Bapa Suci pada tahun 251. Kornelius menerima tugas tersebut, oleh sebab ia sangat mencintai Kristus. Ia rela melayani Gereja sebagai seorang paus, meskipun pelayanannya itu membahayakan jiwanya. Karena itulah Paus Kornelius amat dikagumi di seluruh dunia. Teristimewa para Uskup Afrika secara terang-terangan menyatakan cinta dan kesetiaan mereka kepada paus. Uskup Siprianus dari Kartago mengirimkan kepada bapa suci surat-surat yang membangkitkan semangat serta menyatakan dukungan.

Siprianus dibaptis sebagai pengikut Kristus pada usia empat puluh lima tahun. Ia mengherankan umat Kristiani di Kartago dengan mengucapkan kaul kemurnian sesaat sebelum dibaptis. Beberapa waktu kemudian, Siprianus ditahbiskan sebagai imam dan pada tahun 249 sebagai uskup. Penuh semangat Uskup Siprianus membesarkan hati Paus Kornelius dengan mengingatkannya bahwa selama masa penganiayaan yang sedang berlangsung di Roma itu, tidak ada seorang umat Kristiani pun yang mengingkari imannya. Tulisan-tulisan St. Siprianus menjelaskan tentang kasih yang harus dimiliki umat Kristiani bagi persatuan Gereja. Kasih ini haruslah juga diperuntukkan bagi paus, para uskup serta para imam, baik di keuskupan-keuskupan maupun di paroki-paroki. Siprianus juga menulis sebuah thesis tentang persatuan Gereja. Topik yang diangkatnya itu tetap menjadi topik penting di sepanjang masa, termasuk masa sekarang.

Paus St. Kornelius wafat dalam pengasingan di pelabuhan Roma pada bulan September tahun 253. Oleh sebab ia harus menanggung penderitaan yang luar biasa sebagai seorang paus, maka ia dinyatakan sebagai martir. St. Siprianus wafat lima tahun kemudian dalam masa penganiayaan Valerianus. Ia dipenggal kepalanya di Kartago pada tanggal 14 September 258. Pesta kedua orang kudus ini dirayakan bersama-sama untuk mengingatkan kita akan pentingnya persatuan Gereja. Persatuan Gereja adalah tanda kehadiran Yesus yang adalah Kepala Gereja.

Marilah berdoa mohon persatuan di antara semua orang yang berbeda budaya, ras, bangsa, maupun agama.
Senyum Untukmu

Tahukah kamu bahwa senyum itu menular?
Menerimanya seperti terjangkit flu.

Hari ini seseorang tersenyum padaku,
dan aku balas tersenyum juga.

Di pojok ruangan seseorang melihatku tersenyum
dan ia mulai tersenyum pula.

Aku jadi sadar bahwa senyum dapat ditularkan…

Lalu aku memikirkan dan mengukur senyumku.
Senyum yang unik, seperti senyumku,
dapat menyebar ke seluruh dunia.

Jadi, kalau kamu merasa ingin tersenyum,
janganlah berusaha menghentikannya.

Marilah kita mulai menyebarkan wabah senyum sekarang juga,
hingga mempengaruhi seluruh dunia!

Tetaplah tersenyum dan kirimkan artikel ini pada para teman dan sahabatmu.

Lagi pula, bukankah setiap orang membutuhkan senyum?!!!

Mengkomunikasikan Keluarga: Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih

KELUARGA adalah sebuah pokok refleksi mendalam Gereja dan sebuah proses yang melibatkan dua Sinode: Sinode luar biasa baru-baru ini dan Sinode biasa yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Maka, hemat saya, tepatlah bila tema untuk Hari Komunikasi Sedunia yang ke-49 semestinya menjadikan keluarga sebagai titik acuannya.

Bagaimanapun juga, dalam konteks keluarga itulah kita pertama-tama belajar bagaimana berkomunikasi. Memusatkan perhatian pada konteks ini dapat membantu menjadikan komunikasi kita lebih autentik dan manusiawi, seraya pada saat yang sama membantu kita melihat keluarga dalam perspektif baru.
Kita dapat menimba ilham dari perikop Injil yang mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk 1:39-56). ”Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu’” (ay. 41-42).