Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Anjing Religius Ikut Misa Tiap Pekan

Ini kisah tentang seekor anjing yang religius. Adalah Preta, seekor anjing di Portugal, sanggup berjalan menempuh jarak 26 kilometer setiap minggu untuk bisa mengikuti misa (kebaktian).

Setiap hari Minggu selama tiga tahun terakhir ini, Preta, jenis anjing Pooch yaitu jenis anjing yang bertubuh tambun dan pendek serta berhidung pesek, pergi meninggalkan rumah tuannya di sebuah kota di daerah Sobrado, bagian utara Portugal, pada jam 5 pagi.

Begitu dilaporkan harian Correeio da Manha awal pekan ini. Bekas anjing jalanan ini berjalan sendirian menuju ke sebuah gereja di daerah kawasan Ermesinde untuk menghadiri misa pada pukul 07:30 dan berada di tempat favoritnya di dalam gereja yakni di samping altar. Pada saat jemaat berdiri atau duduk, Preta juga melakukan hal yang serupa. Ketika misa usai biasanya ia kembali pulang berjalan kaki, namun kadangkala ia ikut menumpang pulang naik mobil orang-orang yang dikenalnya. Jumlah jemaat gereja tersebut saat ini meningkat karena banyak orang yang ingin melihat kehadiran anjing tersebut. (Ant, Rtr)

Senin, 13 April 2015

Ketakutan


“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!” (YOH 20, 19)
PARA murid merasa takut, sehingga mereka berkumpul dalam satu ruang dengan pintu yang terkunci. Mereka takut kepada orang Yahudi. Jangan-jangan mereka juga akan ditangkap dan mengalami penderitaan seperti halnya dialami oleh Guru mereka.
Ketakutan membuat mereka bersembunyi, tertutup dan menghindar dari banyak orang. Ketakutan telah membatasi ruang gerak seseorang dan perjumpaan dengan orang lain. Ketakutan sesungguhnya tidak hanya dialami oleh para murid, tetapi juga menjadi pengalaman banyak orang. Anak-anak takut ditinggalkan orang tuanya.
Para siswa takut saat menghadapi ujian akhir atau ujian nasional. Orang muda takut diputus dan ditinggalkan pacarnya. Orang tua takut tidak mampu memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Sekelompok masyarakat takut terhadap ancaman tanah longsor, banjir atau angin puting beliung.
Para pejalan takut dengan maraknya begal di jalanan. Ketakutan telah membuat seseorang defensif, membentengi diri dengan berbagai senjata, pagar atau tembok rumah yang tinggi-tinggi. Banyak orang memelihara anjing untuk menjaga rumah atau mengupah seseorang untuk menjaga keamanan.
Ketakutan dirasakan oleh anggota keluarga atau dirasakan oleh para karyawan di tempat kerja. Orang takut usahanya gagal, pekerjaannya tertunda atau proyeknya diambil alih orang lain. Banyak orang takut terhadap orang lain, rekan kerjanya dan bahkan teman atau sahabatnya. Banyak orang takut terhadap hal-hal yang terjadi pada hari ini; ada pula orang yang takut akan masa lalunya.
Masa lalu yang selalu datang menghantui, mengejar dan membuat gelisah. Ada pula orang yang takut akan masa depannya yang suram dan tidak jelas. Ketakutan dialami banyak orang pada zaman ini.
Ketakutan menjauhkan rasa aman, tenteram dan damai. Ketakutan telah menghilangkan kegembiraan dan sukacita dalam diri banyak orang. Ketakutan macam apa yang pernah dan sedang aku alami saat ini?

Senin, 09 Maret 2015

KERAMAIAN DI HALAMAN GEREJA

“Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.’” (Yoh 2, 16)
SUATU  saat pernah ada umat datang dan minta izn, “Apakah diperbolehkan berjualan di depan kantor milik keuskupan?” Di saat lain lagi beberapa anak muda juga datang dan minta diizinkan untuk menjual tas serta suvenir lain di tempat parkir. Mereka sedang menggalang dana untuk membiayai kegiatan kelompok orang muda.
Banyak orang ingin berjualan, entah kelompok orang muda atau dewasa, pribadi atau berkelompok. Mereka berjualan dengan maksud untuk mengumpulkan dana, entah untuk kepentingan keluarga sendiri atau kepentingan kelompok. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak umat beriman tertarik untuk berjualan. Banyak di antara mereka yang berjualan di tempat sendiri. Tetapi banyak juga yang tidak mempunyai tempat untuk berjualan.
Banyak pula yang berjualan pada momen tertentu, yakni pada hari Sabtu atau Minggu. Sasaran atau konsumennya juga jelas, yakni umat beriman yang pulang dari gereja.
Saat ini di sekitar gereja sudah banyak orang berjualan, entah makanan, sayuran, lauk, buku, majalah, suvenir, benda-benda rohani.
Minggu ini, umat beriman merenungkan kisah yang terjadi di Bait Allah. Di sana Yesus mengusir orang-orang yang berjualan. Bahkan dengan tegas Yesus mengatakan, “Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!”
Bait Allah memang merupakan tempat untuk berdoa dan beribadat. Gereja juga merupakan tempat bagi umat beriman untuk mendengarkan Sabda Allah dan mengalami kehadiran-Nya. Umat beriman dipersatukan dengan Allah lewat ‘Komuni.’ Semua hal ini memang tidak dijual. Umat menikmati semuanya dengan gratis.
Bagaimana caranya agar hal-hal gratis dari Tuhan tetap menarik bagi seluruh umat, sehingga mereka bersemangat untuk datang, mendengarkan, mengalami dan menikmati-Nya, seperti halnya mereka datang kepada para penjual dan berebut untuk membeli sesuatu.