Tampilkan postingan dengan label Pra Paskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pra Paskah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

Sabda Hidup: Rabu, 10 Februari 2016

HARI RABU ABU PANTANG & PUASA
Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18. BcO Yes. 58:1-14
Bacaan Injil: Mat. 6:1-6,16-18.
1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.  3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” 5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Doa, Puasa dan Amal Kasih

Rabu, 10 Februari 2016
Rabu Abu
Yl 2:12-18; Mzm 51:3-4.5-6a.12-13.14.17; 2Kor 5:20-6:2;Mat 6:1-6.16-18
Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
SAAT kita mengawali masa Prapaskah, dalam Injil hari ini Yesus Kristus mengingatkan kita perlunya memulihkan diri kita dari dosa dan berdamai dengan Allah. Selama masa Prapaskah kita diwajibkan melakukan tiga hal ini: doa, puasa, dan amal kasih untuk membangun kehidupan rohani kita. Selama masa Prapaskah ini Yesus Kristus mengundang kita untuk memurnikan hati dan budi dan kembali mengarahkan diri kepada-Nya. Selama masa ini kita dipanggil untuk secara intensif membangun sikap doa, puasa dan karya amal sebagai latihan rohani kita.
Sebagaimana kita ketahui dengan baik, doa memurnikan kehendak kita dan menghubungkan segala yang kita lakukan dengan Allah. Puasa membersihkan kita dari kesenangan diri dan egoisme. Karya amal merenungkan persaudaraan kita dengan kaum papa miskin dalam keluarga Yesus dan mengingatkan kita bahwa kesejahteraan yang sejati tidak ditentukan oleh harta milik, melainkan oleh kasih kepada Allah.
Dalam Injil hari ini, Yesus meneguhkan kita untuk berdoa secara tersembunyi, berpuasa dan memberi amal kasih secara rahasia, tanpa menyombongkan yang kita lakukan kepada sesama. Dalam cara ini kita diyakinkan bahwa kita melakukan kasih kepada Allah dan hanya menyenangkan Allah semata.
Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara menyembah Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, kita belajar berdoa secara intensif di hadirat-Nya. Itulah korban persembahan kita untuk menyenangkan Dia.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau memberi kami rahmat untuk memulai masa Prapaskah ini dengan antusiasme dan kasih yang besar. Tuhan, Engkau mengetahui betapa kami membutuhkan Dikau dan tergantung pada-Mu. Engkau mengetahui kelemahan kami dan dosa-dosa kami. Semoga kami memulai masa Prapaskah ini dengan kerinduan untuk bertumbuh dalam kasih, mempersiapkan diri kami secara pantas untuk merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan-Mu kini dan selamanya. Amin.

Makna Abu Menurut Kitab Suci

SEBELUM kita menerima Abu di dahi kita besok di Hari Rabu Abu, ada baiknya kita mengerti makna dibalik simbol ABU dalam tradisi Kitab Suci.
Kata ABU beberapa kali muncul bersamaan dengan kata DEBU. Dua kata ini berasal dari akar kata yang sama. APAR = Debu, IPER= Abu.
Debu adalah benda terkecil (pada zaman itu, sebelum ditemukan atom atau partikel), sifatnya: tidak ada artinya, mengotori, tak berguna dan tak bermanfaat, namun masih bisa dilihat.
Sementara Abu mengacu pada sisa-sisa benda-benda yang dibakar. Mengacu pada kemusnahan sesuatu yang ada menjadi tiada, kesia-siaan, dan tidak punya arti lagi.

Doa, Puasa dan Amal Kasih

MELALUI bacaan hari ini, Yesus menegaskan bahwa Ia menilai hati, bukan penampilan lahiriah yang hebat dan menawan namun berselimutkan kepalsuan dan kemunafikan.
Ia sangat menekankan pentingnya motivasi yang benar, yang melandasi seluruh tindakan kita dalam berdoa, menjalankan puasa maupun beramal kasih.
Hari ini kita memasuki masa Prapaskah. Kita diundang untuk bertobat, mengubah orientasi hidup kita yang keliru.
Jalani Retret Agung ini dengan terus menerus mendekatkan diri kepadaNya lewat doa-doa dan devosi, serta berjuang untuk menyalibkan semua kelekatan dan keinginan yang tidak berkenan di hatiNya.
Sebagai ungkapan syukur atas kasih dan pengurbananNya yang tiada tara, mari ulurkan tangan kita dengan tulus dan sepenuh hati, untuk berbagi harta, pikiran, tenaga, waktu maupun talenta kepada sesama yang membutuhkan.

Sabtu, 04 April 2015

Kebangkitan Kristus adalah Sukacita Kita

Minggu, 5 April 2015: Hari Raya Paskah
Kis 10:34a.37-43; Mzm 118:1-2.16ab-17.22-23; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9
… Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu; ia melihatnya dan percaya….
DARI Injil hari ini kita membaca, Yohanes dan Petrus berlari menuju makam setelah diberitahu Maria Magdalena bahwa makam Yesus dan “Tuhan telah diambil orang…” Mereka ke makam di Minggu Paskah pagi. Seperti Maria Magdalena dan yang lainnya, Yohanes tidak siap melihat makam kosong dan meski mendengar pesan dari Malaikat toh mereka belum mengerti juga yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa Yesus harus bangkit dari maut.
Ijinkan saya mengutip yang dikatakan Malaikat seperti dicatat St. Lukas, “Mengapa kalian mencari yang hidup di antara orang mati?” (Luk 24:5). Di makam Yesus, Maria Magdalena, Yohanes dan Petrus tidak melihat jenazah Yesus melainkan Yesus Kristus yang bangkit yang membawa mereka sampai pada iman akan kebangkitan Yesus.
Kita dapat belajar dari St. Yohanes. Ketika melihat makam kosong ia teringat segala yang disampaikan Yesus bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Ia menyadari bahwa tak ada makam di bumi yang dapat menampung Tuhan dan pemberi kehidupan. Maka, Ia melihat dan percaya (Yoh 20:8).
Dalam Injilnya, St. Yohanes menyatakan diri sebagai saksi mata atas hidup, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Itulah sebabnya, ia bersaksi dalam suratnya: Apa yang kami lihat, dengar, dan raba, itulah yang kami wartakan sebagai sabda kehidupan kekal yang sudah ada sejak semula (1Yoh 1:1-4). St. Yohanes bersaksi tentang yang sudah ada sejak semula dan kekal.
Realitas kebangkitan merupakan pusat dari iman Kristiani kita. Melalui anugerah Roh Kudus, Yesus Kristus, Tuhan memberikan kepada kita mata iman untuk mengenal-Nya dan mengalami daya kebangkitan-Nya.
Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menemukan sukacita terbesar karena kita dapat berjumpa dengan Kristus yang hidup dan mengenal-Nya secara personal sebagai Tuhan dan Penyelamat. Dengan menyembah-Nya, kita menerima kabar gembira wafat dan kebangkitan Kristus dengan iman yang hidup dan sukacita melimpah.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mengalahkan maut dan memenangkan kehidupan baru serta daya kebangkitan bagi kami. Berilah kami mata iman untuk melihat Dikau dalam kemuliaan-Mu dan menyembah-Mu dengan penuh cinta. Bantulah kami untuk kian dekat dengan-Mu dan bertumbuh dalam pengetahuan akan kasih-Mu yang besar bagi kami dan kemenangan-Mu atas dosa dan maut. Semoga kami selalu bersukacita dan mewujudkan sukacita itu dalam pelayanan kepada sesama kini dan selamanya. Amin.

APAKAH YOHANES PEMBAPTIS MAKAN SERANGGA?

Yesaya bukanlah satu-satunya nabi yang menubuatkan kedatangan Sang Mesias. Yohanes Pembaptis - sepupu Yesus - juga berkhotbah tentang-Nya. Penampilan Yohanes membuat orang takjub. Dikatakan bahwa Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.

Kita dapat maklum Yohanes makan madu, tetapi “belalang?” Sebenarnya yang dikatakan dalam Kitab Suci adalah Yohanes makan “locusts” yang bentuknya serupa dengan belalang yang besar. Memang benar bahwa suku-suku tertentu di Afrika memakan serangga seperti semut atau pun kumbang, tetapi sungguhlah sulit membayangkan Yohanes memakannya.

Jawabannya ternyata amat sederhana. Di Timur Tengah terdapat sejenis tumbuhan yang disebut “locust bean” (kacang belalang), karena bentuknya mirip dengan locust atau belalang. Rasa manisnya amat khas. Kita menyebutnya carob. Carob digunakan sebagai coklat tiruan bagi orang yang alergi terhadap coklat. Jadi, Yohanes Pembaptis sungguh-sungguh seorang choco-holic alias gila coklat! Di Israel, kacang belalang hingga kini masih disebut sebagai “Roti St. Yohanes”.

APA ITU ROTI TAK BERAGI?

Pada Perjamuan Malam Terakhir Yesus merayakan hari raya bangsa Yahudi yang disebut Paskah. Perayaan tersebut untuk mengenangkan saat Musa membebaskan nenek moyang mereka. Bangsa Yahudi telah dijadikan budak di Mesir. Tuhan mengutus Musa untuk menyelamatkan mereka. Pada malam sebelum mereka meninggalkan Mesir, Musa memerintahkan mereka untuk makan dengan terburu-buru dan dalam keadaan siap untuk berangkat segera begitu ada pemberitahuan. Perjamuan Paskah itu terdiri dari anak domba panggang, roti tak beragi dan sayuran pahit.

Ragi adalah bahan yang membuat roti mengembang. Ragi berkembang dalam adonan roti yang hangat. Sementara ia berkembang, ragi mengeluarkan gas karbon dioksida. Gas itulah yang membuat roti mengembang. Perlu waktu agar roti dapat mengembang. Oleh karenanya, bangsa Israel yang sedang tergesa-gesa itu membuat roti tanpa ragi. Roti tak beragi bentuknya bundar dan rasanya seperti crackers - biskuit yang tidak manis.

Bangsa Yahudi makan “crackers” tersebut pada Perjamuan Paskah mereka. Sebagian imam Yahudi menyebut biskuit itu “roti sederhana” sebab roti itu tidak mengembang seperti roti pada umumnya. Ketika kita merasa bangga atau besar kepala, sesungguhnya kita meninggikan diri kita sendiri. Komuni yang kita terima dalam Misa adalah roti tak beragi. Yesus dengan rendah hati membagikan diri-Nya kepada kita dalam rupa roti.  

APA YANG MENARIK DARI MAKAM YUSUF ARIMATEA?

Yusuf dari Arimatea adalah seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang telah menjadi murid Yesus. Ia mempersiapkan jenasah Yesus untuk pemakaman dan membaringkannya di dalam kuburnya yang baru. Oleh karena peristiwa itu, Gereja mengangkat Yusuf sebagai santo pelindung Pemimpin Pemakaman.

Menurut tradisi, Yusuf menyimpan cawan yang digunakan Yesus pada Perjamuan Terakhir - The Holy Grail (Cawan Kudus) - dan membawanya ke Inggris. Kelak, setelah Yusuf wafat, ia dikuburkan di sebuah makam di belakang makam Yesus. KUBUR ITU PUN KEMUDIAN JUGA KOSONG!

APA MAKNA KAIN PELUH SI TUKANG KAYU?

"Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung." (Yohanes 20:6-7)

Di jaman Yesus ada suatu cara bagaimana seorang tukang kayu memberitahukan kepada pemborongnya bahwa pekerjaannya telah selesai. Apakah itu berupa tanda tangan, yah simak saja tulisan berikut ini.

Bayangkanlah suatu siang yang terik di Galilea. Yesus baru saja selesai mengerjakan bagian-bagian terakhir dari pekerjaan yang telah dilakukan-Nya beberapa hari itu. Tangan-Nya yang kuat dan kekar itu kotor oleh serbuk-serbuk kayu dan keringat. Wajah-Nya mengkilat karena keringat. Ia meneguk minuman dingin dari kantong kulit-Nya. Kemudian, berdiri di samping pekerjaannya, Ia mengucurkan air ke wajah dan dada-Nya, memercikkannya ke lengan-Nya untuk membersihkan tubuh-Nya sebelum Ia pulang ke rumah. Dengan kain peluh diseka-Nya wajah dan lengan-Nya hingga kering.

Sesudah itu Yesus melipat kain peluh-Nya dengan rapi menjadi dua, lalu melipatnya lagi menjadi dua. Diletakkan handuk-Nya itu di atas pekerjaan yang telah diselesaikan-Nya dan Ia pun pergilah. Kemudian, siapa pun yang datang untuk memeriksa pekerjaan-Nya akan melihat kain peluh itu dan mengerti pesan sederhana yang disampaikannya. Pekerjaannya sudah selesai.

Murid-murid Kristus, tentu saja, mengerti kebiasaan tukang kayu ini. Pada suatu hari Minggu, tiga tahun setelah Yesus meninggalkan perkakas tukang kayu-Nya, Petrus menjenguk ke dalam makam yang kosong. Ia hanya melihat kain linen yang telah ditinggalkan Tuhan yang Bangkit.

Sebuah senyum tersungging di bibir Petrus karena kesedihan hatinya telah berganti dengan pengharapan, karena ia melihat kain peluh yang tadinya digunakan untuk menutup wajah Yesus itu kini telah tertata rapi dan diletakkan di lantai makam. Petrus mengerti. Tukang Kayu itu telah meninggalkan pesan-Nya yang sederhana. Pekerjaan-Nya sudah selesai.

APAKAH YESUS MEMPUNYAI SAUDARA?

Beberapa waktu yang lalu tersiarlah berita bahwa sebuah peti mati batu yang kecil telah ditemukan di atau dekat Yerusalem. Peti mati batu itu disebut ossuary (atau kotak tulang). Biasanya seseorang yang telah meninggal ditempatkan dalam sebuah makam hingga tidak ada lagi yang tersisa selain tulang-belulangnya. Tulang-belulang itu kemudian ditempatkan dalam sebuah ossuary. Ossuary itu cukup besar untuk memuat bahkan tulang badan kita yang paling panjang, yaitu tulang paha.

Yang menjadikannya berita besar adalah sebuah nama diukir disisi ossuary tersebut dalam bahasa Aram, yaitu bahasa yang dipergunakan Yesus. Tulisan itu berbunyi, “Ya'akov bar Yosef akhui di Yeshua” yang artinya, “Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus.” Banyak orang bertanya-tanya apakah ia adalah saudara Yesus Kristus, yang kita sembah sebagai Tuhan.

Santo Yusuf bukanlah bapa kandung Yesus, melainkan bapa asuh-Nya. Jadi, bagi orang-orang yang tidak mengetahui bahwa Ia adalah Putera Allah, Yesus dikenal sebagai putera Yusuf. Tetapi bagaimana dengan Yakobus, apakah ia saudara Yesus?

Kitab Suci memang menyebutkan bahwa Yesus mempunyai beberapa saudara dan saudari. Sebagian besar teolog Katolik berpendapat bahwa mereka adalah saudara sepupu Yesus. Pendapat tersebut berasal dari teori bahwa Bunda Maria tidak mempunyai anak-anak lain setelah melahirkan Putera Allah. Sebagian lagi berpendapat bahwa Yakobus adalah saudara tiri Yesus, yaitu putera Yusuf dari perkawinan sebelumnya. Sebagian lain berpendapat bahwa Yakobus adalah benar-benar saudara kandung Yesus. Tidak ada yang tahu secara pasti.

Apakah ossuary itu sungguh-sungguh pernah menjadi tempat penyimpanan tulang-belulang saudara Yesus? Yakobus, Yusuf dan Yesus, semuanya adalah nama yang umum dipergunakan pada masa itu. Mungkin juga ini suatu kebetulan.

Catatan Tambahan: Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa ossuary tersebut memang asli tetapi tulisan yang terukir di sana adalah palsu.

APA ITU TOMBAK LONGINUS?

Ketika Yesus wafat di kayu salib, seorang prajurit Romawi hendak menguji apakah Ia sungguh sudah wafat. Ia menikam lambung Yesus dengan tombak. Pada kasus kematian akibat kekerasan, suatu cairan bening terbentuk di sekeliling hati. Ujud cairan itu seperti air. Tikaman tombak membuktikan bahwa nyawa Kristus telah berakhir seperti yang diceriterakan oleh St. Yohanes (Yoh 19:30-37).

Menurut tradisi, nama prajurit yang menikam lambung Yesus itu ialah Longinus. Dalam bahasa Yunani kata untuk “tombak” adalah “longke”. Dikisahkan bahwa di kemudian hari Longinus bertobat menjadi seorang Kristen dan wafat sebagai martir.

Tombak Longinus dibawa ke Roma dan sekarang ditempatkan di salah satu dari keempat pilar yang menyangga kubah Basilika St. Petrus. Di belakang altar yang tinggi tempat Paus merayakan Misa ditempatkan sebuah patung raksasa St. Longinus.

APA ITU KAIN KAFAN TURIN?

Sindone adalah bahasa Yunani yang artinya "kain lenan". Menurut adat orang Yahudi, tubuh seseorang yang telah meninggal dibungkus dengan kain kafan, lalu diletakkan dalam kubur. Sekarang, jika kita berbicara tentang "Kain Kafan Turin" yang kita maksudkan adalah kain lenan yang telah disimpan berabad-abad lamanya di Kapel Kain Kafan di Turin (Italia) yang memperlihatkan gambar wajah serta tubuh seseorang yang diyakini sebagai Yesus.

Kain Kafan Turin itu adalah kain lenan yang bergaris-garis (kain kepar) seperti susunan tulang ikan herring. Panjangnya 4,36 meter dan lebarnya 1,12 meter. Di salah satu sisinya tertera gambar bagian depan dan bagian belakang tubuh seseorang yang wafat karena penyaliban.

Ditemukan sekurang-kurangnya 6 persamaan antara gambar yang tercetak di kain kafan dengan yang disebutkan dalam Injil. Ayat-ayat itu adalah Yohanes 19:1-3; Markus 15:9; Yohanes 19:17; Matius 27:50; Yohanes 19:33-34; Matius 27:59-60. Perlu diingat bahwa Kain Kafan Turin juga merupakan suatu tanda yang mengingatkan semua orang Kristen akan kebenaran iman.

Pada kain kafan tampak tanda-tanda luka seperti yang digambarkan dalam Injil dalam Kisah Sengsara Yesus. Ada juga bukti noda-noda darah. Pada tubuh bagian depan didapati banyak sekali luka di bagian wajah, ada suatu aliran darah yang deras di sisi kanan tubuh, serta tanda luka di bagian tangan kiri. Pada kaki kanan tampak noda darah menutupi seluruh permukaannya, sedang pada kaki kiri tidak. Itu berarti kaki kiri di taruh di atas kaki kanan waktu dipaku bersama.

Bahkan tumbuh-tumbuhan juga meninggalkan jejak yang penting. Pada kain kafan ditemukan tanda-tanda luka yang disebabkan oleh duri. Ditemukan juga bekas-bekas gaharu, rempah-rempah dan minyak-minyak lain yang digunakan untuk mengawetkan jenasah. Didapati juga berbagai jenis tepung sari tumbuh-tumbuhan yang hanya tumbuh di daerah Palestina.

Berdasarkan penelitian para ahli dapat disimpulkan bahwa gambar yang membekas pada Kain Kafan Turin adalah kain kafan yang dahulu digunakan untuk membungkus tubuh Yesus.
sumber : SINDONE Official Web Site; sindone.torino.chiesacattolica.it/en/welcome.htm

Apa itu Kerudung VERONIKA?

Menurut tradisi ada suatu kisah tentang seorang wanita yang menghibur Yesus ketika Ia sedang dalam perjalanan-Nya memanggul salib ke Golgota. Wanita itu memandang wajah Yesus yang penuh dengan keringat, debu dan darah. Oleh karena belas kasihan, ia melepaskan kerudungnya dan menyeka wajah Yesus. Konon ketika ia selesai menyeka wajah-Nya, gambar wajah Yesus tergambar di kerudungnya. Menurut tradisi nama wanita itu ialah "Veronica". Nama tersebut sesungguhnya berasal dari kata Latin 'vera', yang artinya "benar" dan kata Yunani 'eikon', yang artinya "gambar". Pada abad pertengahan, beberapa orang mengaku memiliki kerudung Veronika yang asli. Tetapi hanya satu yang sangat dihormati yaitu kerudung Veronika yang ditempatkan di gereja St. Petrus di Roma. Di Italia, kerudung tersebut disebut 'Sindone'. Sindone sering dihubung-hubungkan dengan Kain Kafan Turin. Jika kalian ingin mendapatkan informasi lebih lengkap, kalian dapat mengunjungi http://sindone.torino.chiesacattolica.it/en/welcome.htm.

Senin, 30 Maret 2015

MENGAPA KITA SELALU MENEMPATKAN SALIB DI ALTAR? MENGAPA UMAT KATOLIK MERAYAKAN WAFAT KRISTUS LEBIH SERING DARIPADA MERAYAKAN KEBANGKITAN-NYA?

Pedoman Umum Misale Romawi menyatakan. “Juga di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib. Salib itu harus mudah dilihat oleh seluruh umat” (no. 308). Bahasa Latin dari `salib' adalah `crux' yang bagi umat Kristen Katolik berarti salib dengan `corpus' atau tubuh Juruselamat kita yang tersalib di atasnya.

Gereja Katolik menempatkan corpus di atas salib bukan karena kita menyembah Kristus yang wafat atau pun merayakan wafat Kristus lebih sering daripada merayakan kebangkitan-Nya, melainkan sebagai peringatan akan apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Melalui wafat Kristus di salib itulah kita beroleh keselamatan. Dalam spiritualitas Katolik, salib dan kebangkitan Kristus tak dapat dipisahkan, demikian juga bagi mereka yang hendak menjadi pengikut-Nya. Memperoleh terang kebangkitan tanpa melalui salib adalah tidak mungkin bagi Kristus dan kita semua dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya. Kita semua diminta untuk memikul salib kita serta mengikuti-Nya (Mat 10:38, 16:24; Mrk 8:34; Luk 9:23). Kurban, kita diingatkan akan kurban Kristus melalui kehadiran corpus, adalah apa yang Ia lakukan bagi kita dan untuk itulah kita dipanggil jika hendak menjadi pengikut-Nya yang sejati.

“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:16-17)

Kurban-Nya di atas salib itulah yang kita hadirkan kembali kepada Allah Bapa dalam setiap Misa, sementara kita bersatu dengan Kristus dalam mempersembahkan Kurban-Nya yang abadi di surga seperti dilihat oleh St. Yohanes: “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.” (Why 5:6). Singkat kata, Yesus tidak dapat memisahkan antara Wafat-Nya disalib dan Kebangkitan-Nya, dan oleh sebab itu, demikian juga kita. Menggunakan kata-kata St. Yohanes dan St. Paulus:

“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:14-15)
“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” (1Kor 1:23)

sumber : "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; by Fr. John Noone; Copyright © 1999; www.scborromeo.org

Apakah arti Paskah, Kematian atau Kebangkitan ?

Ada sejumlah orang mempertanyakan apakah arti Paska. Mereka berargumen bahwa Paska artinya adalah kematian dan bukan kebangkitan, dan Paska yang diartikan kebangkitan itu adalah produk Konstantin di tahun 300-an. Benarkah argumen ini?
Berikut ini kami mengambil informasi, yang disarikan dari buku yang berjudulAncient Israel, karangan Roland de Vaux, vol. 2, (First McGraw-Hill Paperback Edition, 1965), p. 488-493:
Paska, atau Passover dalam bahasa Inggris, berasal dari kata Ibrani,Pesah. Kitab Suci menghubungkan kata itu dengan akar kata psh, yang artinya ‘timpang/ melangkahi/ melewati’ (lih. 2 Sam 4:4),  1Raj 18:21). Dalam tulah terakhir kepada bangsa Mesir, Allah melangkahi/ melewati rumah-rumah yang melakukan persyaratan Paska (Kel 12:13,23,27).

Sejarah Singkat Penentuan Hari Raya Paskah

Tahun ini 2015, hari Minggu tanggal 5 April adalah hari Paskah. Banyak hari hari peringatan Gerejawi yang menggunakan hari Paskah sebagai patokan, misalnya Hari Rabu Abu (46 hari sebelum Paskah), Hari Minggu Palm (hari Minggu 7 hari sebelum Paskah), Hari Jumat Agung (2 hari sebelum Paskah), Hari Kenaikan (39 hari setelah Paskah), Hari Pantekosta (49 hari setelah Paskah), dll. Ketergantungan hari-hari ini semua pada Paskah membuat penentuan hari Paskah sebagai hal yang sangat-sangat penting.
Walaupun selalu jatuh pada hari Minggu, namun setiap tahunnya hari Paskah jatuh pada tanggal yang berbeda, tidak seperti misalnya… hari raya Natal yang selalu dirayakan pada tanggal 25 Desember. Penghitungan atau penentuan hari Paskah mengikuti cara-cara yang kompleks. Namun, mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa cara penghitungan yang kita pakai sekarang ini telah mengalami evolusi yang cukup panjang selama kurang lebih 2 ribu tahun terakhir ini, melibatkan intrik2 tokoh-tokoh agama serta pemikiran banyak orang: saintists, politicians dan juga kaisar.

Artikel mengenai Tiga Hari Suci dan Minggu Paskah



KAMIS PUTIH
Kamis Putih adalah hari pertama dari Tri Hari Suci Paskah. Kamis Putih ini menandai dimulainya Triduum Paskah. Pada hari ini kita merayakan kembali perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama 12 Rasul.

Dikatakan sebagai perjamuan terakhir karena pada malam itu Yesus dikhianati oleh murid-Nya, Yudas Iskariot. Malam itu, Yesus menunjukkan kasih-Nya hingga rela kehilangan nyawa bagi seluruh manusia di dunia. Pada malam itu Yesus menyerahkan tubuh dan darahNya pada Bapa di Surga dalam wujud roti dan anggur yang diberikan kepada para rasul untuk memberi kekuatan bagi mereka. Yesus juga meminta apa yang Dia lakukan malam itu terus dilakukan oleh para pengikut-Nya.

Perayaan pada Hari Kamis dalam Pekan Suci ini disebut Kamis Putih karena warna liturgi hari itu didominasi warna putih. Imam mengenakan kasula (jubah luar) berwarna putih. Bunga-bunga penghias altar juga didominasi warna putih. Warna putih ini melambangkan kemuliaan dan kesucian.

Misa Kamis Putih sebaiknya dilaksanakan pada malam hari seperti  Yesus melakukannya. Istilah the Last Supper menunjukkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan pada waktu malam. Perayaan Kamis Putih sebagai perayaan khusus perjamuan Ekaristi yang diadakan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir ini ditetapkan sejak Konsili Hippo (393 M).

Ada hal yang sedikit berbeda pada Misa Kamis Putih bila dibandingkan dengan Misa yang biasa kita ikuti. Misa yang umumnya kita ikuti terdiri atas: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Sedangkan Misa Kamis Putih terdiri atas:
*. Ritus Pembuka
*. Liturgi Sabda dan Upacara Pembasuhan Kaki
*. Liturgi Ekaristi
*. Pemindahan Sakramen Mahakudus dan tuguran
Ritus Pembuka
Ritus pembuka diawali dengan lagu pembuka dan berakhir setelah Imam menyampaikan doa pembukaan. Hal khusus yang dilakukan pada Misa Kamis Putih adalah dibunyikannya lonceng Gereja selama umat menyanyikan Gloria / Kemuliaan. Gloria ini selama Masa Prapaskah tidak dinyanyikan. Pembunyian lonceng ini juga merupakan saat terakhir lonceng gereja dibunyikan sebelum nanti mulai dibunyikan kembali saat kita menyanyikan Gloria pada perayaan Malam Paskah.

Rabu, 25 Maret 2015

MENGAPA RANTING-RANTING PALMA DIGUNAKAN?

Hanya Yohanes satu-satunya penginjil yang menyebutkan bahwa ranting-ranting yang mereka gunakan adalah dari pohon palma. Matius serta Markus hanya menyebutkan "ranting-ranting". Lukas malahan tidak menyinggung soal ranting sama sekali, ia hanya mengatakan bahwa orang banyak menghamparkan pakaian mereka di jalan.

Di beberapa negara Eropa, umat merayakan Hari Minggu Palma dengan menggunakan ranting pohon willow atau ranting pohon sejenis, karena pohon palma jarang dijumpai di sana. Beberapa orang menganyam 3 lembar daun palma atau lebih untuk dijadikan salib atau mahkota duri. Tahun depan, daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Hari Minggu Palma akan dibakar menjadi abu untuk dipergunakan dalam perayaan Rabu Abu.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com