Umat Allah Keuskupan Banjarmasin adalah persekutuan umat beriman Katolik yg mengetahui, memahami, menghayati & mewujudkan imannya dalam bimbingan Roh Kudus berziarah menuju Gereja yg kontekstual, berdialog, inklusif & transformatif demi memancarkan kasih Allah di Kalimantan Selatan.
Tampilkan postingan dengan label 0 Pewartaan/Kerygma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 0 Pewartaan/Kerygma. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Februari 2016
Sabtu, 06 Februari 2016
Dua Perintah Utama: Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama
Pembahasan
I. Dua Perintah Utama yang sering kita dengar namun sulit untuk dilaksanakan secara sempurna
Bacaan di minggu ke-30 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan dari Kel 22:20-26; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40. Perikop dari Mat 22:34-40, yang juga dituliskan di Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28, terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering didengungkan dari mimbar, dan lebih tepatnya, karena di dalam dua perintah itu – mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, namun mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal, kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat ini diangkat derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat kemampuan yang lebih untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, itulah perintah dari Tuhan sendiri, yang menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dapat mengantar manusia ke dalam Kerajaan Sorga.
Dari mana asalnya Kitab Suci?
Pembahasan
- Bible: Kitab yang suci
- Unik dalam penulisannya, unik dalam pelestariannya
- Buku yang berasal dari perkataan Sabda
- Transisi menjadi ajaran yang tertulis
- Dalam bahasa apa Kitab Suci ditulis?
- Pada bahan apa Kitab Suci yang asli ditulis?
- Manuskrip Kitab Suci
- Kesimpulan: Kaitan tak terpisahkan antara Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium Gereja
- Lampiran:
Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau sejumlah orang meragukannya, ataupun membencinya, namun Kitab Suci tetap terbukti merupakan buku yang paling banyak dibaca orang sepanjang sejarah. Walaupun di sepanjang sejarah ada banyak orang bermaksud melenyapkan Kitab Suci – seperti sejumlah kaisar Romawi di abad-abad awal yang mengeluarkan dekrit untuk membakar semua Kitab Suci- toh kenyataannya ada saja salinan Kitab Suci yang tetap ‘survive‘ dan Kitab Suci tetap eksis sampai sekarang. Voltaire, seorang seorang tokoh Enlightenmentdari Perancis, yang dikenal karena sikap skeptiknya terhadap Gereja, konon pernah memperkirakan bahwa di abad ke -19, Kitab Suci akan menjadi buku antik yang hanya dipajang di museum. Namun faktanya, perkiraan Voltaire meleset jauh, sebab yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah wafatnya, nama Voltaire dan tulisannya mungkin hanya dikenal dalam buku sejarah, tetapi Kitab Suci masih tetap hidup dan dibaca banyak orang setiap hari, dan menjadi pegangan bagi kehidupan banyak orang, sampai saat ini.
Bible: Kitab yang suci
Bible berasal dari kata Yunani, biblos atau biblon. Kita mengenal kata ‘bible‘ dalam artinya sekarang dari St. Hieronimus di abad ke-4, yang menyebutnya sebagai “the Holy Books“, atau “the Books“, ta biblia. Persamaan kata dari the Holy Bible adalah the Holy Scriptures, yang mengacu kepada kitab-kitab yang dikenal sebagai sabda Allah yang merupakan satu kesatuan dalam kesinambungan ilahi.
Sabtu, 09 Januari 2016
Sebuah Kesaksian - Kebaikan Tuhan
Sudah lama sekali Sandy ingin menulis mengenai hal ini. Satu kisah nyata mengenai kebaikan Tuhan kepada keluarga Sandy. Kiranya tulisan ini dapat menjadi satu kesaksian untuk menguatkan iman teman-teman yang terkasih. Dan saya tahu saya menulis ini karena Tuhan dan Roh Kudus menyetujuinya.
Saya pernah menganggap diri Saya adalah orang yang paling menyedihkan di dunia, kalau melihat jalan hidup saya sendiri. Semenjak kecil, saya mengikuti orang tua saya, sudah beberapa kali saya mengalami kejatuhan demi kejatuhan, kebangkrutan demi kebangkrutan. Bisa saya hitung dengan tangan saat ini sudah tiga kali kami mengalami kejatuhan tersebut.
Keluarga kami tadinya adalah keluarga Budhist, yang terikat dengan banyak kuasa-kuasa kegelapan. Kami sudah pergi kemana-mana, hampir semua paranormal terbaik kami kenal. Kami istilahnya sudah memegang kepercayaan kepada tujuh berhala, tujuh wihara, dan tujuh dukun ! (Pokoke terikat deh !), dan saya sudah tidak dapat menghitung, sudah berapa kali keluarga kami datang ke Gunung Kawi (bahkan menurut cerita mami, dari umur satu tahun saya sudah dibawa ke sana).
Sabtu, 28 November 2015
Senin, 27 Juli 2015
Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus bagian I
I. Kristus hidup di dalam aku
Jika membaca riwayat hidup Rasul Paulus, kita akan
terinspirasi dengan betapa besar kasihnya kepada Kristus. Ia benar- benar
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mengabarkan Injil. Ia rela di penjara
dan dianiaya, rela melakukan perjalanan yang berbahaya, demi mewartakan Kabar
Gembira kepada segala bangsa. Semangatnya tak surut bahkan setelah beberapa
kali didera, dan diterpa bahaya maut (lih. 2Kor 11:23, 25; Kis 27:27). Namun
sesungguhnya, ia dapat mengasihi Kristus sedemikian rupa karena Tuhan Yesuslah
yang terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni dia. Perjumpaannya dengan Kristus
di perjalanan menuju Damsyik mengubah seluruh hidupnya, dan melalui sentuhan
kasih Kristus ia menjadi manusia baru. Paulus tidak lagi hidup menurut
pengertian dan kehendaknya sendiri, namun menurut ajaran dan kehendak Kristus.
Keseluruhan jiwa dan kehendaknya begitu terarah kepada Kristus, sehingga ia
dapat mengatakan, “…. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang
hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi
sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah
mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20).
Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus bagian II
II. Sudahkah perkataan Rasul Paulus itu menggema di
dalam hati kita?
Jika kasih kita kepada Tuhan diukur dari
sejauh mana kita telah melakukan perintah- perintah-Nya (lih. 1Yoh 5:3), dan
sejauh mana kita mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Kristus, maka
baik jika kita tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah kita mempunyai kerinduan
seperti Rasul Paulus, yang melakukan apa saja untuk mewartakan Kristus?
Berikut ini adalah beberapa prinsip ajaran Rasul Paulus yang mungkin dapat kita
jadikan sebagai patokan dasar pewartaan kita:
1.
Beritakanlah Injil!
“Celakalah aku, jika aku tidak
memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16) Rasul
Paulus mempunyai kecintaan yang besar kepada Injil. Maka pewartaannya tentang
Kristus juga merupakan pewartaan akan segala pengajaran dan perintah Kristus
dalam Injil. Semangat Rasul Paulus ini harus mendorong kita untuk juga semakin
bersemangat untuk membaca Kitab Suci, merenungkannya dan melaksanakannya;
supaya Injil menjadi sungguh hidup di dalam keseharian kita. Dengan kata lain,
Injil yang kita imani itu menentukan sikap hidup, pikiran dan tutur kata kita;
inilah sesungguhnya bentuk pewartaan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh
Rasul Paulus (Flp 1:27). Selanjutnya Injil inilah yang harus kita wartakan
dalam tugas kerasulan kita sebagai katekis.
2.
Berpegang pada pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus bagian III
III. Dunia modern di bawah
pengaruh modernisme dan sekularisme
Untuk dapat melakukan karya evangelisasi di tengah
dunia modern ini, maka kita harus mengerti apa yang menjadi pergulatan dan
tantangan di dunia pada saat ini, yang sering bertentangan dengan nilai-nilai
Kristiani. Dunia tempat kita tinggal dipenuhi dengan begitu banyak tipu daya,
sehingga banyak orang yang terseret masuk ke dalamnya. Rasul Yohanes mengatakan
“…manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan
mereka jahat.” (Yoh 3:19). Bahaya paling besar yang dihadapi oleh dunia
modern adalah modernisme dan juga sekularisme.
1. Modernisme
Modernisme dikatakan oleh Paus Pius X sebagai “sintesis
dari semua bidaah”/ gabungan dari semua ajaran sesat[2], yang kemudian ditegaskan oleh Paus Benediktus XV[3]. Dapat dikatakan
bahwa modernisme menggabungkan semua ajaran bidaah karena modernisme ingin
menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan Tuhan dari seluruh sendi
kehidupan. Prinsip dari modernisme ini dapat disarikan sebagai: (a)Prinsip
emansipasi, yang menghendaki kebebasan ilmu pengetahuan, tata negara dan
hati nurani, yang terpisah dari Gereja; (b) Prinsip perubahan, yang
mempercayai bahwa satu-satunya yang statis di dunia ini adalah perubahan dan
menolak sesuatu yang tetap, yang terstruktur, yang pada akhirnya akan melawan
otoritas Gereja, karena dipandang sebagai organisasi yang terlalu kaku dan
terstruktur; (c) Prinsip rekonsiliasi, yang mencoba untuk
menyatukan semua perbedaan berdasarkan perasaan hati. Dengan demikian, tidak
diperlukan doktrin-doktrin dan kebenaran-kebenaran absolut, karena
doktrin-doktrin hanyalah memecah belah rekonsiliasi.
Kita melihat contoh-contoh ada cukup banyak situs,
facebook, twitter, maupun bbm, yang sering mengungkapkan semua agama sama saja;
yang penting adalah ajaran kasih; Gereja Katolik terlalu kaku dan tidak
membumi; Gereja Katolik dan dogma dan doktrinnya hanyalah bikinan manusia
semata; tidak perlu terlalu fanatik, dll.
Dan sering perkataan-perkataan seperti di atas
dituliskan oleh umat Gereja Katolik dan bahkan para katekis! Inilah sebabnya
para Paus menyebutkan bahwa modernisme merupakan sintesis dari semua bidaah
atau kesesatan, karena bukan hanya melawan salah satu pengajaran dari Gereja
Katolik, namun melawan semua pengajaran Gereja Katolik sampai kepada
akar-akarnya. Seorang tidak dapat menjadi Katolik dan sekaligus menjadi penganut
modernisme.
2. Sekularisme
Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus bagian IV
IV. Peluang dan tantangan
pewartaan di era digital
Kita bersama yakin, bahwa Rasul Paulus tidak akan
berdiam diri menghadapi tantangan ini. Bahkan kita yakin, bahwa dia akan
menjadikan media komunikasi sebagai satu peluang yang begitu luar biasa yang
harus digunakan untuk mengkomunikasikan/ mewartakan Kristus yang adalah Sang
Kebenaran yang sejati. Dalam salah satu dokumen Instruksi Pastoral yang
dikeluarkan oleh Pontificum Consilium de Communicationibus Socialibus tentang
Komunikasi Sosial, Aetatis Novae (1992), dijabarkannya
pentingnya hal komunikasi di dalam Gereja, karena sesungguhnya hal ini mengambil
model dari komunikasi yang terjadi di dalam Pribadi Allah Trinitas. Sebab di
dalam Kristus yang adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, komunikasi kasih
antara Allah Bapa dan Allah Putera oleh kuasa Roh Kudus menjadi nyata.
Komunikasi ini yang kemudian ditanggapi oleh manusia dalam iman mewujudkan
dialog yang mendalam.[4] Komunikasi kasih
inilah yang perlu dihadirkan di tengah kehidupan manusia, melalui media
komunikasi sosial, dan orang- orang yang terlibat di dalam media ini mempunyai
tanggungjawab untuk mewujudkan keselarasan antara Teladan yang dicontoh dan
pelaksanaannya di lapangan, agar para pembacanya dapat melihat hubungan antara
keduanya. Yaitu bahwa Kabar Gembira yang dikomunikasikan adalah Kasih Allah
yang disampaikan di dalam Kristus.
Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus bagian V dan VI
V. Langkah-langkah konkret untuk
mewartakan
Setelah kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus,
kondisi dunia ini, dukungan Gereja terhadap penggunaan media, serta beberapa
pedoman yang diberikan Gereja, maka mari sekarang kita melihat beberapa langkah
konkret yang dapat kita lakukan. Didorong ingin cepat bertindak dan
mengedepankan kepraktisan, banyak orang memikirkan program-program atau
aktivitas-aktivitas yang harus segera dijalankan. Namun, Yesus mengingatkan
kita bahwa jika badai menerjang, rumah yang didirikan di atas pasir akan hancur
berantakan, dan sebaliknya rumah yang didirikan di atas batu akan tetap berdiri
kokoh. (lih. Mat 7:24-27) Demikian juga dapat pewartaan lewat dunia digital,
langkah pertama adalah membuat pondasi yang kokoh. Pondasi yang kokoh adalah
pondasi spiritual. Pondasi spiritual ini adalah merupakan jiwa dari karya kerasulan
di dalam media digital.
1. Pondasi spiritual
a. Pertobatan: Kita mungkin
bertanya-tanya, mengapa untuk melakukan pewartaan, kita harus bertobat terlebih
dahulu. Kita dapat belajar dari rasul Paulus, yang menunjukkan bahwa setelah
pertobatannya yang luar biasa dalam perjalanan ke Damsyik, dia dapat mewartakan
Tuhan dengan luar biasa (lih. Kis 9:1-22). Sebagian dari kita, mungkin telah
mengalami pertobatan pertama, yaitu pertobatan yang menuntun kita pada Sakramen
Pembaptisan. Namun, pertobatan yang kedua (KGK, 1428) atau pertobatan secara
terus menerus diperlukan sehingga kita senantiasa dalam kondisi rahmat. Dan
dalam hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita menyampaikan kebaikan Tuhan
dengan lebih benar dan indah.
Senin, 20 April 2015
Menjadi Berkah untuk Orang Lain
“Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.” (Kis 3, 14)
BEGITULAH kata-kata Petrus dan Yohanes di depan orang banyak. Mereka telah menolak Yesus, seorang Pribadi yang Kudus dan Benar dan telah menyalibkan-Nya. Mereka malahan meminta agar Pilatus melepaskan Barabas, seorang pemberontak, penyamun, perampok dan pembunuh. Mereka menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiah.
Pribadi pembunuh tentu tidak hanya terbatas dalam diri Barabas, tetapi juga terwujud dalam pribadi yang lain. Bulan yang lalu telah terjadi peristiwa pembunuhan di Ajibarang dengan tembakan. Sampai sekarang belum diketahui siapa pembunuh orang itu.
Pembunuhan tidak hanya terjadi pada zaman dahulu, tetapi juga banyak terjadi pada zaman ini.
Sabda Hidup: Senin, 20 April 2015
HARI biasa Pekan III Paskah
warna liturgi Putih
Bacaan: Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29 BcO Why. 7:1-17
Bacaan Injil Yoh. 6:22-29.
22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. 25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”
26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” 29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Renungan:
Dalam beberapa berita kita melihat bahwa saat ada pembagian zakat atau sembako banyak orang datang. Mereka rela antri bahkan berdesak-desakan agar mendapat jatah itu. Tidak jarang ada yang sampai terluka bahkan meninggal. Dan sering yang datang bukan hanya orang yang tak mampu, mereka yang berada pun sering ikut bergabung.
Dalam beberapa berita kita melihat bahwa saat ada pembagian zakat atau sembako banyak orang datang. Mereka rela antri bahkan berdesak-desakan agar mendapat jatah itu. Tidak jarang ada yang sampai terluka bahkan meninggal. Dan sering yang datang bukan hanya orang yang tak mampu, mereka yang berada pun sering ikut bergabung.
Di masa Yesus begitu juga. Orang-orang berusaha mencari Dia karena, “..kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Mereka mengejar Dia karena roti yang telah digandakan Yesus. Mereka mau nyaman dengan apa yang dilakukan Yesus. Yesus mengajak mereka untuk bekerja demi makanan yang bertahan sampai hidup kekal yaitu percaya pada Dia yang diutus Allah (Bdk Yoh 6:27.29).
Percaya pada Dia yang diutus Allah mewujud dalam keseriusan kita dalam bekerja. Pekerjaan yang kita lakukan di bawah semangat perutusanNya akan bertahan sampai hidup kekal. Kita tidak hanya mengejar pembagian zakat dan sembako. Kita patut bekerja dengan sungguh-sungguh dan selaras dengan perutusanNya.
Kontemplasi: Bayangkan orang berdesak-desakan menanti pembagian zakat dan sembako. Telusurilah kata hatimu dengan pemandangan itu.
Refleksi: Apa artinya percaya pada Dia yang diutus Allah dalam kaitannya dengan pekerjaanmu?
Doa: Tuhan semoga aku hidup selaras dengan perutusan PuteraMu dan sungguh-sungguh berjuang, bukan hanya mengharapkan uluran kasih orang. Amin.
Perutusan: Aku akan menegaskan pilihanku mendatangiNya.
Senin, 13 April 2015
Sabda Hidup: Senin, 13 April 2015
PERINGATAN St. Martinus
warna liturgi Putih
Bacaan: Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Why. 1:1-20
Bacaan Injil Yoh. 3:1-8.
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
Bacaan: Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Why. 1:1-20
Bacaan Injil Yoh. 3:1-8.
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”
Renungan:
Nikodemus adalah seorang yang berpengalaman dalam ajaran iman. Ketika bertemu dengan Yesus ia mendapat pengajaran tentang kelahiran kembali, kelahiran dari air dan Roh. Sering teks ini untuk menerangkan soal baptis. Saya mencoba menangkap makna kelahiran itu.
Renungan:
Nikodemus adalah seorang yang berpengalaman dalam ajaran iman. Ketika bertemu dengan Yesus ia mendapat pengajaran tentang kelahiran kembali, kelahiran dari air dan Roh. Sering teks ini untuk menerangkan soal baptis. Saya mencoba menangkap makna kelahiran itu.
Seseorang yang baru lahir adalah pribadi yang masih kosong dan murni. Selain sebagai warga baru di dunia, pengetahuan dan segala sesuatu dari dirinya sama sekali kosong. Isi akan sangat tergantung pada orang-orang di sekitarnya yang akan mengisi dia. Maka rasa saya kelahiran baru adalah proses pengosongan diri agar mampu menerima isian.
Nikodemus yang telah penuh dengan pengetahuan dan pengalaman perlu mengosongkan diri agar bisa menerima ajaran Yesus Kristus. Bersama dengan ajaranNya ia mengenal dan mungkin untuk memasuki Kerajaan Allah. Kita pun perlu sering mengosongkan diri kita agar sanggup menerima masukan dari Allah.
Kontemplasi
Bayangkan dirimu hadir di hadapan Yesus. Yesus mengajakmu untuk menerima kelahiran baru.
Refleksi:
Apa arti kelahiran baru bagimu?
Doa:
Tuhan, semoga aku mampu lahir secara baru dari air dan RohMu. Semoga aku pun layak memasuki gerbang kerajaanMu. Amin.
Perutusan:
Aku akan mengosongkan diri untuk menangkap ajaranNya. -nasp-
Kontemplasi
Bayangkan dirimu hadir di hadapan Yesus. Yesus mengajakmu untuk menerima kelahiran baru.
Refleksi:
Apa arti kelahiran baru bagimu?
Doa:
Tuhan, semoga aku mampu lahir secara baru dari air dan RohMu. Semoga aku pun layak memasuki gerbang kerajaanMu. Amin.
Perutusan:
Aku akan mengosongkan diri untuk menangkap ajaranNya. -nasp-
Senin, 06 April 2015
Kristus Telah Bangkit
“Kristus bangkit, Kristus mulia, mari kita wartakan. Yang jahat dikalahkan-Nya, mari kita wartakan. Maut dihancurkan-Nya, Kristus pemenang jaya!”
SEPENGGAL lagu Kristus Bangkit di atas memang cukup easy listening dan banyak dinyanyikan kaum kristiani pada hari Paskah ini, khususnya di seluruh Nusantara. Jika dicermati dengan seksama, liriknya mengandung makna yang luar biasa.
“Kristus Bangkit…Kristus pemenang jaya” dalam kutipan lagu di atas, sungguh menggambarkan apa yang kita rasakan pada hari Paskah ini. Seperti yang dituliskan dalam Alkitab pada Markus 16:6 Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus, orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.”
Teriak kegirangan
Dalam homili kali ini, “Ada dua hal yang menjadi bahan permenungan bagi kaum kristiani” ujar seorang Pastur. Pertama, ketika menyanyikan lagu Kristus Bangkit mengapa tidak ada ekspresi kegembiraan pada hari ini? Padahal seperti yang kita ketahui, Kristus telah bangkit! Kristus telah menang, tapi kok seperti ada yang kurang? Pastur tersebut pun memberikan analogi singkat tentang seseorang yang menonton pertandingan sepak bola dan ketika gol, spontan penonton bergembira dan berteriak “GOOOLLL.”
Sekalipun penonton ini tidak mengenal akrab sang pemain dan bahkan mereka hanya menonton dan tidak bermain langsung. Namun ada hal dalam pertandingan itu yang menyatakan kepemilikan daripada penonton tersebut yang membuat kegembiraan pemain menjadi kegembiraan penonton.
Dalam analogi ini sama halnya dengan kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus. Kristus telah bangkit, Kristus pemenang jaya, namun mengapa tidak ada kegembiraan di hati? Harusnya kita merenungi segala pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib demi menebus dosa umat manusia dan bersuka ketika Yesus bangkit.
Lalu untuk analogi kedua, Pastur ini menceritakan tentang seorang anak lulusan terbaik dari kampus terbaik di luar negeri dengan nilai yang memuaskan. Namun ketika kembali ke Indonesia, anak ini tidak bekerja.
Suatu hari datang ayahnya menanyakan kepada anaknya “kamu itukan lulusan terbaik dari luar negeri, tapi kok kamu belum bekerja sampai sekarang?” dengan termenung anaknya menjawab “Aku ga punya modal pak”.
Mendengar hal itu, sang ayah menanyakan suatu hal yang sungguh di luar perkiraan sang anak.
“Kalau gitu, ayah beli dengkulmu seharga 1 milyar ya, gimana? Kamu kasih ga?” dengan lantang anaknya menjawab “Wah enak aja, Pa. Dengkulku ini ga cukup dibeli dengan harga 1M, lebih mahal harganya.’ Sang ayah tersenyum dan berkata “Itu kamu tau, kamu punya modal yang lebih dari 1M kan? Kenapa kamu masih bilang ga punya modal?”
Dua analogi di atas dapat kita jadikan sebagai bahan permenungan dalam memaknai Paskah pada kali ini. Hal inilah yang diminta kepada kita, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan berbekal semangat Paskah.
Kelak, dengan semangat Paskah ini kita dapat menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan lebih peduli terhadap sesama.
Selamat berefleksi.
Selamat Paskah, semoga semangat Paskah menjadikan kita pribadi yang lebih peduli dan lebih bersyukur dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (sesawi)
Kebangkitan Kristus, Pesta Iman
YOHANES, murid yang dikasihi Yesus, selalu menyimak setiap perkataan yang diungkapkan Yesus semasa hidupNya.
Maka saat Yohanes melihat makam yang kosong, tanpa perlu bukti nyata, ia percaya bahwa Yesus telah bangkit.
Sebagai murid Kristus yang hidup pada masa kini, dibutuhkan iman untuk percaya kepada kebangkitanNya, karena kebangkitan merupakan suatu peristiwa di luar jangkauan logika manusia.
Dengan iman kita percaya, bahwa kelak kitapun akan dibangkitkan bersamaNya untuk masuk ke dalam perjamuan surgawi.
Dengan iman kita percaya, bahwa kelak kitapun akan dibangkitkan bersamaNya untuk masuk ke dalam perjamuan surgawi.
Paskah merupakan pesta iman.
Mari kita bersuka cita menyambut kemenanganNya dengan menjadi saksi kebangkitanNya.
Mari kita bersuka cita menyambut kemenanganNya dengan menjadi saksi kebangkitanNya.
Ungkapkan iman kita dengan berani menanggalkan manusia lama dan memulai hidup baru yang selalu berorientasi pada kehendakNya dalam menjalankan karya dan pelayanan kita sehari-hari.
Sukacita karena Kebangkitan Kristus
Oktaf Paskah
Kis 2:14,122-32; Mzm 16:1-2a,5.7-11; Mat 28:8-15
… (Perempuan-perempuan itu) diliputi rasa takut dan sukacita yang besar. Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitakan kepada para murid bahwa Yesus telah bangkit…
KITA rayakan Paskah dengan sukacita. Maka, mari kita persiapkan hati dan hidup kita untuk berjumpa dengan Yesus Kristus yang bangkit. Mari belajar dari pengalaman para murid Yesus.
Injil hari ini mewartakan pengalaman itu. Para perempuan itu diliputi dua perasaan sekaligus pada saat yang sama: takut dan sukacita. Apa artinya? Tampaknya, mereka tidak siap mengalami kebangkitan Yesus sama seperti mereka tidak siap mengalami kematian-Nya.
Karenanya, makam kosong membuat mereka takut sekaligus bersukacita. Ya, sesungguhnya Yesus sudah mengatakan kepada mereka bahwa Ia akan wafat dan bangkit. Namun mereka belum juga paham.
Kita bertanya, apakah dasar iman kita akan kebangkitan Kristus? Kitab Suci menyatakan kepada kita bahwa “iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat ” (Ibr 11:1). Iman akan kebangkitan Kristus merupakan anugerah semata dari Allah bagi kita. Iman itu pasti karena iman berdasarkan pada sabda Allah yang tidak mungkin menipu kita.
St. Paulus berkata bahwa Ia menjadikan mata hati kita terang agar kita mengerti pengaharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya (bdk. Ef 1:18). Juga, St. Petrus berkata bahwa rahmat-Nya telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Ptr 1:3).
Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita mohon kepada Allah anugerah iman yang menyatakan Allah sendiri kepada kita yang percaya pada sabda-Nya. Ia memenuhi kita dengan kehidupan baru dalam Roh Kudus-Nya. Di sana kita belajar untuk mengenal kehadiran Kristus yang bangkit dalam dan melalui Sakramen Mahakudus. Kita belajar hidup dalam sukacita dan pengharapan akan kebangkitan Kristus.
Tuhan Yesus Kristus, semoga kami selalu hidup dalam sukacita dan pengharapan pada kebangkitan-Mu dan tidak pernah kehilangan makna kebenaran itu bagi hidup kami kini dan selamanya. Amin.
Paskah Berarti Bergerak
PASKAH identik dengan kata bangkit. Semua orang berharap paskah membawa perubahan dalam hidup beriman, bermasyarakat, dan diri sendiri. Kita ingin merenungkan paskah dari pengalaman para murid.
para murid setelah mendengar Yesus tidak ada di makam tidak percaya dan berlari ke makam Yesus. Kebangkitan Yesus membuat para murid keluar dari rasa takut. Para murid meninggalkan rasa takut untuk bergerak ke makam Yesus. Itulah paskah. Paskah membuat orang terus bergerak dan meninggalkan kebiasaan lama. Para murid harus terus bergerak untuk mewartakan kabar sukacita tanpa Yesus.
Paskah setiap tahun kita rayakan. Namun apakah kita sudah bergerak dan berubah? Atau kita masih diam seperti dulu? Renungan paskah di Kompas tanggal 4 Maret 2015 Mgr. Anton dan Mgr. Situmorang merefleksikan hidup bernegara kita. Menurut saya, para uskup menangkap bahwa negara kita sedang tidak berkembang dalam moralitas, keadilan, penghayatan Pancasila, dan nasionalitas negara. Apa yang bisa kita buat?
Seperti para murid, saya mengajak anda bergerak untuk perubahan kecil. Suatu perubahan kecil asal dilakukan dengan setia merupakan suatu perubahan besar. Daripada kita buat program besar tetapi tidak dilaksanakan sama saja nol.
Paskah berarti bergerak dan berubah. Mari kita bergerak untuk suatu perubahan meski kecil. Seperti para murid yang berani untuk terus bergerak demi kemuliaan Allah yang semakin besar.
Feel free untuk bergerak dan berubah meski itu kecil.
Jadi Saksi Kebenaran Di Dalam Hidup Sehari-hari
PARA pemimpin Yahudi melakukan politik kotor demi menjaga kewibawaan dan kedudukan mereka.
Sejumlah uang diberikan kepada para prajurit agar mereka meniupkan kabar bohong mengenai kebangkitan Yesus.
Sama halnya dengan para pemimpin Yahudi, dewasa ini banyak orang yang menghalalkan segala cara demi meraih ambisi pribadi.
Mereka tak segan-segan memutarbalikkan fakta untuk menutupi kebenaran agar kepentingan dan kenyamanan mereka tetap terjaga.
Yesus meminta kita untuk tidak gentar dan tetap setia mewartakan kebenaran di dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga, lingkungan, gereja maupun di dalam masyarakat.
Jauhkan diri dari segala macam bentuk kejahatan dengan alasan apapun.
Sadari bahwa kebenaran tidak dapat dibungkam, karena pada akhirnya kebenaran akan terungkap.
Mari jalani hidup ini dengan baik, jujur dan penuh kasih, sesuai firmanNya.
Tetap semangat, walau hambatan menghadang di depan kita.
Ingatlah, Yesus selalu setia menemani perjalanan hidup kita.
Langganan:
Postingan (Atom)





















