Tampilkan postingan dengan label 0 Kesaksian/Martyria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 0 Kesaksian/Martyria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2016

Yakobus Satmoko Hardono: Tuhan Mempersiapkan Semua dengan Indah

Yakobus Satmoko Hardono: Tuhan Mempersiapkan Semua dengan Indah
[NN/Dok.Pribadi]
Sumber Kekuatan: Yakobus Satmoko Hardono (baju putih) bersama keluarga.
HIDUPKATOLIK.com - Berbagai penyakit silih berganti menderanya. Ia pun merasa ajal bakal tiba sehari sesudah Natal tahun lalu. Nyatanya ia mampu bertahan hidup hingga saat ini.

Belikat Yakobus Satmoko Hardono terasa nyeri. Sedangkan lengan kirinya menggeranyam. Ia memeriksakan geringnya itu ke salah satu rumah sakit di Yogyakarta, menjelang Natal tahun lalu. Berdasarkan hasil elektrokardiogram, dokter mendiagnosanya mengalami kelainan jantung.

Sysilia Tanhati: Ke Kalkuta, Belajar dan Berbagi Kasih

Sysilia Tanhati: Ke Kalkuta, Belajar dan Berbagi Kasih
[NN/Dok.Pribadi]
Relawan Kasih: Sysilia Tanhati di Shanti dan, Kalkuta, India.
HIDUPKATOLIK.com - Awalnya semata-mata untuk bepergian, ia justru menjadi relawan di rumah penampungan bagi tunawisma dan kaum difabel di Kalkuta, India. Di rumah yang didirikan Beata Teresa, ia belajar berbagi kasih.

Sysilia Tanhati menyukai perjalanan. Demi hobi itu, ia rela undur diri dari perusahaan di Bandung, dua tahun lalu. Sysilia kemudian menjalankan usaha tas buatan tangan dengan label “Alma Indonesia”. Di sela-sela waktu luangnya, sembari menanti proses produksi tas rampung, sarjana ekonomi itu berkunjung ke berbagai daerah. Ibarat menyelam sambil minum air, Sysilia bisa jalan-jalan sekaligus mencari kain khas daerah untuk bahan dasar produknya.

Senin, 04 Januari 2016

Yesus Tidak pernah meninggalkanku

Saat ini saya berusia 43 thn, saya dilahirkan dalam suatu keluarga katolik yang taat. Sejak bayi saya sudah dipermandikan, dididik secara katolik dan sangat aktif dengan kegiatan Gereja. Setamat SMP saya pindah ke kota Bandung untuk melanjutkan pendidikan dan mulailah saya hanya menjadi sekedar Katolik, tidak ada kegiatan Gereja apapun yang saya ikuti.
Pada tahun 1996 saya menikah secara Katolik dan pada tahun 1998 di karuniahi seorang putri. Kira-kira tahun 2000 mulailah saya sering mempertanyakan iman Katolik, kenapa harus berdoa kepada Maria dan orang kudus? sepengetahuan saya Yesus tidak pernah mengajarkan hal ini, kitab suci pun mulai saya pertanyakan keakuratannya, bahkan konsep Tritunggal adalah konsep yang sangat membingungkan, hal seperti ini menjadikan saya menjauh dari Gereja dan akhirnya hanya pada hari natal saja kita ke Gereja.

Burung Berkicau

Ketika kapal seorang Uskup berlabuh untuk satu hari di sebuah pulau yang terpencil, ia bermaksud menggunakan hari itu sebaik-baiknya. Ia berjalan-jalan menyusur pantai dan menjumpai tiga orang nelayan sedang memperbaiki pukat. Dalam bahasa Inggris pasaran mereka menerangkan, bahwa berabad-abad sebelumnya mereka telah dibaptis oleh para misionaris. 'Kami orang Kristen,' kata mereka sambil dengan bangga menunjuk dada.
Uskup amat terkesan. Apakah mereka tahu doa Bapa Kami? Ternyata mereka belum pernah mendengarnya. Uskup terkejut sekali. Bagaimana orang-orang ini dapat menyebut diri mereka Kristen, kalau mereka tidak mengenal sesuatu yang begitu dasariah seperti doa Bapa Kami?
'Lantas, apa yang kamu ucapkan bila berdoa?'
'Kami memandang ke langit. Kami berdoa: 'Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.' Uskup heran akan doa mereka yang primitif dan jelas bersifat bid'ah ini. Maka sepanjang hari ia mengajar mereka berdoa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sulit sekali menghafal, tetapi mereka berusaha sebisa-bisanya. Sebelum berangkat lagi pada pagi hari berikutnya, Uskup merasa puas. Sebab, mereka dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan lengkap tanpa satu kesalahan pun.

Rabu, 30 Desember 2015

Yesus benar-benar bekerja saat Misa

Kebenaran ini kusadari ketika aku mengikuti misa di luar, di suatu daerah pegunungan di Amerika Latin. Sangat banyak orang miskin menghadiri misa itu. Imam menggunakan meja yang sudah sangat jelek sebagai altar. Seorang anak kecil yang menderita luka bakar yang parah dibawa ikut dalam misa itu. Aku ingat waktu itu aku berpikir, "Ah, apa yang dapat dilakukan? Keadaannya begitu buruk. Tidak ada dokter, tidak ada obat." Aku kagum pada imam itu. Imannya akan Yesus mengajar aku bahwa aku harus membiarkan Yesus melakukan yang hanya dapat dilakukan oleh-Nya dalam dan melalui Ekaristi - mengubah hidup kita.

Menjamah Yesus dalam Ekaristi

Aku berjumpa dengan Yesus melalui dua cara itu. Dan aku ingat sekali lagi akan kisah wanita yang menyentuh jumbai jubah Yesus. Sekarang aku ingin menceritakan beberapa peristiwa yang dapat menjelaskan gagasan Injil ini.
Salah satunya ialah kisah mengenai seorang imam muda. Ia menelepon aku. Dari nadanya tampak bahwa ia sangat cemas dan takut. Ia baru saja tahu bahwa selaput suaranya kena kanker dan dalam tiga minggu ia harus menjalani operasi mengangkat selaput itu. Ia berkata bahwa ia putus asa. Baru enam tahun yang lalu ia ditahbiskan.
Ketika aku berdoa bersamanya, aku merasa Tuhan mau agar aku berbicara dengannya mengenai Ekaristi. Aku berkata, "Pastor, aku dapat berdoa bersama Pastor sekarang melalui telepon. Tetapi tadi pagi bukankah Pastor berjumpa dengan Yesus?
Bukankah Pastor berjumpa dengan-Nya setiap pagi?" Waktu itu aku tidak tahu bahwa pastor itu tidak merayakan Ekaristi setiap hari.

Kekuatan Penyembuhan Ekaristi

Luk 8:40-48 berkisah mengenai seorang wanita di antara orang banyak yang dengan penuh harapan in gin berjumpa dengan Yesus. Sudah bertahun-tahun ia mengharapkan kesembuhan. Tidak ada orang yang dapat menyembuhkan dia. Ia mendengar tentang Yesus dan ia percaya. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Seandainya saya dapat menjamah Yesus, saya yakin pasti akan sembuh."
Wanita itu berada di antara kerumunan orang, berusaha maju dan menjamah jumbai jubah Yesus. Menurut Kitab Suci banyak orang berdesak-desakan di sekeliling Yesus. Semua orang ingin melihat Dia dan menyentuh-Nya. Namun wanita ini mempunyai sesuatu dalam pikirannya. Ia percaya, kalau dapat menjamah-Nya ia akan sembuh. Wanita itu menjamah-Nya, lalu Yesus segera berpaling dan bertanya, "Siapa yang menjamah AIm?" Para rasul bertanya, "Guru orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau dan Engkau bertanyasiapa menjamahAku?' Namun Yesus tahu bahwa ada orang yang tidak hanya menjamah secarajasmani. Ada seseorang yang menyimpan harapan, menyimpan keinginan hati yang kita semua punyai kalau kita pergi kepada Yesus - iman yang penuh harapan. Lalu Yesus memandang wanita itu dan berkata kepadanya, "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Kalau membaca kisah dari Kitab Suci ini, banyak orang akan berkata, "Seandainya saya dapat menjamah Yesus! Sungguh akan sangat membahagiakan seandainya dapat berkontak dengan Yesus." Orang lain akan berkata, "Alangkah bahagianya seandainya kita hidup pada zaman Yesus hidup; dapat berjumpa dengan Dia! Kalau demikian saya akan menjamah-Nya dengan iman seperti wanita itu!"

Siapakah Diantara Kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. (Luk 12:22-31)

Senin, 10 Agustus 2015

Perihal Mengampuni dan Diampuni

Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk bisa memaafkan orang? Anda akan terkejut jika mendengar ada yang memendam dendam selama puluhan tahun, dan itu nyata adanya. Meski orang tersebut memang bukan dalam posisi yang bersalah, ia sudah membuang waktu sekian lama berkubang dalam dendam. Tidak ada sukacita saat kita mendendam, dan bayangkan dalam masa hidup yang singkat ini, sekian puluh tahun ia harus hidup tanpa sukacita karena membiarkan dendam menguasai dirinya. Kalau itu saja sudah parah, ada yang bahkan bertikai dan bermusuhan lebih dari satu generasi. Sampai tujuh turunan bahkan lebih. Generasi yang dibawah mungkin tidak lagi mengetahui latar belakangnya, tetapi mereka tetap harus bermusuhan dengan keturunan musuh nenek buyutnya. Dari pengalaman saya sendiri, mengampuni orang dan hidup tanpa dendam membuat hidup terasa jauh lebih ringan. Benar, ada kalanya orang berlaku demikian buruk kepada kita sehingga melukai perasaan atau bisa saja merugikan kita habis-habisan, tetapi pengampunan tetap saja harus diberikan agar hidup kita terasa lebih lega tanpa ada perasaan yang terus memberatkan kita. Dan Tuhan pun mengharuskan itu sebagai syarat agar pelanggaran-pelanggaran kita pun bisa dimaafkan.

Selasa, 16 Juni 2015

Kesaksian : Menuju Gereja Katolik

Kisah Perjalananku Menuju Gereja Katolik
Dari Katolisitas: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kesaksian iman Rachel. Kami berterima kasih atas kesediaan Rachel untuk membagikan kisah pergumulan batinnya sampai akhirnya memilih untuk menjadi seorang Katolik.Semoga kisah kesaksian iman ini dapat juga menguatkan iman kita semua…..

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3 : 11)
Tak pernah terbayang sebelumnya, kalau pada akhirnya aku akan memilih untuk menjadi seorang Katolik.

Sabtu, 13 Juni 2015

Sebuah Kisah Kasih

Suatu hari, aku bangun dini hari untuk menyaksikan sang surya terbit. Dan keindahan karya ciptaan Tuhan sungguh tak terlukiskan. Sementara aku mengaguminya, aku memuliakan Tuhan oleh karena karya-Nya yang mempesona. Sementara aku duduk di sana, aku merasakan kehadiran Allah dalam diriku.

Ia bertanya kepadaku,
“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkaulah Allah dan Juruselamat-ku!”

Kemudian Ia bertanya,
“Seandainya engkau cacat jasmani, apakah engkau akan tetap mengasihi Aku?”

Aku terpana. Aku memandangi tanganku, kakiku dan seluruh bagian tubuhku yang lain sambil memikirkan betapa banyak pekerjaan yang tidak akan dapat aku lakukan, pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku anggap biasa. Dan aku menjawab, “Akan sangat berat Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Senin, 26 Januari 2015