Tampilkan postingan dengan label Aksi Puasa Pembangunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi Puasa Pembangunan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

P E R T E M U A N I APP

Tema:   Allah melihat segala yang dijadikanNya itu sungguh amat baik
Bacaan: Kej 1:1-2:7
Tujuan: Menyadarkan peserta untuk mau peduli, mensyukuri dan memelihara ciptaanNya



GAGASAN POKOK
Sejak awal penciptaan Tuhan telah menjadikan alam semesta ciptaannya sebagai hal yang baik adanya. Semua diciptakan Allah dengan keserasian, keteraturan dan keindahannya. Allah ingin agar manusia menguasai semuanya dengan bijaksana. Kebijaksanaan manusia terletak pada sikap mau menerima ciptaan alam semesta ini dengan sukacita dan semangat memelihara, memanfaatkan dan tetap menjaga supaya tetap aman serta menjamin kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi.

Panggilan kita sebagai orang beriman untuk tetap setia mau menerima, mensyukuri dan tetap peduli untuk tetap ikut serta menghargai dan memelihara lingkungan secara baik dan bertanggungjawab. Kepedulian kita terhadap lingkungan pada jaman ini termasuk keutamaan yang jarang dilakukan oleh orang. Padahal dengan mencintai lingkungan orang dipanggil untuk hidup bersih, peduli akan kesehatan sehingga berusaha menciptakan hidup serasi dengan sekitarnya. Sebagai umat Allah yang berziarah di bumi ini kita tetap akan berusaha untuk menyelamatkan alam dengan berbagai usaha demi kehidupan bersama. Kita diajak untuk tetap membuat alam ini menjadi tempat yang baik dan penuh berkat karena menjadi tempat kita hidup setiap hari. 


P E R T E M U A N II APP

Tema: Menghargai Sesama sebagai Ciptaan Allah
Bacaan: 2 Samuel 12:1-9
Tujuannya: Menyadarkan peserta untuk menerima dan menghargai sesama sebagai ciptaan Allah


GAGASAN POKOK
Kesadaran manusia untuk menerima sesama seperti dirinya sendiri tetaplah menjadi hukum yang utama dalam Kitab Suci baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Manusia diciptakan secitra dengan Allah, maka manusia yang diciptakan lengkap dengan segala akal budi dan perasaannya pastilah akan mampu berpikir, bernalar dan merasa sebagai ciptaan yang lebih dari yang lain.
Berbagai persoalan intoleransi antar manusia membuat manusia tidak lagi mampu melihat bahwa sesama adalah seorang yang patut dihargai sebagaimana seorang pribadi ingin untuk diterima dan dihargai. Dalam kacamata dunia yang cenderung modern dan majemuk ini kita melihat banyak realitas yang menunjukkan bahwa manusia tidak lagi memandang sesama sebagai pribadi tetapi bahwa sebagai ancaman atau orang yang menghalangi rencana hidupnya untuk bebas.

Kekuasaan, jabatan, uang dan kesempatan membuat orang tega untuk mengorbankan sesama demi kepentingan pribadi. Orang lain seakan menjadi ancaman bagi kehidupannya. Kita diajak untuk menyadari kembali betapa sesama kita adalah teman seperjalanan dalam hidup di dunia ini. Lebih-lebih sesama yang miskin dan lemah hendaklah menjadi perhatian bersama untuk ditolong dan dilindungi hidupnya, bukan malah ditindas atau dibinasakan. Ketika rasa keadilan mulai tumpul di situlah benih merendahkan sesama mulai tumbuh. Realitas dunia atau Negara kita juga seringkali menunjukkan sikap yang tidak menghargai sesama yang kurang dan dianggap miskin dan terpinggirkan. Sebagai komunitas kita diajak untuk memiliki keprihatinan dan gerakan bersama untuk menghargai dan mengangkat derajat hidup setiap manusia.

P E R T E M U A N III APP

Tema: Membangun kebersamaan dalam komunitas berdasarkan karunia-karunia Allah
Bacaan: 1 Kor 12:4-11
Tujuan: Menyadarkan peserta akan karunia Allah yang dimiliki untuk dibagikan kepada sesama


GAGASAN POKOK

Komunitas dibangun dalam semangat bahwa setiap pribadi adalah bagian dari satu tubuh. Masing-masing pribadi yang memiliki berbagai karunia yang berbeda-beda akan memperkaya sebuah komunitas untuk berkembang sebagai sebuah kelompok kreatif yang siap untuk berkarya dalam kehidupan yang lebih luas. Tuhan mengaruniakan ROH kepada setiap orang. Roh yang sama memberikan rupa-rupa karunia kepada setiap orang dalam komunitas. Sumbangan setiap anggota komunitas untuk memberikan diri sesuai dengan karunia hidup yang ada pada mereka akan membuat komunitas siap dengan berbagai sumber daya manusia baik secara rohani maupun jasmani. Kebersamaan menjadi kunci utama bagi sebuah komunitas untuk mengalami pertobatan yang efektif. Komunitas yang hidup dan percaya akan didasari oleh semangat yang tinggi dari setiap anggota bahwa setiap karunia Allah selalu siap dibagikan dan dikembangkan untuk komunitas.

P E R T E M U A N IV APP

Tema: Membangun Kepedulian pribadi dalam kehidupan bermasyarakat
Bacaan: Mateus 5:13-16
Tujuan: Menyadarkan peserta untuk memiliki kepedulian terhadap keprihatinan masyarakat


GAGASAN POKOK

Gereja Katolik dalam semangat dan cirinya yang utama adalah MISIONER. Ini berarti bahwa gereja yang hidup di tengah masyarakat ini haruslah juga menjadi garam dan terang bagi dunia. Terlebih dalam masa prapaska ini, sebagai buah ungkapan tobat adalah adanya kepedulian Gereja bagi masyarakat sekitar khususnya yang miskin dan terpinggirkan. Menjadi garam dan terang dunia bukan sekedar hadir sebagai simbol tetapi menjadi tanda nyata dalam wujud sebuah gerakan yang bisa dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Gereja tidak boleh tawar, hanya sekedar hadir tanpa mampu berbuat sesuatu yang lebih baik. Gereja juga tidak bisa bersembunyi dalam rasa aman dirinya sendiri, yang hanya berhenti dan puas dengan ritus atau kegiatan rohani yang tidak pernah berbuah dalam hidup. Gereja bukan hanya symbol kesalehan yang dilihat orang lain di dalam masyarakat. Akhirnya sungguh Gereja dipanggil untuk menjadi pelaku Sabda, orang-orangnya hidup di tengah masyarakat dan berjuang demi keadaan masyarakat yang lebih baik.