Tampilkan postingan dengan label Lembaga Pelayanan Gereja SD - SMP Sanjaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembaga Pelayanan Gereja SD - SMP Sanjaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Apakah Sekolah Katolik Sungguh Katolik?

“Anakku pandai tapi tak percaya Tuhan”

Ini adalah keluhan seorang ibu di zaman ini, yang mungkin pernah juga Anda dengar. “Anakku pandai tapi sekarang ia jadi tak percaya Tuhan.” Anak perempuan ibu ini, yang berusia sekitar 14 tahun, termasuk anak yang kritis dan pandai luar biasa, sehingga di sekolahnya ia termasuk dalam kelas istimewa, yang dikhususkan untuk anak-anak super pandai. Namun kebanggaan sang ibu juga dibarengi dengan rasa prihatin yang sangat, sebab kepandaian anak itu diikuti dengan sikap penolakan akan Tuhan. Sang anak yang gemar membaca itu, telah melahap berbagai macam buku, baik tentang filosofi modern maupun tentang aneka tokoh dan peristiwa di dunia, yang menghantarnya kepada keyakinan itu. Sang ibu tak berdaya, dan mulai bertanya-tanya, apakah kesalahannya sehingga ia gagal mewariskan iman kepada anaknya? Siapakah yang bersalah dalam hal ini, sang ibu, ataukah sekolahnya, sehingga anak itu tidak lagi mengakui adanya Sang Pencipta?

Pentingnya pendidikan Katolik

Sejujurnya masalah ibu itu bukannya tidak mungkin, akan menjadi masalah umum bagi para orang tua, baik di masa ini maupun di waktu mendatang, jika baik pihak orang tua, sekolah maupun Gereja tidak segera menyikapinya dengan bijak. Pendidikan anak memang pertama-tama merupakan tanggung jawab orang tua, namun sekolah maupun Gereja, juga terlibat di dalamnya. Pentinglah bagi kita semua untuk memberikan perhatian kepada masalah pendidikan anak, karena kita semua bertanggung jawab untuk membekali generasi penerus kita dengan pengetahuan dan iman, agar mereka kelak dapat menjadi orang-orang yang tidak hanya pandai, namun juga berhati mulia sebagai anak-anak Tuhan. Anak-anak perlu diarahkan agar tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga; agar mereka tidak hanya mengejar kebaikan dalam kehidupan di dunia ini, tetapi juga di kehidupan yang akan datang. Pendeknya, anak-anak dididik agar menjadi semakin menyerupai Kristus.

Prinsip pendidikan Katolik


Mungkinkah Menerapkan Prinsip Pendidikan Katolik?

[Dari editor Katolisitas:

Sekolah Katolik…, riwayatmu dulu….

Dewasa ini sering terdengar selentingan, atau bahkan keluhan dari kalangan umat Katolik, bahwa sepertinya pendidikan Katolik di tanah air dewasa ini tidaklah seperti dulu. Di satu generasi sebelum zaman ini, bahkan beberapa generasi sebelumnya, hampir semua sekolah Katolik di tanah air terkenal baik mutunya dan banyak diminati. Kini, nampaknya tidak otomatis demikian. Terlepas dari ada banyak alasan yang ada di luar kompetensi kami di Katolisitas untuk membahasnya, namun ada satu hal yang memang dapat kembali kita renungkan bersama. Apakah sekolah-sekolah Katolik di tanah air sudah sungguh-sungguh mencerminkan pendidikan Katolik? Apakah yang dapat diusahakan agar pendidikan di sekolah-sekolah Katolik menjadi semakin “Katolik”?
Hal inilah yang hendak kami ketengahkan, agar menjadi bahan permenungan kita bersama. Salah seorang narasumber di situs Katolisitas, Maria Natalia Brownell MTS,  ibu dari 5 orang anak, yang kini tinggal di Wisconsin, Amerika Serikat, kami undang untuk membagikan pengalamannya lewat tulisan. Lia- demikian kami memanggilnya- dan suaminya Kyle Brownell, turut berperan aktif dalam peningkatan kualitas sebuah sekolah Katolik, yang bernama St. Adalbert Catholic School, di kota Rosholt, Wisconsin. Lia dan suaminya Kyle, adalah anggota Komite Pendidikan di sekolah tersebut. Bagi kami, pengalaman mereka sangatlah menarik. Mereka berdua, bersama dengan beberapa keluarga Katolik lainnya terpanggil untuk ‘membenahi’ sekolah tersebut yang di sekitar tahun 2009 tahun silam hampir ‘ditutup’, karena semakin berkurangnya jumlah murid. Namun kini setelah sekitar 6 tahun, jerih payah mereka mulai menghasilkan buah yang menggembirakan.  Menurut hasil test nasional Amerika (ITBS) yang baru-baru ini diadakan, prestasi sekolah tersebut mencapai tingkat yang sangat memuaskan. Para pelajar di sekolah itu berhasil masuk dalam golongan 4% ranking teratas dari seluruh pelajar di Amerika Serikat (dari kelas TK sampai kelas 8). Bahkan untuk Science, mereka termasuk golongan 2%, artinya hanya 7 dari 1000 sekolah di seluruh Amerika yang lebih baik di bidang Science, daripada sekolah St. Adalbert.
Namun di balik semua prestasi akademis itu, nampaknya ada suatu ‘mutiara’ yang jauh lebih berharga.  Yaitu, bagaimana sekolah itu menerapkan cara pendidikan Katolik dalam kehidupan belajar dan mengajar; antara para murid, guru, orang tua, pastor dan kepala sekolah. Dalam lingkungan yang saling menunjang, para guru membagikan ilmu mereka dan para pelajar menjadi semakin terdorong untuk mencapai prestasi sebaik-baiknya, sambil terus bertumbuh di dalam iman dan kecintaan mereka kepada Kristus dan Gereja Katolik. Artikel ini ditulis untuk para pendidik, terutama mereka yang menjalankan tugas sebagai guru di sekolah-sekolah Katolik. Semoga dapat berguna dan membangun semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan Katolik di sekolah- sekolah Katolik di tanah air. ]