Tampilkan postingan dengan label Adorasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adorasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2016

Menggapai Kekudusan Melalui Perbuatan Baik pada Sesama

Senin, 15 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Im 19:1-2.11-18; Mzm 19:8.9.10.15; Mat 25:31-46
Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
DALAM Injil hari ini Yesus Kristus menganugerahkan hidup abadi kepada mereka yang berbuat baik kepada sesama, yang oleh Yesus disamakan dengan Diri-Nya sendiri. Maka Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Kuyang paling hina ini., kami telah melakukannya untuk Aku.”

Senin, 23 November 2015

“Kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2)

ADORASI: Sakreamen Maha Kudus.
Penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus mempunyai dasar dari Kitab Suci, yaitu bagaimana kita ingin mengikuti teladan para gembala dan para majus yang menghormati Kristus yang telah lahir dan diam di tengah- tengah kita. Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Gereja dan Ekaristi, mengajarkan,
“… pandangan Gereja selalu terus terarah kepada Tuhannya, yang hadir dalam Sakramen di Altar, yang di dalamnya Gereja menemukan pernyataan sempurna akan kasih Tuhan yang tak terbatas.” (The Church and the Eucharist, 1)

…Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah… praktek sehari- hari yang penting dan menjadi sumber kekudusan yang tidak pernah habis… Adalah menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan Kristus, untuk bersandar pada-Nya seperti yang dilakukan oleh murid yang dikasihi-Nya, dan untuk merasakan kasih yang tak terbatas yang ada di dalam hati-Nya.” (The Church and the Eucharist)


Apakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah tindakan penyembahan Tuhan yang hadir dalam rupa Ekaristi yang telah dikonsekrasikan. Berpegang pada janji yang diberikan oleh Yesus dalam Perjamuan Terakhir, yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, maka pada oleh kuasa Roh Kudus, dalam doa konsekrasi yang diucapkan para imam, maka hosti diubah menjadi Tubuh Kristus, dan anggur menjadi Darah Yesus. Dengan demikian hosti yang telah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan itu menjadi Tubuh Kristus, Sang Allah Putera. Maka berdoa di hadapan Sakramen Ekaristi tersebut, sama dengan berdoa di hadapan Allah sendiri. Penghormatan terhadap Sakramen Maha Kudus ini dilakukan setiap kita berlutut ataupun memberikan hormat di hadapan tabernakel yang di dalamnya diletakkan sakramen Maha Kudus, menghormat sebelum menerima Ekaristi/ Komuni dalam Misa Kudus, ataupun pada saat Sakramen Maha Kudus ditahtakan.

Pentahtaan Sakramen Maha Kudus

Devosi ini diawali dengan pentahtaan Sakramen Maha Kudus. Imam atau diakon memindahkan hosti yang telah dikonsekrasikan ke dalam mostrans dan mentahtakannya di atas altar. Ketika hosti diletakkan di dalam mostrans, maka dikatakan sebagai pentahtaan Sakramen Maha Kudus.

Bagaimana cara merayakan Adorasi Ekaristi?

St. Alfonsus Liguori mengajar kan, “Dari semua devosi, penyem- bahan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang terbesar setelah sakramen- sakramen, dan sesuatu yang paling berkenan kepada Allah dan yang paling berguna bagi kita.”
Berikut ini adalah cara- cara untuk merayakan adorasi Ekaristi:

a) Pada saat Misa Kudus:
Kita berlutut pada saat imam mengangkat Sakramen Mahakudus tersebut sambil berkata, “inilah Anak Domba Allah….” Sebelum menerima Komuni, tunduklah dan berilah penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur.

b) Pada saat pentahtaan Sakramen Maha Kudus:
Pada paroki tertentu pentahtaan Sakramen Maha Kudus diadakan seminggu sekali, yang seringkali dilanjutkan dengan diperbolehkannya umat untuk datang dan menyembah Kristus dalam Sakramen Maha Kudus.

c) Devosi 40 jam:
Di beberapa paroki juga diadakan 40 jam Adorasi Ekaristi, diadakan setahun sekali.

d) “Perpetual Adoration”/ pentahtaan Sakramen Maha Kudus untuk adorasi tanpa putus selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu.

e) Mengunjungi/ singgah di gereja untuk memberikan penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam tabernakel.

f) “Benediction”: Setelah pentahtaan dan adorasi, maka Sakramen Maha Kudus digunakan untuk memberkati umat. Umumnya diiringi oleh lagu O Salutaris Hostia, danTatum Ergo.


g) Prosesi: perjalanan parade umat dan imam dalam memberi penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus.

Sejarah “Perpetual Adoration

Walaupun hal kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus telah diajarkan sejak jaman para Rasul, namun Adorasi tanpa henti baru dilakukan pada abad ke-6 yang dilakukan di katedral Lugo, Spanyol. Pada abad ke-12, St. Thomas Becket berdoa bagi Raja Henry II di hadapan “Tubuh Kristus yang maha agung” dan pada abad ke- 16 mulai dikenal devosi 40 jam di hadapan Sakramen Maha Kudus. Di abad ke- 19 di Perancis, adorasi tanpa henti dilakukan di dalam komunitas para biarawati kontemplatif. Akhirnya devosi ini tersebar ke seluruh paroki di seluruh dunia.

Apa yang dapat dilakukan pada saat kita melakukan Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dilakukan dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus:
a)Ucapkanlah doa sebelum Adorasi, seperti yang pernah dituliskan di sini, 

b) Berdoa dari kitab Mazmur atau membaca doa Ibadat Harian.
Kita dapat memilih Mazmur yang berisi pujian, ucapan syukur, permohonan ampun ataupun permohonan agar didengarkan Tuhan. Atau kita dapat pula mendoakan Ibadat Harian yang dibacakan oleh Gereja sepanjang tahun.

c) Mengulangi “Doa Yesus”
Mengulangi doa, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, yang berdosa ini.” Ulangilah terus, sampai hati dan pikiran anda tenang dan masuk dalam doa kontemplasi.

Adorasi tidak sama dengan devosi

Maka Adorasi yang artinya pe-nyembahan tidak sama persis dg devosi. Adorasi / penyembahan hanya diberikan kepada Kristus, sedangkan devosi yang merupakan praktek religius, dapat berupa pe nyembahan kepada Kristus maupun juga penghormatan kepada para orang kudus.

Melihat penjabaran di atas, maka meditasi/ merenungkan tentang Kristus, sabda-Nya dan peristiwa hidup-Nya dapat merupakan bagian dari Adorasi. Namun Adorasi sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yang lain, tidak harus meditasi.
Buah-buah yang diperoleh dari Adorasi adalah pertumbuhan rohani bagi mereka yang melaksanakannya, yang diperoleh karena rahmat dari Kristus sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa paroki- paroki yang rajin melakukan doa Adorasi, dan menyediakan “perpetual adoration” (Adorasi tanpa henti) akan diberkati Tuhan; panggilan imamat dari paroki tersebut akan meningkat, dan keluarga- keluarga dalam paroki tersebut dapat lebih bersatu dan bersemangat dalam melakukan tugas- tugas kerasulan.


Jadi, bagi pembaca katolisitas yang tinggal di paroki yang mempunyai kapel Adorasi, alangkah baiknya kita meluangkan waktu untuk setidaknya sekali seminggu melakukan 1 jam Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Alamilah kasih Tuhan dan alamilah juga buah-buah positifnya dalam hidup kita.