Tampilkan postingan dengan label Kategorial KOMKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategorial KOMKA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2016

Kaum Muda, Pergilah Keluar!

Kaum Muda, Pergilah Keluar!
[NN/Dok.Pribadi]
Pergilah Keluar: Paus Fransiskus dan kaum muda di WYD 2013.

Paus Fransiskus mengharapkan kaum muda Katolik jangan takut terjun ke berbagai bidang kehidupan di masyarakat. Bidang sosial politik, kemasyarakatan, bisnis, professional, dan kehidupan menggereja tersaji di depan mereka.

Pergilah, jangan takut, dan layanilah!” Seruan Paus Fransiskus kepada tiga jutaan orang muda Katolik dari seluruh dunia dalam World Youth Day di Rio de Janeiro, 28 Juli 2013, ini sesungguhnya merupakan perintah bagi segenap kaum muda dimana saja. Bapa Suci mendesak kaum muda agar tidak takut membawa Kristus ke dalam setiap bidang kehidupan, kepada kelompok-kelompok marginal, bahkan kepada mereka yang tampak sangat tidak peduli.

Rabu, 30 Desember 2015

Bandung Diocese Youth Day 2015: Komitmen Menolak Narkoba

PERGILAH, Kamu Diutus!”. Inilah tema yang diangkat dalam acara Bandung Diocese Youth Day (BDYD) yang diselenggarakan selama dua hari, tanggal 17-18 Oktober 2015 di Balarea Hall BTC dan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung.

Bandung Diocese Youth Day 2015: Kamu Mau Memberi?, Kamu Punya Apa?

Kenangan manis dari saudara-saudara kita di Bandung dapat menginspirasi OMK Banjarbaru yang di tahun 2016 ini Paroki yang kita cintai ini berulang tahun yang ke 40.

SAYA selalu percaya setiap perjumpaan adalah hadiah sederhana dari Tuhan, memperkenalkan saya pada orang-orang baru sekaligus dunia baru dan cara Tuhan membuka mata saya pada hal-hal yang tak terduga, penuh kejutan dan sejuta kebaikan di dalamnya. 

Selasa, 18 Agustus 2015

CIRI-CIRI WANITA YANG DISUKAI PRIA

1. Cakap/cekatan
Amsal 31 : 10,= Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata

2. Bisa dipercaya
Amsal 31 : 11, = Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan

Selasa, 11 Agustus 2015

Paus Fransiskus menjawab pertanyaan Gregorius dari Indonesia

image
Pada hari Jumat (7 Agustus 2015) kemarin, dalam audiensi umum di Aula St. Paulus (Roma), Bapa Suci Paus Fransiskus berkenan menerima kunjungan dari puluhan ribu Orang Muda Katolik yang berasal dari berbagai negara di dunia. Mereka tergabung dalam Gerakan Kaum Muda Untuk Ekaristi (Eucharistic Youth Movement).
Pada pertemuan itu, Bapa Suci Paus Fransiskus berkenan mendengar dan menjawab pertanyaan dari beberapa utusan 6 pemuda-pemudi dari berbagai negara, yakni Italia, Brasil, Taiwan, Prancis, Argentina, dan juga yang sangat menggembirakan ialah adanya utusan dari Indonesia untuk bertanya.
Gregorius dari Indonesia beroleh keistimewaan karena terpilih dari antara puluhan ribu pemuda-pemudi yang hadir saat itu, untuk mengajukan pertanyaan kepada Bapa Suci Paus Fransiskus.
Karena panjangnya durasi audiensi umum ini, tanya jawab dari para pemuda-pemudi negara lain dengan Paus Fransiskus dapat dibaca dalam artikel bahasa Inggris di website resmi Vatikan dan artikel terkait lainnya.
Berikut ini adalah kutipan tanya jawab antara Bapa Suci Paus Fransiskus dengan Gregorius dari Indonesia.
————————————————————
Gregorius – INDONESIA (dia berbicara kepada Bapa Suci Paus Fransiskus dalam bahasa Indonesia).

Senin, 29 Juni 2015

Orang Muda Katolik Mesti Membawa Musim Semi bagi Gereja

ORANG Muda Katolik adalah orang-orang yang diberkati seperti juga Yesus. Sejak usia 12 tahun , sebagai orang muda Yesus telah menemukan jati dirinya, bahwa hidupnya bersama Allah. Dan di usia 30 tahun, Yesus menetapkan langkah untuk menjadi orang yang diutus menggerakkan banyak orang.
Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Antonius Haryanto dalam misa pembukaan Purwokerto Diocese Youth Day (PDYD) 2015 di Gereja Katedral Kristus Raja, Keuskupan Purwokerto, Kamis (25/6/2015).
Karena itu, kata Romo Hary, orang muda hendaknya membawa musim semi bagi gereja, diberkati untuk berbagi.
Menjadi orang muda yang menggerakkan, lanjut Romo yang dikenal energik ini tidak perlu muluk-muluk. Banyak hal yang bisa dilakukan meski sederhana dan kecil namun bisa menggerakkan dan membantu banyak orang. Menjadi sahabat, mau berkorban bagi orang lain, mau dipecah dan membagi diri, menjadi misionaris bagi orang lain dan berbagai hal-hal sederhana itu adalah contoh sederhana.
Sama seperti Yesus yang menengadah ke langit, mengucap berkat lalu memecah-mecahkan roti serta memberikan kepada para muridnya supaya dibagi-bagikan kepada banyak orang. Demikian juga OMK harus melakukan hal yang sama.
“Ada harapan besar pada orang muda. Orang muda musim semi bagi gereja dan masyarakat. Kebangkitan besar telah mereka mulai. Ada fajar terbit dari orang-orang muda Purwokerto yang penuh semangat, energi dan mimpi besar. Ada kekompakan jaringan terbangun dan arah ke depan yang terus dirajut.” ujar Romo Hary memberi kesan atas PDYD 2015 kali ini.

Pleno Komkep KWI: Keluar dan Temukan OMK yang Hilang

(9/3/2015) OMKnet, Jakarta – “Demikianlah proses yang harus kita terapkan, yakni tidak hanya sekadar memberi orang muda sejumlah pengetahuan, tetapi juga membantu mereka menghayati dan bahkan memilikinya. Dengan demikian, orang muda dapat bersaksi tentang apa yang mereka hayati.” Demikian homili Ketua Komkep KWI, Mgr. John Philip Saklil pada Misa Pembukaan, Selasa (3/3/2015). Monsinyur juga menyampaikan tiga poin penting mengenai pendampingan orang muda. Pertama, mengajak dan mendengar dari orang muda. Kedua, menjadi fasilitator. Ketiga, membiarkan orang muda bersaksi. “Buruk baiknya mereka, itulah wajah Gereja. Ketidakmampuan mereka mengaktualisasikan dirinya, adalah ketidakmampuan gereja,” kata Monsinyur mengakhiri homilinya.
OMK yang Hilang
Homili Monsinyur John Philip Saklil tersebut menghantar 51 pendamping OMK dari 35 Keuskupan di Indonesia untuk mengikuti Rapat Pleno Komkep KWI yang berlangsung dari tanggal 3 – 6 Maret 2015 di Rumah Doa Guadalupe, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Minggu, 28 Juni 2015

OMK Yang Militan: Bagaimana Membentuknya ?

Tugas pengurus komunitas Anda ialah menawarkan dan berusaha menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat dan bermutu, menampilkan diri semenarik mungkin agar makin banyak orang tertarik, menawarkan (menyebarkan informasi) dan kemudahan keterjangkuan informasi. Berdoa dan pengolahan spiritualitas pribadi dan pengetahuan iman dari para pengurusnya pun perlu. Artinya, alih-alih Anda kecewa karena jumlahnya sedikit, lebih baik meningkatkan mutu penyelenggaraan acara dan pembinaan dari orang-orang yang sudah ada sekarang. Jika mereka merasakan manfaat dan mutu hidup dan iman mereka meningkat, maka semoga berita mengenai keunggulan komunitas Anda akan terdengar ke mana-mana.Semoga

Senin, 15 Juni 2015

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (1)

1. Pengantar

Orang Muda Katolik (OMK) Indonesia sebagaimana orang muda pada umumnya ialah penentu masa depan. Gelora semangat orang muda menjadikan orang  yang tidak muda lagi, memiliki berpengharapan. Jika Gereja dan bangsa memiliki orang muda yang bersemangat, penuh kasih, bertanggung jawab, berwatak luhur, beriman, maka sebagian besar dari kita tentu sepakat bahwa kita memiliki masa depan yang cerah, bahwa Gereja kita bukan calon museum belaka, dan bangsa kita bukan calon negara gagal. Tanggungjawab kita-lah untuk menentukan masa depan itu, sebagaimana kita dididik oleh para pendahulu kita sampai menjadi seperti sekarang ini. OMK memerlukan bimbingan dari para pendamping.  Para pembina OMK mesti mewujudkan syukur  atas pendidikan yang mereka terima dengan ikut bertanggungjawab mendidik orang muda demi masa depan. Maka kita mesti mengenal ciri pokok orang muda, dan mengenal apa kompetensi menjadi pendamping OMK.

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (2)

2. Tiga Ciri Orang Muda: Jati Diri, Ketidakpastian, Hubungan-Hubungan
Jati Diri: OMK dipanggil untuk menjadi dirinya sendiri – yaitu menjadi  diri sendiri seperti yang dikehendaki Tuhan.  Hanya dengan mengetahui jati dirinya sesuai yang dikehendaki Tuhan, maka OMK bisa membangun dunia dan handal. Meminjam kata-kata Santa Katharina dari Siena (1347-1380), “Be who God meant you to be and you will set the world on fire”.

Namun, orang muda masa kini, tak terkecuali di tempat kita, sedang mengalami ketimpangan biologis-psikososial. Kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan telah memperpanjang masa muda mereka, dan menunda masa “mentas” mereka. Di alam pedesaan tradisional pemuda dinyatakan lulus dari remaja ke dewasa dengan pernikahan dini. Sekarang orangtua diharapkan untuk merawat orang dewasa muda  lebih lama lagi. Sementara itu perbaikan diet dan kondisi lingkungan yang lebih baik telah mengakibatkan pubertas awal. Jadi, anak-anak secara biologis siap untuk menikah lebih awal daripada di masa lalu, namun kini mereka harus menunda pernikahan karena alasan psikososial. Ada ketimpangan antara perkembangan biologis yang lebih cepat dan kematangan psikososial yang lebih lambat. Pengenalan Jati diri menjadi makin susah dalam situasi ini.

Ketidakpastian: Dari sisi sosio-ekonomi,  Umat Katolik Indonesia terbagi menjadi dua: sekitar separuh menikmati kesejahteraan yang membuat mereka gampang meraih apa yang mereka inginkan, dan separuh masih berjuang untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.  Bagi Orang Muda Katolik (OMK) dari kalangan kaum beruntung, sering ada beberapa pilihan pekerjaan yang bermanfaat bagi mereka. Bagi OMK yang dari kalangan kurang beruntung, hampir tidak ada pilihan sama sekali. Setengah pengangguran atau pindah-pindah kerja (bekerja tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari) mengalami peningkatan jumlah. Bagi kebanyakan OMK, wajah mereka menampakkan ketidakpastian masa depan.

Hubungan-Hubungan: Sementara OMK masih bergulat dengan jati diri yang tak kunjung jelas, dan berjuang mendapatkan pekerjaan, maka OMK harus belajar membangun relasi antar-pribadi dalam keluarga, teman sebaya dan menemukan jodoh atau panggilan hidup (mau pacaran dan menikah, atau melajang, atau selibat demi Kerajaan Allah?). Suatu relasi-relasi yang membelit mereka dan bisa membingungkan jika tidak didampingi secara bijaksana. Mereka membutuhkan relasi yang bermakna, bukan hanya “just for fun” maupun main-main

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (3)

3. Dunia Kita
OMK, seperti sebagian dari kita juga, hidup dalam beberapa dunia. Tidak aneh, karena kita ini multidimensional. Sekularisasi yang baik membawa di dalamnya cara pandang buruk sekularistik: penyembahan dewa-dewi ilmu pengetahuan (idols of science), teknologi dan kemajuan wahana elektronika, pengejaran tiada henti atas pertumbuhan ekonomi, agama konsumeristis dengan “katedral-katedral shopping mall”, proses peningkatan budaya, bukan saja gaya hidup impor dan perilaku, atau jeans dan KFC yang tampak fisik, namun juga penerimaan tanpa sadar atas nilai-nilai konsumeristis dalam budaya instan dan budaya “klik copy-paste”.

Sekarang, giliran kita berpikir. Bagaikan permainan bola sodok, manakah bola putih  yang ketika kita sodok, maka akan mengenai bola-bola lainnya? Manakah yang pertama-tama kita bidik, agar OMK bisa memecahkan aneka masalah mereka sekaligus membuat mereka beranjak dewasa?  Saya setuju dengan pandangan bahwa semua persoalan mesti kita dekati mula-mula dengan Spiritualitas. Namun spiritualitas yang mana? Tentu saja Spiritualitas Katolik/Kristiani, dengan mengindahkan spiritualitas lokal kita yang khas sebagai bangsa Indonesia atau Asia Tenggara, atau khas Asia. Karena Yesus orang Asia dan para nabi pun tiada beda dengan-Nya, ialah orang Asia.

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (4)

4. Spiritualitas Dialog
Gereja mengharapkan OMK tangguh imannya dan tanggap–peduli terhadap keprihatinan masyarakat. ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan warga masyarakat khususnya yang miskin dan menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan OMK pula ” (bdk GS 1). Jika kunci yang bisa membuka pembinaan OMK ialah spiritualitas, maka spiritualitas dialog merupakan jalan utama menuju pembinaan OMK di berbagai pembinaan.

Sekarang, dialog merupakan cara satu-satunya bagi perdamaian dan bahkan bagi pembentukan karakter manusia. Karena itu, dengan memperhatikan ciri-ciri dan konteks di atas, kita hendaknya mengembangkan spiritualitas dialog sebagai dasar dari pembinaan OMK.

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (5)

5. Jago Kandang Saja ?
Ada ungkapan mengatakan: ”OMK itu jago kandang saja. Beraninya berkokok di kandang sendiri seperti ayam jantan kate, tidak berani bergaul dengan kelompok di luar kelompoknya sendiri.” Benarkah? Ada benarnya walaupun tidak sepenuhnya. Jika demikian, prinsip-prinsip kaderisasi macam apa yang dibutuhkan untuk menjawab harapan OMK yang beriman mendalam dan tangguh serta berani terlibat dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia yang plural ini?
Saya menawarkan spiritualitas dialog sebagai landasan kaderisasi. Spiritualitas yang pada dasarnya tidak asing bagi OMK, yaitu yang mengalir dari dialog Allah sendiri dengan manusia, melalui Yesus Kristus Putera-Nya dalam Roh Kudus. OMK sendiri harus mengalami hidup nyata yang dibimbing oleh-Nya, mengalami Allah dalam kehidupan. Mereka mesti diajak refleksi untuk menemukan makna iman atau nilai kehidupan tertentu dalam peristiwa dan perjumpaan dengan sesama yang beraneka ragam.

Setelah prinsip dasar spiritualitas, barulah menyusul aneka kemampuan lainnya untuk diberikan dalam kursus kaderisasi. Namun demikian, kaderisasi sejati bukan pada kursus kaderisasi yang hanya empat-lima hari atau satu minggu atau satu bulan. Tidak demikian. Kaderisasi sejati ada dalam pendampingan OMK terus menerus sampai mereka mentas. Biarkan mereka mengalami sendiri dinamika hidup itu, kemudian didampingi dengan mengajak mereka merefleksikan pengalaman dalam Tuhan, lalu beraksi kembali dan seterusnya. Inilah prinsip ”see-judge-act” yang menjadi pokok pendampingan dan kaderisasi. Sebenarnya, inti kaderisasi sederhana saja, yaitu penemuan jatidiri yang dikasihi dan dikehendaki Allah untuk berbuat nyata dalam kehidupan yaitu mau berdialog dengan realitas kemiskinan, dialog dengan realitas budaya-budaya dan dialog dengan agama-agama. Intinya, OMK yang berbuat kebaikan konkret.

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (6)

6. Pendamping yang Tangguh
Di balik sosok OMK yang tangguh dan berkiprah dalam masyarakat, ada pendamping yang tangguh pula. Tak mungkin seorang pemain sepakbola berprestasi tanpa seorang pelatih yang bertangan dingin dan berpengalaman. Maka yang diperlukan sekarang ialah para pendamping yang sadar akan jati dirinya sebagai pendamping, mengalami kasih Allah sendiri dan mengasihi OMK. Justru sekarang, fokus kami Komisi Kepemudan KWI ialah para pendamping yang kami cita-citakan: memiliki pengalaman rohani yang dalam, mau belajar mengembangkan diri, memiliki hati dan cinta yang besar untuk OMK yang didampingi, serta menjadi teladan dalam menggereja dan memasyarakat. Para pendamping itu pertama-tama ialah orangtua dalam keluarga. Berikutnya ialah para pendamping yang ditugasi oleh paroki serta keuskupan. Sedangkan kami membantu melengkapi dengan pendidikan para pendamping di tingkat regio dan keuskupan.

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal? (7 & 8)


















7. Kemampuan Pembina:
Penggerak (Animator), Pendamping(Chaplain), Pembina/Pemimpin (Leader)
7.1 Penggerak (Animator)
Kemampuan yang dituntut dari seorang penggerak adalah:

Sabtu, 13 Juni 2015

APA ITU CINTA?

Banyak orang menggunakan kata "cinta" secara keliru. Ketika seseorang mengatakan kepada yang lain "Aku cinta padamu, " seringkali yang dimaksudkannya ialah "Kamu membuat aku merasa bahagia." Sikap seperti ini adalah sikap yang mementingkan diri sendiri, bukan cinta sesungguhnya. Sebenarnya yang dikatakannya ialah, "Aku cinta diriku, dan kamu membuatku bahagia, jadi tinggallah bersamaku."

Jika demikian apa itu sesungguhnya cinta? Coba camkan ini: