Pembahasan
- Maaf, cara instan tidak berkhasiat!
- Dosa melawan kemurnian yang dapat menjadikan seseorang menjadi hamba dosa
- Menyadari kelemahan dan konsekuensi dosa adalah langkah awal perbaikan
- Rahmat Allah menjadi kunci pembebasan
- Berlatih kebajikan kemurnian
- Komunitas sebagai pendukung
- Bersama Yesus, maka kita dimerdekakan
Maaf, cara instan tidak berkhasiat!
Dewasa ini ada banyak cara ditawarkan, agar orang yang gemuk dapat mengurangi berat badannya. Tak jarang cara yang dianjurkan sangat ekstrim, mulai dari diet yang berlebihan, minum obat pengurus badan, sampai operasi sedot lemak. Namun, dari semua cara untuk menguruskan badan, tidak ada cara yang lebih efektif dari dua hal ini: mengatur pola makan dan olahraga yang teratur. Walaupun semua orang tahu dua cara yang paling efektif ini, namun banyak orang cenderung untuk tidak mau melaksanakannya, karena tidak mau repot-repot. Umumnya orang berkeinginan untuk tidak mengadakan perubahan pola hidup, tetap makan seenaknya, tidak perlu olahraga, namun badan tetap ideal. Singkatnya, tak usah berubah, namun segera mencapai hasil memuaskan. Tak mengherankan bukan, sebab orang cenderung mau yang serba instan!
Nampaknya, hal serupa terjadi dalam spiritualitas. Banyak orang yang terjerat dosa ketidakmurnian selama bertahun-tahun, sehingga telah berakar di dalam hati serta telah menjadi kebiasaan, ingin lepas dari dosa yang berbahaya ini. Namun demikian, mereka menginginkan cara yang instan dan tidak mau repot untuk mengubah pola hidup. Padahal untuk dapat lepas dari dosa yang melawan kemurnian, apalagi yang telah mengakar dalam hati, tidak ada cara yang instan. Kelemaham ini namun harus disikapi dengan cara yang sebenarnya banyak orang sudah tahu, yaitu: dengan terus bergantung pada rahmat Allah yang mengalir dalam doa dan sakramen, tekun dalam membaca Firman Tuhan, menjauhi kesempatan untuk berbuat dosa, dan bertumbuh dalam komunitas. Tentu saja, semua hal ini bukanlah cara yang instan, namun ini adalah cara yang telah terbukti berhasil, sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan sejumlah orang kudus dalam sejarah Gereja.












