Tampilkan postingan dengan label Adven. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adven. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Bagaimana Melepaskan Diri dari Dosa Ketidakmurnian yang Telah Menjadi Kebiasaan?

Maaf, cara instan tidak berkhasiat!

Dewasa ini ada banyak cara ditawarkan, agar orang yang gemuk dapat mengurangi berat badannya. Tak jarang cara yang dianjurkan sangat ekstrim, mulai dari diet yang berlebihan, minum obat pengurus badan, sampai operasi sedot lemak. Namun, dari semua cara untuk menguruskan badan, tidak ada cara yang lebih efektif dari dua hal ini: mengatur pola makan dan olahraga yang teratur. Walaupun semua orang tahu dua cara yang paling efektif ini, namun banyak orang cenderung untuk tidak mau melaksanakannya, karena tidak mau repot-repot. Umumnya orang berkeinginan untuk tidak mengadakan perubahan pola hidup, tetap makan seenaknya, tidak perlu olahraga, namun badan tetap ideal. Singkatnya, tak usah berubah, namun segera mencapai hasil memuaskan. Tak mengherankan bukan, sebab orang cenderung mau yang serba instan!
Nampaknya, hal serupa terjadi dalam spiritualitas. Banyak orang yang terjerat dosa ketidakmurnian selama bertahun-tahun, sehingga telah berakar di dalam hati serta telah menjadi kebiasaan, ingin lepas dari dosa yang berbahaya ini. Namun demikian, mereka menginginkan cara yang instan dan tidak mau repot untuk mengubah pola hidup. Padahal untuk dapat lepas dari dosa yang melawan kemurnian, apalagi yang telah mengakar dalam hati, tidak ada cara yang instan. Kelemaham ini namun harus disikapi dengan cara yang sebenarnya banyak orang sudah tahu, yaitu: dengan terus bergantung pada rahmat Allah yang mengalir dalam doa dan sakramen, tekun dalam membaca Firman Tuhan, menjauhi kesempatan untuk berbuat dosa, dan bertumbuh dalam komunitas. Tentu saja, semua hal ini bukanlah cara yang instan, namun ini adalah cara yang telah terbukti berhasil, sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan sejumlah orang kudus dalam sejarah Gereja.

Bersiaplah memberi yang terbaik: diri kita sendiri


Sumber gambar: Sumber gambar: https://theconservativetreehouse.files.wordpress.com/2012/12/advent-wreath-3.jpg
[Hari Minggu Keempat Adven: Mi 5:1-4; Mzm 80: 2-19; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-44]
Hari Natal telah di ambang pintu. Di hari Minggu ke-empat Adven ini, kita semakin disadarkan untuk bersiap-siap menyambut kedatangan-Nya. Mungkin kita bertanya-tanya kepada diri sendiri, kiranya, bagaimana cara yang terbaik untuk menyambut Kristus? Apakah persembahan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada-Nya?
Sabda Tuhan dalam Bacaan Kitab Suci hari ini membantu kita menemukan jawabannya. Dalam surat kepada jemaat Ibrani, dikatakan bahwa Allah Bapa tidak menghendaki korban hewan bakaran menurut ketentuan hukum Taurat, namun berkenan pada persembahan tubuh Yesus Kristus, yang dikehendaki-Nya sebagai persembahan yang menguduskan kita (lih. Ibr 10:8-10). Oleh karena itu, untuk menyambut Kristus yang adalah Kepala kita, kita sebagai anggota Tubuh-Nya, juga dipanggil untuk menyatukan persembahan diri kita dengan persembahan tubuh Kristus. Bagaimana caranya menyatukan persembahan diri kita dengan persembahan Kristus yang dilakukan-Nya sekali untuk selama-lamanya itu?






Sabtu, 19 Desember 2015

Bersukacitalah, Tuhan sudah dekat!

Sumber gambar: https://theconservativetreehouse.files.wordpress.com/2012/12/advent-wreath-3.jpg
[Hari Minggu Ketiga Adven: Zef 3:14-18; Yes 12; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18]
Di hari menjelang Natal tahun ini, salah seorang kerabat kami dari luar kota akan datang mengunjungi kami selama beberapa hari. Ah, betapa kami sudah mulai bersiap-siap  menyambutnya! Kami sudah merencanakan acara-acara kami bersamanya, dan mempersiapkan tempat di rumah kami. Betapa dari hal-hal kecil ini, kami menyadari, bahwa persiapan yang jauh lebih penting harus diadakan, untuk menyambut Kristus sang Tamu Agung kita. Walau kita telah selalu menyambut-Nya dalam Ekaristi sepanjang tahun, namun hari Natal adalah hari yang dikhususkan untuk memperingati kedatangan-Nya ke dunia di hari kelahiran-Nya sekitar 2000 tahun yang lalu. Sebab kedatangan Sang Mesias itu sudah dinanti-nantikan oleh umat pilihan-Nya selama berabad-abad, dan telah dinubuatkan oleh para nabi. Maka dengan menantikan Dia saat ini, kita sesungguhnya mengambil bagian dalam penantian umat Allah, yang telah terjadi dahulu kala, sebelum kedatangan-Nya. Selain itu, kita pun tetap menantikan Dia yang akan datang kembali di akhir zaman. Masa Adven merupakan masa yang mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia secara keseluruhan adalah masa penantian, akan perjumpaan kita dengan Kristus yang lebih penuh, saat kita beralih dari dunia ini. Dan karena Yang kita nantikan adalah Dia yang mengasihi kita dan kita kasihi, maka kita bersuka cita!

Bersiaplah memberi yang terbaik: diri kita sendiri


Sumber gambar: Sumber gambar: https://theconservativetreehouse.files.wordpress.com/2012/12/advent-wreath-3.jpg
[Hari Minggu Keempat Adven: Mi 5:1-4; Mzm 80: 2-19; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-44]
Hari Natal telah di ambang pintu. Di hari Minggu ke-empat Adven ini, kita semakin disadarkan untuk bersiap-siap menyambut kedatangan-Nya. Mungkin kita bertanya-tanya kepada diri sendiri, kiranya, bagaimana cara yang terbaik untuk menyambut Kristus? Apakah persembahan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada-Nya?
Sabda Tuhan dalam Bacaan Kitab Suci hari ini membantu kita menemukan jawabannya. Dalam surat kepada jemaat Ibrani, dikatakan bahwa Allah Bapa tidak menghendaki korban hewan bakaran menurut ketentuan hukum Taurat, namun berkenan pada persembahan tubuh Yesus Kristus, yang dikehendaki-Nya sebagai persembahan yang menguduskan kita (lih. Ibr 10:8-10). Oleh karena itu, untuk menyambut Kristus yang adalah Kepala kita, kita sebagai anggota Tubuh-Nya, juga dipanggil untuk menyatukan persembahan diri kita dengan persembahan tubuh Kristus. Bagaimana caranya menyatukan persembahan diri kita dengan persembahan Kristus yang dilakukan-Nya sekali untuk selama-lamanya itu?

Persamaan dan Perbedaan Masa Adven dengan Prapaskah

Masa Adven dan Prapaskah menggunakan warna liturgi yang sama, yaitu ungu. Mengapa dalam Masa Prapaskah dilakukan puasa dan pantang, sedangkan pada masa Adven tidak? Mengapa Masa Adven hanya empat minggu, sedangkan Masa Prapaskah 40 hari?

Pertama, warna ungu berarti pertobatan. Secara tradisional, Gereja selalu mendahului hari-hari pesta agung dengan hari-hari pertobatan. Jadi, memang ada persamaan antara Masa Adven dan Masa Prapaskah, yaitu sebagai masa pertobatan. “Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi” (2002) menyatakan bahwa Adven adalah masa “pertobatan yang sering dimunculkan oleh liturgi masa ini dengan mengutip para nabi, khususnya Yohanes Pembaptis, ‘Bertobatlah karena kerajaan surga sudah dekat’ (Mat 3:20)” (No 96). Pertobatan di sini diartikan penyesalan atas dosa, pertobatan hati, dan pertobatan perilaku dilakukan sebagai persiapan untuk merayakan pesta-pesta besar. Lewat pertobatan, termasuk Sakramen Rekonsiliasi, kita mempersiapkan palungan hati kita untuk menerima kelahiran Yesus sekali lagi di dalam diri kita.

Mengapa Tahun Baru Liturgi Dimulai Dengan Masa Adven?


Mengapa kalender liturgi Gereja dimulai dengan masa Adven dan bukannya 1 Januari, padahal tahun yang kita gunakan ini disebut tahun Masehi? Mengapa awal tahun liturgi kita bukan dimulai dengan Kebangkitan Tuhan? Mo­hon pencerahan!

Maria Sylvia Dwilianawati, Situbondo – Jawa Timur

Kalender yang kita gunakan memang disebut kalender Masehi, tetapi tidak berarti Gereja harus mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh kalender itu. Peletakkan awal Tahun Liturgi Gereja pada masa Adven mengikuti sebuah teologi yang bertujuan mengajak seluruh anggota Gereja untuk menghidupi kembali masa penantian akan kedatangan penebus, seperti yang dialami oleh umat Israel. Masa penantian ini dijiwai dengan semangat pertobatan untuk menyambut kedatangan Penebus. Dengan demikian, Tahun Liturgi mengikuti proses penebusan, yang mulai dengan Inkarnasi sampai kemudian berpuncak pada Misteri Paskah Kebangkitan. Ibarat musik, kalender liturgi kita mengalami crescendo, dengan titik puncaknya pada saat Kebangkitan Kristus.

Pusat iman kita memang adalah kebangkitan. Tetapi tidak perlu bahwa Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, karena pengaturan yang sekarang itu lebih tepat, yaitu kebangkitan dijadikan sebagai titik puncak (klimaks) perjalanan liturgis sepanjang tahun. Kebangkitan inilah yang kemudian mewarnai seluruh perayaan sepanjang tahun. Jika Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, maka masa penantian akan anti-klimaks.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM - HidupKatolik.com

Mengapa Minggu Adven ke-3 Disebut Minggu Gaudete? Kenapa Lilinnya Kok Warna Pink?


Mengapa Minggu Adven ketiga disebut Minggu Gaudete? Apa maknanya? Apakah ada yang khas dalam hari Minggu ini? Apakah ada hal khusus yang harus dilakukan pada Minggu Gaudete tersebut?

Marcellus Leosaputra, Surabaya

Pertama, Minggu Adven ketiga disebut Minggu Gaudete atau Minggu Bersukacitalah. Nama ”bersukacitalah” ini diambil dari antifon pembukaan pada Minggu Adven ketiga tersebut, yaitu ”Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp 4:4.5). Ini adalah perintah agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.

Minggu ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan matiraga itu, Gereja memberikan ”break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita. Break di tengah ini juga dilakukan pada Masa Prapaskah, yaitu pada Minggu Prapaskah keempat (Minggu Laetare). Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat bahwa Masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka, perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan tantangan hanya ketika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak 5:7-10).

Kedua, untuk mengungkapkan kegembiraan ini, warna liturgi yang digunakan hari ini bukanlah ungu tetapi merah muda (pink/rose). Demikian juga, warna lilin yang dinyalakan Minggu ini di lingkaran Adven ialah merah muda atau merah. Warna merah muda melambangkan bahwa penderitaan zaman ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM - HidupKatolik.com

Senin, 07 Desember 2015

Sabda Hidup

Screen Shot 2014-06-18 at 8.20.43 AM
Bacaan
Yes 35:1-10, Mzm 85:9ab-10,11-14, Luk 5:17-26
Bacaan Injil: Luk 5:17-26.
17 Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. 18 Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. 19 Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. 20 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” 21 Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” 22 Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? 23 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? 24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” ?berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:”Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 25 Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. 26 Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

Minggu Adven II/C, 6 Desember 2015: Luk 3:1-6 , Menyongsong Dia

DALAM  Luk 3:1-6 dikisahkan bagaimana Yohanes Pembaptis mewartakan baptisan tobat. Petikan Injil ini dibacakan pada hari Minggu Adven II tahun C bersama dengan Bar 5:1-9 yang menyerukan agar orang menanggalkan pakaian berkabung dan berbesar hati karena mereka akan dekat kembali dengan Allah.

MINGGU ADVEN II/CII/2015

Bar 5:1-9 Fil 1:4-6.8-11 Luk 3:1-6
PENGANTAR 
Ketiga Bacaan Kitab Suci Hari Minggu Adven II ini, yakni Kitab Barukh, Surat Paulus kepada umat di Filipi, dan Injil Lukas menyampaikan kabar gembira keselamatan yang diberikan Allah kepada kita. Namun disertai tiga pesan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi, apabila kita sungguh ingin diselamatkan.
HOMILI
Nabi Barukh mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercatat menjelang hari Kristus”. Dan Johanes Pembaptis dalam Injil Lukas berseru : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven ini.


Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Sepuluh Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Adven

1. "Persiapan untuk Natal” pertama yang terekam dalam sejarah ditemukan dalam Sinode Zaragoza (Spanyol) pada tahun 380 M. Sinode ini mendeklarasikan bahwa semua orang Kristen yang sudah dibaptis hendaknya hadir di Gereja dari tanggal 17 Desember sampai 25 Desember. Jika kita menghitung waktunya, maka persiapan ini hanyalah 9 hari sebelum Natal. Masa persiapan ini bukan merupakan sebuah masa Adven yang penuh seperti sekarang tetapi ini adalah permulaan dari sejarah Adven.

2. Bapa Gereja St. Sesarius dari Arles (502-542) dilaporkan sebagai orang pertama yang menyampaikan homili mengenai Adven.

3. Sinode Macon di daerah Gaul (Prancis) pada tahun 581 adalah saksi teguh pertama kita mengenai suatu masa yang kita sebut masa Adven. Sinode ini menyatakan bahwa norma liturgis untuk Masa Pertobatan dilakukan sejak tanggal 11 November hingga 24 Desember (sekitar 40 hari). Hubungan yang dibuat di sini antara Adven dan Masa Pertobatan (Lent/Prapaskah) menunjukkan hubungan mengapa warna pertobatan yaitu ungu menjadi warna yang umum dijumpai baik pada masa Adven ataupun Lent (Masa Pertobatan/Prapaskah).

Minggu Adven II

"Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."

Mg Adven II : Yes 40:1-5.9-11; 2Ptr 3:8-14; Mrk 1:1-8

Mempersiapkan kedatangan atau kunjungan pejabat tinggi pada umumnya orang sungguh mempersiapkan diri sebaik mungkin, sehingga kunjungan atau kedatangan pejabat tinggi tersebut mengesan bagi siapapun. Hal yang sama juga terjadi dalam diri orang-orang yang mempersiapkan diri untuk suatu acara penting seperti perkawinan atau tahbisan imamat. Persiapan yang dilakukan antara lain: kebersihan lingkungan, dan bagi yang akan menikah atau ditahbiskan imam kiranya mempersiapkan diri dengan mawas diri sambil bertanya-tanya pada diri sendiri apakah dirinya layak atau mampu hidup berkeluarga sebagai suami-isteri atau menjadi imam, yang harus melayani umat Allah dengan rendah hati. Pada Minggu Adven II hari ini kepada kita dihadapkan tokoh Yohanes Pembaptis, yang sering juga disebut sebagai bentara Penyelamat Dunia, orang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat Dunia.  Ia juga dikenal sebagai nabi besar dan terkenal serta disanjung-sanjung, namun dengan rendah hati ia menanggapi sanjungan para pengikutnya dengan berkata "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Marilah kita yang mempersiapkan diri kedatangan Penyelamat Dunia, Pesta Natal, meneladan semangat Yohanes Pembaptis.  

Senin, 30 November 2015

Persiapkan hati menjelang datangnya Tuhan!

Pengertian Adven

Kata “Adven” berasal dari kata Latin ‘adventus, advenio‘ (bahasa Yunani-nya parousia), artinya ‘kedatangan’. Maka fokus masa Adven adalah kedatangan Mesias, yaitu Yesus Kristus. Maka doa- doa penyembahan dan bacaan Kitab Suci tidak saja mempersiapkan kita secara rohani akan kedatangan-Nya (untuk memperingati kedatangan-Nya yang pertama) tetapi juga mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua. Itulah sebabnya bacaan Kitab Suci pada masa Adven diambil dari Perjanjian Lama yang mengharapkan kedatangan Mesias dan Perjanjian Baru yang mengisahkan kedatangan Kristus untuk menghakimi semua bangsa. Demikian juga, tentang Yohanes Pembaptis, sang perintis yang membuka jalan bagi kedatangan Kristus Sang Mesias.
Masa Adven adalah masa empat minggu sebelum hari Natal, ketika Gereja merayakan kedatangan Kristus yang pertama dan mengharapkan kedatangan-Nya yang kedua. Hari pertama Adven dapat jatuh antara tanggal 27 November sampai 3 Desember.

Mengapa Gereja Katolik Memiliki Masa Adven?


Mengapa kita orang Katolik mempunyai Masa Adven, sedangkan saudara-saudari Protestan tidak? Mengapa secara liturgis dibedakan antara persiapan Adven dari Minggu I sampai tanggal 16 Desember dan mulai tanggal 17 Desember sampai 24 Desember? Apa alasan di balik pemisahan itu? Mengapa bacaan pertama selalu diambil dari Kitab Nabi Yesaya, padahal ada banyak nabi lainnya? 

Pertama, sejak abad-abad pertama sejarah Gereja, bisa dibuktikan bahwa selalu ada masa persiapan untuk menyongsong perayaan kelahiran Yesus di Betlehem. Persiapan itu dilakukan baik dalam perayaan-perayaan liturgis maupun dalam hidup rohani pribadi. Persiapan perayaan itu diarahkan kepada dua tujuan, yaitu persiapan untuk menyongsong pesta Natal tanggal 25 Desember dan perwujudan masa penantian kedatangan Yesus Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman. Dua arti Masa Adven ini diketahui dari catatan-catatan historis abad IV. Dua arti inilah yang juga dipertahankan oleh Konsili Vatikan II dalam pembaruan liturgi. Sangat mungkin Gereja-gereja Protestan tidak memiliki Masa Adven karena mereka kurang memperhatikan latar belakang sejarah dan ingin tampil berbeda dari Gereja induknya, yaitu Gereja Katolik.

Kedua, Masa Adven terdiri atas empat minggu dengan tema utama ”penantian”. Dua arti Adven di atas itulah yang melatarbelakangi pembedaan perayaan liturgis. Liturgi dari Minggu pertama sampai dengan tanggal 16 Desember lebih diarahkan kepada penantian eskatologis, yaitu kedatangan Yesus Kristus yang kedua, yaitu sebagai Hakim Akhir Zaman. Bacaan-bacaan liturgis diarahkan kepada tema ini. Sedangkan liturgi dari tanggal 17 Desember sampai dengan 24 Desember, baik dalam Perayaan Ekaristi maupun dalam Ibadat Harian, semua rumusan diarahkan secara lebih jelas kepada persiapan menyambut perayaan kelahiran Yesus di Betlehem. Bisa dikatakan bahwa bagian kedua ini adalah persiapan intensif jangka pendek untuk merayakan pesta kelahiran Tuhan.

Dua arti Adven di atas menunjukkan bahwa Masa Adven merangkum keseluruhan kekayaan teologis misteri kedatangan Tuhan di dalam sejarah sampai pada pemenuhannya. Kita bisa membedakan dua dimensi kehidupan para pengikut Kristus, yaitu dimensi eskatologis dan dimensi historis-sakramental.

Ketiga, dimensi eskatologis Masa Adven menunjukkan bahwa keselamatan yang telah kita terima dari Allah akan dibawa ke kesempurnaan pada akhir zaman (1 Ptr 1:5). Seluruh hidup manusia adalah wadah pelaksanaan janji-janji Allah yang akan terpenuhi pada ”hari Tuhan” (1 Kor 1:8; 5:5). Dimensi eskatologis ini mengingatkan kita akan tugas misioner Gereja untuk mewujudkan keselamatan itu sepenuhnya sampai kedatangan Kristus sekali lagi sebagai Hakim dan Penyelamat. Dimensi historis-sakramental Masa Adven merujuk pada Yesus sebagai perwujudan konkret keselamatan yang dinantikan. Tuhan yang dinantikan adalah Tuhan yang telah datang sepenuhnya dalam diri Yesus dari Nazaret. Hal ini menunjukkan betapa konkretnya penyelamatan manusia. Penyelamatan ini menyangkut manusia dalam keseluruhan dirinya dan juga seluruh umat manusia. Kristus sungguh datang dalam daging kita dan Kristus inilah yang akan menampakkan diri-Nya pada akhir zaman (Kis 1:11).

Keempat, kurang tepat kalau dikatakan bahwa bacaan pertama selalu diambil dari Kitab Nabi Yesaya. Yang benar ialah bahwa sebagian besar bacaan pertama dari periode pertama dan khususnya selama sepuluh hari pada awal Masa Adven, diambil dari Kitab Nabi Yesaya. Alasannya ialah karena Kitab Nabi Yesaya secara kuat menampilkan pengharapan besar akan kedatangan Mesias. Kitab Nabi Yesaya sungguh meneguhkan hati dan memberikan penghiburan bagi bangsa terpilih selama berabad-abad ketika mereka berjuang untuk tetap setia menantikan janji Allah. Pada sepuluh hari pada awal Masa Adven ini, bacaan pertama dari Yesaya menentukan tema Injil yang diambil. Ini adalah kebalikan dari praktik biasanya, yaitu bahwa bacaan Injil-lah yang dijadikan rujukan untuk menentukan bacaan pertama. Dengan mengambil bacaan dari Kitab Nabi Yesaya, Gereja membentuk kesatuan warta pengharapan abadi bagi manusia dari segala zaman.