Senin, 20 April 2015

Menjadi Berkah untuk Orang Lain

“Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.” (Kis 3, 14)
BEGITULAH  kata-kata Petrus dan Yohanes di depan orang banyak. Mereka telah menolak Yesus, seorang Pribadi yang Kudus dan Benar dan telah menyalibkan-Nya. Mereka malahan meminta agar Pilatus melepaskan Barabas, seorang pemberontak, penyamun, perampok dan pembunuh. Mereka menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiah.
Pribadi pembunuh tentu tidak hanya terbatas dalam diri Barabas, tetapi juga terwujud dalam pribadi yang lain. Bulan yang lalu telah terjadi peristiwa pembunuhan di Ajibarang dengan tembakan. Sampai sekarang belum diketahui siapa pembunuh orang itu.
Pembunuhan tidak hanya terjadi pada zaman dahulu, tetapi juga banyak terjadi pada zaman ini.

Sabda Hidup: Senin, 20 April 2015

HARI biasa Pekan III Paskah
warna liturgi Putih
Bacaan: Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29 BcO Why. 7:1-17
Bacaan Injil Yoh. 6:22-29.
22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. 25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”
26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” 29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Renungan:
Dalam beberapa berita kita melihat bahwa saat ada pembagian zakat atau sembako banyak orang datang. Mereka rela antri bahkan berdesak-desakan agar mendapat jatah itu. Tidak jarang ada yang sampai terluka bahkan meninggal. Dan sering yang datang bukan hanya orang yang tak mampu, mereka yang berada pun sering ikut bergabung.
Di masa Yesus begitu juga. Orang-orang berusaha mencari Dia karena, “..kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Mereka mengejar Dia karena roti yang telah digandakan Yesus. Mereka mau nyaman dengan apa yang dilakukan Yesus. Yesus mengajak mereka untuk bekerja demi makanan yang bertahan sampai hidup kekal yaitu percaya pada Dia yang diutus Allah (Bdk Yoh 6:27.29).
Percaya pada Dia yang diutus Allah mewujud dalam keseriusan kita dalam bekerja. Pekerjaan yang kita lakukan di bawah semangat perutusanNya akan bertahan sampai hidup kekal. Kita tidak hanya mengejar pembagian zakat dan sembako. Kita patut bekerja dengan sungguh-sungguh dan selaras dengan perutusanNya.
Kontemplasi: Bayangkan orang berdesak-desakan menanti pembagian zakat dan sembako. Telusurilah kata hatimu dengan pemandangan itu.
Refleksi: Apa artinya percaya pada Dia yang diutus Allah dalam kaitannya dengan pekerjaanmu?
Doa: Tuhan semoga aku hidup selaras dengan perutusan PuteraMu dan sungguh-sungguh berjuang, bukan hanya mengharapkan uluran kasih orang. Amin.
Perutusan: Aku akan menegaskan pilihanku mendatangiNya.

BERITA GEREJA 18 & 19 APRIL 2015 Hari Minggu Paskah III

I. Pesta Santo–Santa Minggu ini:

II. Misa Harian dalam pekan ini seperti biasa 06:00 AM
Hari Senin, 17:30PM Misa dan Devosi Keluarga Kudus

Petugas Misa Minggu yang akan datang:

Hari Sabtu 25 April 17:30 PM
Koor: Komunitas Martha & Paulus
Organis : Bpk Riwi
Lektor: Sdri. Christa Inggriani, Bpk. Kristian Teguh
Pemazmur: Bpk. Kalveryanus T
Kolkt & Persmb: Komunitas Martha & Paulus
Putra-Putri Altar: Vincensius Ama, Arsenius P, Maria Caecilia, Veronica Gheorgzenia

Hari Minggu, 26 April 08:00 AM
Koor: Komunitas Agustinus
Organis : Sdri. Grace Dwi Arganita Pasaribu
Lektor: Bpk & Ibu Hasmar Tarigan
Pemazmur: Sdri. Yulita Juliani
Kolkt & Persmb: Komunitas Agustinus
Putra-Putri Altar: Damian P, David Vincent, Alodia Diasmara, Verena Septriani

III. Sakramen Perkawinan
Akan Menikah Menurut Tata Cara Gereja Katolik
1.      Pasangan Ignatius Yosep Aditya Widyasmara Putra Bapak Albertus Siddik Wienarso dan Ibu Elisabeth Lilik Margiati dengan Katharina Herlin Tyassari Putri Bapak Suripto dan Ibu Kristiana Endang Trismiati, keduanya dari Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Pengumuman Kedua.
Barang siapa mengetahui adanya halangan-halangan bagi pasangan di ats harap melapor kepada Pastor Paroki.

IV. Pengumuman Tambahan
1.   Pengumuman Kursus Persiapan Perkawinan bagi pasangan-pasangan yang akan menikah di Gereja harap mengikuti KPP di Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Yang akan diadakan pada Hari Jumat-Minggu, 24-26 April 2015. Tempat: Ruang Rapat Pastoran
Jumat: 17:00-19:00PM
Sabtu: 17:00-21:00PM
Minggu: 10:00-12:00AM
2.   Bulan Mei 2015 merupakan bulan Maria/Bulan Liturgi Nasional. Selama 4 minggu dalam bulan Mei, umat di komunitas, stasi, kelompok kategorial dimohon agar terlibat dan ikut serta dalam pendalaman iman yang membahas ARDAS Keuskupan Banjarmasin. Adapun tema dari pertemuan sebagai berikut:
Pertemuan I: Gereja yang bervisi
Pertemuan II: Gereja yang bermisi
Pertemuan III: Gereja yang berstrategi
Pertemuan IV: Gereja yang berproses
3.      Pendaftaran Siswa Baru TK, SD, SMP Sanjaya untuk Gelombang I dimulai tanggal 20-23 April 2015 (Pembelian formulir pendaftaran). Untuk ketentuan-ketentuan lain dapat ditanyakan langsung di tempat pendaftaran sekolah TK, SD, SMP Sanjaya.
4.      Telah terbit majalah Ventimiglia edisi terbaru dimohon Bapak/Ibu Ketua Komunitas dapat mengambil di depan Gereja setelah Misa.

5.      Pertemuan WKRI Banjarbaru akan diadakan pada Hari Selasa, 21 April 2015 pkl 16:00PM di ruang serba guna Paroki, dimohon kehadiran segenap anggota.

Senin, 13 April 2015

Sabda Hidup: Senin, 13 April 2015


PERINGATAN St. Martinus
warna liturgi Putih

Bacaan: Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Why. 1:1-20

Bacaan Injil Yoh. 3:1-8.
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Renungan:
Nikodemus adalah seorang yang berpengalaman dalam ajaran iman. Ketika bertemu dengan Yesus ia mendapat pengajaran tentang kelahiran kembali, kelahiran dari air dan Roh. Sering teks ini untuk menerangkan soal baptis. Saya mencoba menangkap makna kelahiran itu.
Seseorang yang baru lahir adalah pribadi yang masih kosong dan murni. Selain sebagai warga baru di dunia, pengetahuan dan segala sesuatu dari dirinya sama sekali kosong. Isi akan sangat tergantung pada orang-orang di sekitarnya yang akan mengisi dia. Maka rasa saya kelahiran baru adalah proses pengosongan diri agar mampu menerima isian.
Nikodemus yang telah penuh dengan pengetahuan dan pengalaman perlu mengosongkan diri agar bisa menerima ajaran Yesus Kristus. Bersama dengan ajaranNya ia mengenal dan mungkin untuk memasuki Kerajaan Allah. Kita pun perlu sering mengosongkan diri kita agar sanggup menerima masukan dari Allah.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu hadir di hadapan Yesus. Yesus mengajakmu untuk menerima kelahiran baru.

Refleksi:
Apa arti kelahiran baru bagimu?

Doa:
Tuhan, semoga aku mampu lahir secara baru dari air dan RohMu. Semoga aku pun layak memasuki gerbang kerajaanMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengosongkan diri untuk menangkap ajaranNya. -nasp-

Ketakutan


“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, ‘Damai sejahtera bagi kamu!” (YOH 20, 19)
PARA murid merasa takut, sehingga mereka berkumpul dalam satu ruang dengan pintu yang terkunci. Mereka takut kepada orang Yahudi. Jangan-jangan mereka juga akan ditangkap dan mengalami penderitaan seperti halnya dialami oleh Guru mereka.
Ketakutan membuat mereka bersembunyi, tertutup dan menghindar dari banyak orang. Ketakutan telah membatasi ruang gerak seseorang dan perjumpaan dengan orang lain. Ketakutan sesungguhnya tidak hanya dialami oleh para murid, tetapi juga menjadi pengalaman banyak orang. Anak-anak takut ditinggalkan orang tuanya.
Para siswa takut saat menghadapi ujian akhir atau ujian nasional. Orang muda takut diputus dan ditinggalkan pacarnya. Orang tua takut tidak mampu memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Sekelompok masyarakat takut terhadap ancaman tanah longsor, banjir atau angin puting beliung.
Para pejalan takut dengan maraknya begal di jalanan. Ketakutan telah membuat seseorang defensif, membentengi diri dengan berbagai senjata, pagar atau tembok rumah yang tinggi-tinggi. Banyak orang memelihara anjing untuk menjaga rumah atau mengupah seseorang untuk menjaga keamanan.
Ketakutan dirasakan oleh anggota keluarga atau dirasakan oleh para karyawan di tempat kerja. Orang takut usahanya gagal, pekerjaannya tertunda atau proyeknya diambil alih orang lain. Banyak orang takut terhadap orang lain, rekan kerjanya dan bahkan teman atau sahabatnya. Banyak orang takut terhadap hal-hal yang terjadi pada hari ini; ada pula orang yang takut akan masa lalunya.
Masa lalu yang selalu datang menghantui, mengejar dan membuat gelisah. Ada pula orang yang takut akan masa depannya yang suram dan tidak jelas. Ketakutan dialami banyak orang pada zaman ini.
Ketakutan menjauhkan rasa aman, tenteram dan damai. Ketakutan telah menghilangkan kegembiraan dan sukacita dalam diri banyak orang. Ketakutan macam apa yang pernah dan sedang aku alami saat ini?

Lahir Baru dalam Roh Kudus


Senin, 13 April 2015: Pekan Paskah II
Kis 4:23-31; Mzm 2:1-3,4-6,7-9; Yoh 3:1-8
KATA Yesus kepada Nikodemus, “Sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”.
Kita sering menilai negatif Nikodemus yang menjumpai Yesus pada waktu malam. Bagiku, semua yang dilakukan Nikodemus justru positif dan istimewa. Ia mempunyai iman yang reflektif dan devotif kepada Yesus sebagai Sabda Allah di keheningan malam.
Nikodemus tak bisa tidur karena Yesus begitu ia mendengar tentang mujizat Yesus dan ajaran-Nya yang istimewa. Itulah sebabnya, ia putuskan untuk menjumpai Yesus secara pribadi, jauh dari keramaian dan sorotan publik. Nikodemus sebagai pemimpin rohani Yahudi dan anggota Sanhedrin tahu, apa yang harus dia lakukan. Ia seorang guru bangsa Israel. Ia juga seorang Farisi yang saleh yang mengikuti hukum Musa secara sempurna.
Mengapa ia datang menjumpai Yesus pada waktu malam? Dalam refleksiku kusadari ternyata, oh, ternyata, aku bisa belajar darinya tentang ini. Ia melakukan itu karena ia tahu bahwa waktu malam merupakan waktu terbaik untuk bercakap-cakap dengan Yesus, waktu terbaik untuk belajar dari Yesus secara privat tanpa gangguan. Para rabi Yahudi juga menyatakan bahwa waktu terbaik untuk belajar hukum adalah malam hari setelah kesibukan karya selesai dan semua orang beristirahat. Ketika Nikodemus berjumpa Yesus, ia menyapa-Nya sebagai Rabi Yahudi, seorang Guru Sabda dan Hukum Allah dan ia percaya bahwa semua tindakan dan perkataan-Nya pasti berasal dari Allah.
Dalam percakapannya dengan Yesus, Nikodemus mengungkapkan pertanyaan mendasar dan pokok tentang hukum Musa. Ia bertanya, bagaimana orang bisa mengalami Alla dan masuk dalam Kerajaan-Nya? Yesus menjawab, “Untuk itu, orang harus dilahirkan kembali, agar dapat melihat Allah!” Bagi Yesus, lahir baru tidaklah bersifat fisik melainkan bersifat rohani yang harus terjadi secara sempurna, seakar-akarnya, dan itu datang dari Allah, anugerah Allah.
Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa kelahiran baru ini sangat penting jika orang mau masuk dalam Kerajaan Allah. Yesus menerangkan bahwa perubahan itu hanya dapat terjadi melalui karya dan daya Roh Kudus. Kelahiran baru dalam Roh Kudus ini sangat nyata dan bisa kita alami dalam kehidupan ini, laksana angin yang dapat dirasakan dan didengar meski kita tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang.
Menurut Yesus, kelahiran baru itu bersifat rohani yakni masuk dalam kehidupan yang diubah oleh daya kuasa Allah. Kelahiran itu membawa kita masuk ke dalam pengalaman relasional dengan Allah sendiri, kita sebagai putri-putra angkat Allah sendiri (bdk. Rom 6:4; 8:10-11). Itu hanya mungkin bagi kita bila kita dibaptis dalam Kristus dan menerima anugerah Roh Kudus. Kelahiran itu membawa kita pada Kerajaan Alla yang penuh kebenaran, damai sejahtera dan sukacita (lih Rom 14:17).
Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita dilahirkan kembali dalam Roh Kudus yang membuat kita masuk dalam komunitas yang menyembah, menghormati dan menaati Yesus Kristus. Kita masuk dalam kehidupan baru yang dari dari Yesus Kristus sendiri, kehidupan, kasih, damai, sukacita, dan kemerdekaan kita yang abadi dari segala dosa, penindasan dan kehancuran.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau menawarkan kepada kami hidup baru yang berlimpah dan daya untuk hidup sebagai putri-putra Bapa Surgawi. Anugerahilah kami sukacita dan kebebasan berkat kelahiran baru dan hidup berlimpah yang telah Kau menangkan bagi kami melalui sakramen baptis. Baharuilah pula iman kami untuk menerima, taat, dan menyembah Dikau dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kini dan selamanya. Amin.

Kebangkitan Orang Mati


Pada Hari Raya Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Dalam Syahadat Para Rasul, kita menyatakan percaya akan “kebangkitan badan.” Dapatkah anda menjelaskannya?
~ seorang pembaca di Franconia

Dalam Injil, Yesus telah menubuatkan tiga kali bahwa Ia akan ditangkap oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, menderita sengsara, dijatuhi hukuman mati dan disalibkan; namun demikian, Ia juga menubuatkan bahwa Ia akan “bangkit” pada “hari ketiga” (bdk. Mat 16:21, 17:22-23, 20:17-19). Nubuatnya itu terbukti menjadi kenyatakan. Pagi-pagi benar pada hari Minggu Paskah, ketika Maria Magdalena dan wanita-wanita lain, St. Petrus dan St. Yohanes pergi ke makam, mereka mendapati makam kosong. Malaikat mewartakan, “Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.” Yesus telah bangkit tubuh dan jiwa-Nya dari kematian.

Kemudian, Yesus menampakkan diri kepada para rasul dan mereka yang lainnya. Ia muncul dan menghilang secara tiba-tiba. Ia dapat dipeluk (Mat 28:9). Ia menunjukkan bekas luka-luka di tangan-Nya dan di lambung-Nya kepada para rasul, Ia mempersilakan St. Thomas untuk mencucukkan jari-jarinya. (Yoh 20:19 dst). Ia tidak selalu dapat dikenali dengan mudah, seperti dalam penampakkan-Nya kepada Maria Magdalena (Yoh 20:11 dst) ataupun dalam penampakkan-Nya kepada para rasul di danau Tiberias (Yoh 21:1 dst). Yesus juga makan bersama para rasul-Nya (Yoh 21:9 dst, Luk 24:36 dst) dan juga bersama murid-murid yang lain (Luk 23:13). Dalam semua penampakan itu, Yesus menegaskan bahwa Ia bukanlah hantu. Yesus mengatakan, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” (Luk 24:39).

Karena itu, melalui kebangkitan, Kristus memiliki eksistensi yang sama sekali telah diubah atau dimuliakan. Dimuliakan artinya bahwa tubuh Yesus sepenuhnya dan secara sempurna telah diubah ke dalam rupa tubuh yang mulia, ke dalam tubuh rohani tanpa kehilangan kemanusiaan-Nya.

Kita percaya bahwa kita juga akan beroleh bagian dalam kemuliaan ini. Ketika kita meninggal dunia, jiwa kita berdiri di hadapan Tuhan dalam pengadilan khusus, dan kita harus mempertanggung-jawabkan hidup kita - baik dan jahat, hukuman dan ganjaran. Tuhan kemudian akan menjadi hakim apakah jiwa kita layak ke surga, neraka atau api penyucian.

Pada akhir zaman - pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan pengadilan umum - kita juga akan beroleh bagian dalam kebangkitan badan. Pada saat itu, Kristus akan mengubah tubuh orang-orang benar dan menjadikannya serupa dengan Tubuh-Nya Sendiri yang mulia. Mengenai hal ini, St. Paulus mengatakan, “Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: 'Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?' Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” (1 Kor 15:35-36, 42-44).

Tubuh kaum beriman akan diubah serupa dengan Tubuh Kristus yang bangkit. Menurut tradisi, teologi menggambarkan tubuh yang mulia dan sempurna ini memiliki karakteristik: identitas, keutuhan dan keabadian. Lagipula, tubuh yang mulia dan sempurna ini juga memiliki empat “kualitas transenden” : “tak dapat rusak”, atau bebas dari kerusakan fisik, kematian, penyakit, dan rasa sakit; “semarak” atau bebas dari cacat dan dikaruniai keindahan dan cahaya; “leluasa” di mana jiwa menggerakkan tubuh dan adanya kebebasan gerak; dan “halus”, di mana tubuh sepenuhnya dirohanikan di bawah kuasa jiwa. Katekismus mengajarkan, “Sesudah pengadilan umum, semua orang yang benar, yang dimuliakan dengan jiwa dan badannya, akan memerintah bersama Kristus sampai selama-lamanya.” (no. 1042).

Bagaimana dengan tubuh dari jiwa-jiwa yang dikutuk di neraka? Tubuh-tubuh mereka akan memiliki identitas, keutuhan dan keabadian, tetapi tidak memiliki keempat kualitas transenden. Mereka memiliki kondisi yang memungkinkan mereka menderita hukuman abadi di neraka, tetapi tidak memiliki kemuliaan Kristus yang dikaruniakan bagi mereka yang ada di surga.
Namun demikian, haruslah kita mengakui bahwa hal “kemuliaan” ini jauh melampaui pengertian dan bahkan bayangan kita. Kita percaya akan hal ini karena Kristus menjanjikan kebangkitan badan: “Saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh 5:28-29). Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.