Kamis, 23 Juli 2015

BERITA GEREJA 11 & 12 JULI 2015 Hari Minggu Biasa XV

I. Pesta Santo–Santa Minggu ini:

II. Misa Harian dalam pekan ini seperti biasa 06:00 AM
Hari Senin, 17:30PM Misa dan Devosi Keluarga Kudus

Petugas Misa Minggu yang akan datang:

Hari Sabtu 18 Juli 17:30 PM
Koor: Komunitas Maria
Organis: Sdr. Rudi
Lektor: Bpk Ibu Y. Dwi Santoso
Pemazmur: Bpk Albertus Yusi Hartanto
Kolekte & Persembahan: Komunitas Maria
Putra-Putri Altar: Nicolas Andre, Francisco Edward, Angela Meysa dan Marcela Liauw

Hari Minggu, 19 Juli 08:00 AM
Koor: PS Santa SIsilia
Organis: Bpk. Riwi
Lektor: Bpk & Ibu Hasmar Tarigan
Kolekte & Persembahan: Komunitas Agustinus
Pemazmur: Sdri. Yulita Juliani
Putra-Putri Altar: Pratama Bagus, Ignatio Chreisma, Gerald Ergi dan Obed Gamaliel.

III. Sakramen Perkawinan
Sdr. Nikolaus Klaus putra dari pasangan Bpk. Martinus Milo dan Ibu Wilhemina Imak dengan Sdri. Maria Kurnia Putri, anak dari pasangan Bpk. Herman Gregorius Pranus dan Ibu Regina Lilut, kedua calon mempelai berasal dari Paroki Banjarbaru.
Pengumuman pertama
Barang siapa mengetahui adanya halangan-halangan bagi pasangan di atas harap melapor kepada Pastor Paroki.

IV. Pengumuman Tambahan
1.  Baptisan bayi dilaksanakan pada minggu ke 3 bulan JULI 2015. Formulir dapat diambil di Sekretariat Paroki pada jam kerja.
2.  Anggota Misdinar diharapkan hadir dalam latihan setiap hari Minggu, jam 16:00 PM di Gereja.
3.  Pengurus Dewan Paroki, para Ketua Komunitas dan Undangan mengadakan rapat pembahasan draft pemilihan Dewan Pastoral Paroki pada Hari Minggu 12 Juli 2015. Jam 19:30 di Ruang Rapat Pastoral.



St. Brigitta dari Swedia, 23 Juli


St. Birgitta dari Swedia

Brigitta dilahirkan di Swedia pada tahun 1303. Sejak kanak-kanak, ia memiliki devosi yang kuat kepada Sengsara Yesus. Ketika usianya sepuluh tahun, tampak olehnya Yesus di salib dan ia mendengar Yesus berkata,

“Pandanglah aku, puteri-Ku.”
“Siapakah yang memperlakukan Engkau seperti ini?” tangis Brigitta kecil.
“Mereka yang melecehkan Aku dan menolak kasih-Ku untuk mereka,” jawab Yesus.

Sejak itu Brigitta berupaya untuk mencegah orang menghina dan menyakiti hati Yesus.

Ketika usianya empatbelas tahun, Brigitta dinikahkan dengan Ulf yang berusia delapan belas tahun. Sama seperti Brigitta, Ulf juga memiliki semangat untuk melayani Tuhan. Pasangan tersebut memiliki delapan orang anak, salah seorang di antaranya adalah St. Katarina dari Swedia. Brigitta dan Ulf  bekerja dalam istana kerajaan Swedia. Brigitta adalah pengiring ratu. Brigitta berusaha membantu Raja Magnus dan Ratu Blanche untuk hidup lebih baik, walaupun pada umumnya mereka tidak mendengarkan nasehatnya.

Sepanjang hidupnya, Brigitta mendapat anugerah penampakan-penampakan yang luar biasa dan pesan-pesan khusus dari Tuhan. Karena ketaatannya kepada Tuhan, Brigitta menemui banyak pemimpin serta orang-orang penting di Gereja. Dengan rendah hati dijelaskannya apa yang Tuhan kehendaki dari mereka. Setelah suaminya meninggal dunia, Brigitta menanggalkan semua pakaian mewahnya. Ia hidup sebagai seorang biarawati yang miskin. Di kemudian hari, Brigitta membentuk Ordo Sang Penebus yang juga dikenal sebagai Ordo Brigittin. Ia masih tetap melakukan segala kesibukannya, bepergian ke berbagai tempat untuk melakukan perbuatan baik. Dan melalui segala aktivitasnya itu, Yesus terus mengungkapkan banyak rahasia kepadanya. Semuanya itu diterima Brigitta tanpa sedikit pun rasa bangga atau menyombongkan diri.

Menjelang akhir hidupnya, Brigitta berziarah ke Tanah Suci. Di tempat-tempat ziarah di sana, ia mendapat penampakan-penampakan tentang apa yang telah Yesus katakan dan lakukan di tempat-tempat itu. Semua wahyu yang disampaikan kepada Brigitta tentang Sengsara Yesus diterbitkan setelah kematiannya. St. Brigitta wafat di Roma pada tanggal 23 Juli 1373. Ia dinyatakan santa oleh Paus Bonifasius IX pada tahun 1391.

Semoga Yesus Kristus, Sang Penebus dunia, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk ambil bagian dalam sengsara-Nya melalui semangat tobat yang mendalam.

St. Perawan Maria dari Gunung Karmel, 16 Juli


Santa Perawan Maria dari Gunung KarmelGunung Karmel adalah sebuah gunung di dataran Galilea. Gunung Karmel menjadi terkenal pada jaman nabi Elia, nabi yang hidup sebelum Kristus dilahirkan. Elia mengadakan mukjizat di sana. Kitab Pertama Raja-Raja bab 18 mengisahkan bagaimana Elia dengan gagah berani menghadapi 450 nabi dewa palsu Baal. Melalui doa-doanya, Elia mendatangkan mukjizat dari Tuhan untuk membuktikan bahwa allah Elia-lah yang sungguh Allah yang benar.

Berabad-abad kemudian, sekitar tahun 1200-an, sekelompok biarawan Eropa mulai tinggal di Gunung Karmel. Mereka menghormati Maria Bunda Allah sebagai Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Oleh karenanya, orang mulai menyebut mereka sebagai para biarawan dari Santa Perawan Maria Gunung Karmel. Itulah asal mula terbentuknya Ordo Karmel. Paus Honorius III menyetujui regula (= peraturan) Ordo Karmel pada tahun 1226. St. Simon Stock, yang berkebangsaan Inggris, menjadi Superior (= pembesar biara) seluruh Karmel pada tahun 1247. Simon berbuat banyak untuk memperluas ordonya serta menyesuaikannya dengan perkembangan jaman dengan menjadikan Ordo Dominikan dan Ordo Fransiskan sebagai contoh.

Pada tanggal 16 Juli 1251, Bunda Maria menampakkan diri kepada St. Simon serta memberinya skapulir coklat. Bunda Maria menjanjikan perlindungannya kepada mereka semua yang mengenakan jubah Karmel yang terberkati. Banyaknya mukjizat yang terjadi merupakan bukti kebenaran kata-kata Sang Perawan. St. Pius X adalah paus yang bertahta dari tahun 1903 hingga tahun 1914. Ia mengatakan bahwa kaum awam juga dapat memperoleh berkat yang sama jika mereka mengenakan medali skapulir. Medali tersebut bergambar Santa Perawan dari Skapulir di satu sisinya dan Hati Kudus di sisi lainnya. Simon Stock wafat di Bordeaux, Perancis pada tahun 1265.

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Lukas 2:19)

St. Benediktus, 11 Juli


St. BenediktusSanto Benediktus dilahirkan pada tahun 480. Ia berasal dari keluarga Italia yang kaya. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma. Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Ia menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun lamanya. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya dengan bayangan seorang perempuan cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari perempuan itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh dengan goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.

Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Benediktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.

Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah St. Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam ketrampilan dalam berbagai lapangan pekerjaan.

St. Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

“Tempatkan Kristus di atas segala-galanya.” ~ Peraturan St. Benediktus

Humor Jesuit (15): Seperti Minum Obat


SEORANG frater Jesuit yang mengajar di sebuah SMA pernah menanyakan pendapat murid-muridnya arti homili untuk mereka.
Ada yang menjawab bahwa itu adalah penjelasan tentang Injil. Lainnya mengatakan bahwa homili adalah pencerahan atas suatu perayaan tertentu. 
Kemudian ada juga yang berpendapat homili adalah kesempatan untuk menekankan ajaran moral atau doktrin Gereja.
Lalu ada satu jawaban siswa yang mencengangkan guru muda tersebut, “Homili itu seperti minum obat.”
Frater itu meminta siswa tersebut menjabarkan jawabannya.
Siswa tersebut menjelaskan, “Karena kita tahu bahwa itu akan membuat kita menjadi lebih baik tetapi sekaligus juga membuat kita mengantuk.”

Perjumpaan Yang Meneguhkan dan Membawa Sukacita


22 Juli KWI R

MARIA Magdalena merasakan kehilangan yang sangat besar saat Yesus wafat. Yesus adalah pribadi yang sangat ia kagumi; karena berkat kasihNya, haluan hidupnya berubah, dari seorang pendosa menjadi seorang pengikut Yesus yang setia.
Kerinduannya yang mendalam akan Yesus, membawanya untuk datang mengunjungi makamNya. Saat menemukan makam yang kosong, hatinya remuk redam dan ia terpuruk dalam kesedihan sehingga tidak mengenali kehadiran Yesus. Barulah ketika Yesus memanggil namanya secara pribadi, ia mengenali suaraNya. Duka berganti sukacita, dan dengan penuh semangat ia mewartakan kebangkitanNya kepada murid yang lain.
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan hambatan dan kesulitan, hendaknya kita senantiasa mengarahkan hati dan pandangan kita kepada Yesus. Cari Dia dengan penuh kerinduan, bina relasi yang akrab dan erat denganNya, agar kita peka terhadap sapaanNya dan mengalami kasihNya yang memberi kekuatan dan semangat baru sehingga kita tidak tenggelam ditelan gelombang kehidupan.
Walau badai mengamuk di sekitar kita, bersama Dia dan bersatu dengan Dia, kita akan menemukan sukacita dan kedamaian sejati. Mari wartakan kasihNya kepada setiap orang yang kita jumpai agar semakin banyak orang mengenalNya dan mengalami keselamatan.