Senin, 01 Juni 2015

Hidup Kudus, Berbuah Kasih Sepanjang Masa

SAAT dibaptis, Allah telah menganugerahkan rahmat kekudusan kepada kita semua dan kita dipanggil untuk menjaga dan mempertahankannya.
Sadari bahwa tubuh kita merupakan Bait KudusNya, tempat bersemayam Roh Allah. Perkenankan Allah merajai hati kita. Jadikan hati kita sebagai rumah doa sejati dengan selalu berjuang untuk membersihkan dan membaharui ruang hati agar terbebas dari segala belenggu amarah, kebencian dan dendam sehingga benih iman dapat bertumbuh, berkembang subur dan menghasilkan buah rohani secara berlimpah. Dengan demikian kita dapat menghasilkan buah-buah kasih di setiap saat, dalam segala kondisi, di sepanjang masa.
Mari kejar dan raih kekudusan dalam hidup kita, sehingga kita mampu untuk menebarkan kasih, kebajikan dan sukacita kepada banyak orang di sepanjang hidup kita.

Mengemudi dan Alkohol

SUATU saat seorang pastor jesuit mengalami tabrakan dengan mobil lain. Ternyata mobil tersebut dikendarai oleh pastor Fransiskan.
“Ini salah saya,” masing-masing dari mereka mengakui kesalahan – hal yang diharapkan dilakukan oleh seorang imam religius.
Pastor Jesuit menunjukkan kepeduliannya terhadap pastor Fransiskan tersebut. “Saudara tampak sangat terguncang. Mungkin Anda perlu minum sedikit untuk menenangkan diri,” katanya sambil menyodorkan minuman brandy.
Pastor Fransiskan itu minum dan berkata, “Terima kasih saudaraku. Saya merasa lebih baik sekarang.”
Pastor Jesuit itu menuangkan sedikit brandy lagi, “Anda masih terlihat sedikit kaget, silakan minum lagi.”
Setelah minum seteguk lagi, pastor Fransiskan itu berkata, “Saudaraku, Anda tentunya juga terguncang akibat kecelakaan ini. Mengapa Anda tidak minum juga.”
“Oh, saya akan minum,” jawab si pastor Jesuit dan menambahkan, “tapi saya akan menunggu setelah polisi datang menyelesaikan ini.”

Humor Jesuit (4)

TIGA orang pastor masing-masing seorang Jesuit, Dominikan dan Fransiskan—sekali waktu tengah berjalan bersama dan lama mereka meniti jalan sembari asyik berdiskusi. Tiba-tiba, di hadapan mereka muncul Keluarga Kudus. Bayi Yesus berada di palungan, dengan Maria dan Yosep berdoa di sampingNya.
Pastor Fransiskan langsung berlutut menundukkan wajahnya ke tanah, menyerukan kekagumannya melihat bagaimana Tuhan telah lahir dalam kemiskinan.
Pastor Dominikan juga ikut berlutut, sambil memuji refleksi indah Trinitas dan Keluarga Kudus.
Sedangkan si pastor Jesuit berjalan ke arah Yosep, melingkarkan tangan di bahunya dan bertanya, “Apakah Anda sudah memikirkan akan menyekolahkannya kemana?”

Hiasan Emas bagi Telinga yang Mendengar (1)

Dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change, Stephen R. Covey menuliskan: “Most people do not listen with the intend to understand; they listen with the intent to reply.” Stephen bukanlah penulis buku rohani. Ia adalah pebisnis yang suka menulis buku dan menjadi pembicara di seminar yang terkait dengan masalah bisnis. Berdasarkan pengamatannya, ia mendapati bahwa kebanyakan orang bukan mendengar dengan tujuan untuk mengerti, tapi mendengar dengan keinginan untuk menjawab atau berbantah. Bentuk sifat mau menang sendiri membuat orang bersikap seperti itu. Mereka tetap berbantah dan merasa paling tahu/benar meski mereka tidak mengerti betul bidang yang diperdebatkan. Masing-masing mengeluarkan opininya sendiri tanpa didasari pengetahuan tentang suatu hal tersebut. Soal benar atau salah soal nanti, yang penting ngomong dulu. Bukankah manusia memang cenderung seperti itu hari-hari ini?  Apa yang dikatakan Stephen dalam bukunya yang pertama kali terbit tahun 1989 itu berlaku tidak saja di dunia bisnis melainkan di berbagai aspek kehidupan lainnya termasuk dalam hal rohani.
Kalau kepada manusia mereka merasa berhak begitu, mereka pun mulai membantah Tuhan dan merasa lebih tahu. Berbagai ketetapan Tuhan dilanggar lantas Tuhan dijadikan tertuduh atas segala yang buruk. Tuhan disingkirkan, tapi tetap mau terima berkat. Telinga diberikan sepasang dan diletakkan di kiri dan kanan, itu seharusnya membuat kita sadar akan pentingnya telinga sampai harus ada dua.

Hiasan Emas bagi Telinga yang Mendengar (2)

Lihatlah salah satu komentar mereka berikut ini: “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Bukan hanya satu ini komentar sinis yang mereka lontarkan, tapi perjalanan mereka yang panjang itu penuh dengan gerutu, keluh kesah, protes dan komentar-komentar yang bisa setiap saat. Tidak mudah bagi Musa, dan bayangkan seandainya kita ada di posisinya. Tetapi Musa bisa tetap fokus kepada tugasnya dan taat menerima perintah Tuhan. Itu membuatnya bisa terus bertahan dalam badai cercaan sebegitu lama dalam proses mengantarkan bangsanya menuju tanah terjanji.
Kembali pada soal mendengar, sangatlah menarik saat Salomo yang penuh hikmat menuliskan seperti ini: “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.” (Amsal 25:12). Teguran seringkali membuat telinga panas, lalu panasnya merambat ke kepala dan hati. Bukankah menarik kalau Salomo justru mengatakan bahwa teguran orang yang bijak itu begitu berharga bagai cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar? Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa mendengar merupakan sesuatu yang bukan saja berguna tapi juga sangat tinggi nilai harganya, yang diibaratkan sebagai cincin emas dan hiasan kencana.
Kita harus sadar bahwa tidak semua kritik disampaikan untuk tujuan yang buruk. Ada saatnya kita harus siap mendengar lalu menerima kritik dengan lapang dada, meski terkadang rasanya sama sekali tidak enak atau bahkan pahit. Kita  harus pandai-pandai menyaring, tetapi apa yang penting kita lakukan terlebih dahulu adalah mendengarnya dengan kelembutan dan kelapangan hati. Jangan belum apa-apa sudah langsung menentang, membantah lalu menuduh orang berniat jahat kepada kita. Jika komentar-komentar negatif yang kita terima, buanglah itu. Tetapi jika teguran itu positif, terimalah itu dengan lapang hati. Jadi Intinya adalah, dengarlah terlebih dahulu. Telinga diberikan Tuhan untuk tujuan mendengar, jadi jangan sia-siakan.
 Lalu satu hal yang lebih penting, pekalah terhadap suara Tuhan. Dengarkan perintahNya, terima teguranNya dan patuhi kehendakNya. Sebelum bereaksi, alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan terlebih dahulu dan mencerna dengan baik pula. Tetap ingat pesan Kristus yang ditulis berulang kali di dalam Alkitab: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”
“It takes a great man to be a good listener.” – Calvin Coolidge

Hidup Meneladani Persatuan Kasih Allah Tritunggal

PADA Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, kita diajak untuk merenungkan kembali betapa besar kasih Allah kepada kita. Saat manusia terjerat dosa dan hidup terpisah daripadaNya, dikaruniakanNya Putra TunggalNya untuk membebaskan manusia dari belenggu kekuasaan gelap dan diutusNya Roh Kudus untuk membimbing, memberi kekuatan dan mengarahkan manusia agar tetap melangkah di jalanNya.
Melalui pembaptisan, kita diangkat menjadi anggota warga kerajaan Allah dan masuk ke dalam persekutuan hidup dengan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pengalaman dikasihi Allah hendaknya kita bagikan kepada sesama agar mereka juga dapat mengalami kasihNya. Hayati apa yang diperintahkan Yesus, dengan hidup seturut kehendakNya dan melaksanakan tugas perutusan kita lewat karya dan pelayanan kasih.
Kita yang hidup di dalam masyarakat majemuk, hendaknya mampu untuk saling menghargai, saling menghormati, hidup rukun dan damai ditengah-tengah keanekaragaman. Mari teladani ikatan kasih Bapa, Putra dan Roh Kudus agar kita dapat hidup secara harmonis di dalam keluarga, lingkungan, gereja dan masyarakat.

Dampak Tabungan Anggota Kopdit (Credit Union)

“Beli rokok bisa, beli pulsa mampu, beli jajan terbayar, tetapi untuk menabung, mereka sulit melakukan. Mengapa? Lemahkah daya juang hatinya?”


Prakata
Sebuah perusahaan, bisa hidup kalau mendapat pendapatan /income dari usahanya. Setelah mendapat pendapatan, lalu ia bisa mengeluarkan biaya pokok dan biaya operasionalnya. Selisih antara income dengan biaya-biaya diatas kita sebut suatu profit/ keuntungan.

Credit Union
Di Credit Union (Koperasi Kredit) yang berprinsip Trilogi salah satu yaitu swadaya modal, maka modal dihimpun dari Tabungan para anggota, baik Tabungan besar maupun Tabungan-tabungan kecil, dari seluruh anggota CU. Tabungan semua anggota, saat Kopdit masih kecil (hanya berjumlah kecil, namun seiring dengan perkembangan Kopdit, jumlah tabungan akan membesar, apalagi kalau jenis tabungan semakin bervariasi dan menarik.