Senin, 16 November 2015

Makna NATAL bagi Gereja Katolik & Tahun Baru menurut seorang ROMO

Hadirnya Natal dan Tahun Baru selalu melahirkan sebuah kontradiksi. Di satu sisi kita disuguhi berbagai persiapan dan acara yang cenderung berbau pesta tapi di sisi lain kita melihat banyak saudara kita yang masih hidup dalam kekurangan. Berikut wawancara tertulis dengan Rm. YR. Edy Purwanto Pr, Sekretaris Eksekutif KWI dan Direktur Kawali yang saat ini tinggal di Jakarta, menanggapi hal tersebut.

Apa makna Natal bagi Gereja Katolik?
Natal berasal dari kata Latin “natus” yang berarti kelahiran. Natal adalah hari raya kelahiran Yesus Kristus di dunia ini. Hari raya kedatangan Tuhan, Sang Juruselamat, yang berkenan menjadi manusia lemah dan miskin, agar kita yang miskin dapat ambil bagian dalam kekayaan keallahannya itu. Natal adalah perayaan syukur karena Allah beserta kita (Immanuel). Matius 1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
Untuk menyongsong Natal dan Tahun Baru jauh-jauh hari banyak orang sudah disibukkan dengan adanya persiapan pesta, kemeriahan dan hura-hura, justru persiapan batin tidak diolah. Bagaimana pendapat Romo mengenai fenomena ini? Apa yang sebaiknya dipersiapkan untuk menyambut kelahiran Bayi Yesus dan menyongsong Tahun Baru?


Menurut saya, perilaku banyak orang yang jauh-jauh hari sebelum Natal tiba sudah mempersiapkan banyak hal yang berhubungan dengan berbagai kebutuhan “duniawi” adalah sah-sah saja. Tapi pertanyaan yang segera dapat kita ajukan adalah “apakah persiapan yang semata-mata menyangkut perkara duniawi itu memang merupakan goal atau tujuan akhir yang ingin kita capai?” Kalau jawabnya “bukan”, maka berarti masih ada harapan bahwa orang berfikir tentang sesuatu yang lain. Mungkin yang bersangkutan memang sadar bahwa bukan itu tujuan akhirnya. Namun bila jawabnya “ya”, tamatlah riwayat Natal yang selama ini kita maknai sebagai perayaan kesederhanaan dan kesahajaan. Kalau orang berhenti pada upaya memenuhi keperluan pesta duniawinya saja, hura-huranya saja, maka makna Natal yang agung itu bisa tereduksi ke perayaan yang lebih mengutamakan hal-hal duniawi juga.

Dalam semangat untuk tidak mengikuti arus duniawi yang saat ini begitu kuat menggoda dan menggerus hidup rohani kita, bacaan Injil pada hari Minggu Adven pertama tahun liturgi C menjadi sangat relevan: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:34.36).

Saya sangat setuju bahwa Gereja menyiapkan umatnya untuk perayaan agung itu dengan menekuni masa adven (masa penantian). Selama hampir empat pekan umat diajak untuk benar-benar mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan Sang Penebus dengan penuh sukacita dan harapan. Umat diajak untuk membangun semangat tobat, sehingga menjadi persiapan hati dan batin yang sangat penting dan utama guna merayakan Natal.
Dari waktu ke waktu Natal terkesan menjadi perayaan keagamaan yang glamour sebab di sekitar peristiwa iman itu unsur bisnis memang sangat kuat. Nuansa bisnis itu menjadi semakin kuat karena tidak lama sesudah perayaan Natal bangsa manusia di dunia ini merayakan pergantian tahun. Orang cenderung menjadikan momentum pergantian tahun ini sebagai momentum kenangan indah bagi siapa pun. Dunia bisnis sangat memahami dan memaknai momentum ini dengan berbagai tawarannya yang luar biasa.

Sebagai orang beriman hendaknya kita tetap ingat bahwa kendati dunia bisnis menawarkan gebyar dunianya yang sangat menggiurkan, marilah kita tetap konsisten merayakan Natal dan Tahun Baru dalam kesederhanaan dan kesahajaan, seperti diperlihatkan oleh Allah sendiri yang datang ke dunia dalam semangat itu. Allah hadir dalam diri bayi kecil Yesus yang lahir di kandang, dibungkus dengan lampin, dan dibaringkan dalam palungan. Semua itu menjadi tanda kesederhanaan dan kesahajaan.

Biasanya 1-2 bulan sebelum Natal banyak toko sudah gencar memajang berbagai aksesoris natal - tahun baru dan memberi iming-iming sale besar-besaran untuk berbagai macam barang yang menunjang penampilan (sandang/perabot). Bagaimana kita harus bersikap dengan berbagai macam tawaran ini agar tidak terjerumus dalam budaya konsumeris?

Kita harus berani kembali ke hakikat atau makna dasar perayaan Natal dan Tahun Baru itu. Keduanya merupakan perayaan syukur atas penyelamatan Allah. Natal menjadi syukur atas kehadiran Sang Penebus. Tahun Baru merupakan syukur atas berkat Tuhan yang telah kita terima di tahun yang berlalu dan atas berkat Tuhan yang nyata dengan memberikan kesempatan baru bagi kita untuk terus hidup dan berkarya lebih baik lagi. Dengan kata lain, tahun baru merupakan panggilan untuk hidup lebih baik dan lebih berbuah dalam karya dan kebaikan.

Kalau kita sudah meyakini benar makna terdalam dari kedua peristiwa tersebut, maka kita tidak akan mudah tergoda oleh berbagai iming-iming duniawi yang hadir dalam beragam bentuknya. Mengapa? Karena kita sudah menemukan sesuatu yang lebih berarti daripada hal-hal duniawi yang dengan gencar ditawarkan kepada kita.
Orang mudah di”makan” oleh promosi sekitar perayaan Natal dan akhir tahun karena mereka tidak/belum menemukan nilai yang lebih dalam dan bermakna. Orientasi dan cara pandangnya masih dangkal, sehingga iming-iming kadonyan itu masih lebih kuat mempengaruhinya daripada nilai-nilai rohani yang seharusnya ditimba dari dua perayaan di penghujung tahun tersebut.

Apa hakikat Natal dan Tahun Baru menurut Romo?

Natal bagi saya adalah peristiwa iman Gereja dan sekaligus momentum. Peristiwa iman Gereja karena memang saya tidak bisa merayakan Natal tanpa Gereja. Dalam perayaan ini saya disatukan dengan iman Gereja yang sedang mensyukuri kelahiran Sang Penyelamat. Perayaan ini bukan semata-mata perayaan yang bersifat personal atau pribadi. Saya hanya bisa merayakan Natal karena Gereja merayakannya. Sebagai momentum karena Natal ini memberi kesempatan kepada saya pribadi untuk selalu siap dilahirkan kembali, siap diperbarui kembali.

Saya memaknai peristiwa tahun baru bukan sekedar sebagai “kronos” atau urutan waktu yang terus berganti atau bergulir , sesudah tahun 2014 ya pasti tahun 2015; tetapi sebagai “khairos” atau peristiwa yang mengantar saya untuk terus membarui diri dan meningkatkan diri menjadi lebih baik dari waktu kemarin, dari tahun yang lalu. Maka pergantian tahun selalu menjadi tantangan untuk membuat sebuah resolusi (niat untuk mengubah diri) menuju hidup yang lebih baik. Kalau saya boleh menyitir sabda Yesus, maka setiap tahun baru saya selalu diajak untuk menjadi sempurna “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat 5:48).

Apakah ada hubungan antara Natal dan Tahun Baru dengan kepedulian sosial? Mengapa? Kesadaran macam apa yang sebaiknya dibangun?

Natal memang sangat lekat erat dengan kepedulian sosial. Sebab Natal merupakan perayaan atas kepedulian Allah kepada manusia. Kepedulian Allah itu dinyatakan salah satunya oleh penginjil Yohanes dengan sangat jelas: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Demikian juga Tahun Baru semestinya semakin mengembangkan kita dalam kepedulian sosial.
Kita perlu memperkembangkan terus semangat kepedulian itu, sebab Yesus sangat menekankan hal itu. Ia sendiri pun memperlihatkan kepedulian di sepanjang hidup-Nya. Ia memperhatikan mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir serta menderita. Bahkan kelak pada saat penghakiman terakhir pun Ia menanyakan apa yang sudah dilaksanakan oleh para pengikutNya untuk mereka yang lemah itu di sepanjang hidup mereka. Ia menyatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40) dan sebaliknya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

Pesan Romo untuk keluarga katolik dan kaum muda kaitannya dengan Natal dan Tahun Baru?

Harapan saya kepada keluarga-keluarga Katolik dan orang muda Katolik (OMK), marilah kita meneladan Yesus yang bersahaja. Ia “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filp 2:6-7). Itulah madah pengosongan diri (kenosis) yang merupakan refleksi atas sikap Yesus.

Kita gunakan peristiwa Natal dan Tahun Baru ini sebagai momentum dan khairos untuk perubahan menuju kepada hidup yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih memperhatikan mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir (KLMT).  Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dalam perenungannya sampai kepada keyakinan bahwa perubahan itu harus dimulai dengan mengayunkan langkah-langkah kecil, mulai dari diri kita sendiri, dan mulai saat ini.


Tidak ada komentar: