Sabtu, 20 Juni 2015

Sakramen Baptis

Sakramen Baptis adalah sakramen pertama yang diterima oleh seseorang yang hendak menjadi anggota Gereja Katolik. Sakramen Baptis adalah sakramen pertama dalam inisiasi Katolik. Inisiasi adalah penerimaan seseorang masuk ke dalam atau menjadi anggota kelompok tertentu. Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukum akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui “rahmat yang menguduskan” (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya). Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komunio (persekutuan) antar semua orang Kristen.

Sakramen Inisiasi dalam Gereja Katolik:
1.        Sakramen Baptis
2.       Sakramen Ekaristi
3.       Sakramen Krisma

3 Tahap Inisiasi Katolik:
1.        Masa pra-katekumenat/simpatisan menjadi Katekumen;
(Masa pemurnian motivasi calon, dituntut pertobatan dan iman)
2.       Masa katekumen menjadi calon baptis;
(Masa perkembangan iman calon baptis, merupakan masa pengajaran dan pembinaan iman)
3.       Masa calon baptis menjadi Baptisan Baru;
(Masa persiapan baptisan dan penerimaan menjadi anggota Gereja Katolik)

Sesudah dibaptis, para baptisan baru menerima atau mengalami masa pembinaaan iman sebagai baptisan baru yang disebut mistagogi. Untuk dibaptis, seseorang harus percaya dan beriman kepada Kristus. Percaya kepada Kristus berarti hidup sesuai dengan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sakramen baptis seseorang dilahirkan kembali dalam air dan roh. Lilin bernyala yang diterima oleh baptisan baru dalam upacara sakramen baptis merupakan lambang baptisan baru yang sudah diterangi oleh Kristus dan harus senantiasa berusaha hidup dalam terang Kristus.

Materi dan Forma Sakramen Baptis:
Materi: Air
Forma: Aku membaptis kamu, dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus

Buah atau Rahmat Sakramen Baptis:
1.        Mendapat pengampunan dari segala dosa, baik dosa asal maupun dosa yang dibuatnya.
2.       Menjadi ciptaan baru dan dilantik menjadi anak Allah.
3.       Memperoleh rahmat pengudusan yang membuatnya sanggup semakin percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya. Membuatnya hidup di bawah bimbingan dan dorongan Roh Kudus. Membuatnya sanggup bertumbuh dalam kebaikan.
4.       Digabungkan menjadi Anggota Gereja, sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus.
5.       Dimateraikan secara kekal dalam sebuah materai rohani yang tak terhapuskan, sebagai bagian dari Kristus.

Macam-macam Baptisan:
1.        Baptisan Bayi: Baptisan yang diterima saat masih bayi.
2.       Baptisan Dewasa: Baptisan yang diterima saat sudah dewasa.
3.       Baptisan Rindu: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal. Maka ia sudah menerima Baptisan Rindu.
4.       Baptisan Darah: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal karena membela imannya.

Menurut buku liturgi, “proses inisiasi Kristen dilanjutkan dalam sakramen krisma. Dalam sakramen krisma itu orang beriman menerima Roh Kudus yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Berkat anugerah Roh Kudus ini, orang beriman menjadi lebih serupa dengan Kristus dan dikuatkan untuk memberi kesaksian tentang Kristus, demi pembangunan tubuh-Nya dalam iman dan cinta kasih”. Di sini terletak kesulitan sakramen krisma: Roh Kudus itu sudah diterima dalam pembaptisan, yang merupakan kelahiran kembali dari air dan Roh (lih. Yoh 3:6; Kis 2:38).

Peristiwa Paska dan Pentekosta
Perlu diperhatikan bahwa dalam sakramen Krisma orang beriman “diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa” (LG 11). Keistimewaan itu ditunjuk dengan pengkhususan Roh Kudus, yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Pembaptisan dan Krisma dibedakan (dan berhubungan!) seperti Paska dan Pentekosta. Pada hari Paska, Allah “membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga” (Ef 1:20). Kemudian pada hari Pentekosta, Kristus “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka mencurahkan-Nya” kepada para rasul (Kis 2:33) dengan tujuan agar “kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Paska berarti Yesus dengan ke-manusiaan-Nya masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Pentekosta berarti Roh Kudus, “yang keluar dari Bapa” (Yoh 15:27), diutus ke dalam dunia.
“Perbedaan arah” ini juga kentara dalam kedua kisah mengenai kenaikan Yesus ke surga. Pada akhir Injilnya Lukas menceriterakan bagaimana Yesus “memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51). Sebaliknya pada awal Kisah Para Rasul dikatakan: “Kamu akan menjadi saksi-Ku. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9). Masih ditambahkan teguran dua malaikat: “Hai orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis 1:11). Mereka diutus ke dunia, maka harus melihat ke depan, tidak ke atas.
Begitu juga dengan Pembaptisan dan Krisma. Pembaptisan, yang disebut “pintu” (LG 11) untuk “masuk menjadi anggota umat Allah” (PO 5), mengarah ke dalam. Sebaliknya Krisma, yang mewajibkan orang “menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati” (LG 11), mengarah ke luar. Tentu saja “dengan baptis dan penguatan/krisma orang ditugaskan untuk kerasulan” (LG 33; lih. AG 36). Dengan demikian, kelihatan bahwa inisiasi merupakan proses: masuk kemudian diutus. Tentu saja, seseorang tidak masuk Gereja untuk “mapan” di situ, melainkan supaya diutus. Oleh karena itu kedua sakramen bersama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam arti penuh. Tetapi karena arahnya yang berbeda, kedua sakramen ini pantas dibedakan,

Pembaptisan dan Krisma
Dalam buku Inisiasi Kristen dikatakan bahwa ketiga sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi) sebaiknya dirayakan bersama-sama dalam satu upacara, sedapat-dapatnya pada malam Paska. Namun upacara Krisma boleh juga dirayakan pada akhir masa mistagogi (pengantar ke dalam praktik kehidupan Kristiani), misalnya pada hari raya Pentekosta. Ketetapan ini bukan hanya perkara praktis atau soal pembagian waktu. Masalah satu atau dua upacara mencerminkan sejarah upacara Krisma, yang masih dapat dilihat pada upacara sekarang. Di atas sudah dikatakan bahwa baptisan baru, sesudah pembaptisan, diurapi. Itu sudah menjadi kebiasaan kuno, barangkali mulai abad ketiga. Tetapi ditetapkan bahwa pengurapan itu hanya dilakukan “jika tidak mungkin sakramen Krisma dirayakan dalam upacara ini”. Rupa-rupanya ada hubungan antara pengurapan sesudah pembaptisan dan sakramen Krisma. Sejarah ini tidak seluruhnya jelas.

Semula memang seluruh upacara inisiasi dilakukan oleh uskup (sebab pada waktu itu hampir setiap “paroki” dikepalai oleh seorang uskup). Dalam abad-abad berikut tetap ada pengurapan oleh uskup, yang disebut Krisma, tetapi juga ada pengurapan oleh imam (atau petugas lain) langsung sesudah pembaptisan. Krisma dipandang sebagai sakramen, sedangkan pengurapan oleh imam merupakan sakramentali. Ketika semua itu masih dilakukan oleh uskup, terang ada satu upacara, dan juga dipandang sebagai satu sakramen, yakni sakramen inisiasi. Dengan adanya dua upacara juga timbul kesadaran bahwa ada dua sakramen, yakni Baptis dan Krisma. Maka sekarang timbul pertanyaan: dua sakramen atau satu sakramen? Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, lebih-lebih karena Perjanjian Baru tidak mengenal upacara pengurapan dalam hubungan dengan pembaptisan, entah langsung sesudahnya entah lebih kemudian.

Sering kali Kis 8:14-17 (Petrus dan Yohanes yang meletakkan tangan atas orang yang baru dibaptis oleh Filipus) dan 19:1-7 (Paulus yang meletakkan tangan atas orang yang hanya menerima pembaptisan Yohanes), dilihat sebagai “awal” sakramen Krisma, karena yang melakukannya adalah rasul-rasul dan karena diberikan Roh Kudus. Tetapi barangkali harus dikatakan bahwa dengan upacara itu para rasul mau “melengkapi” pembaptisan yang telah diterima. Kalau orang yang dibaptis belum menerima Roh Kudus, pembaptisan belum lengkap. Kiranya di sini Pembaptisan dan Krisma justru tidak dibedakan.

Kesadaran ini baru muncul pada zaman Tertulianus (160-220). Bersama dengan itu berkembang terus arti Pentekosta sebagai saat Gereja mendapat perutusannya dari Tuhan yang mulia. Perkembangan dalam pemahaman akan arti perutusan itu serta penguatan khusus untuk itu oleh Roh Kudus, terungkap juga dalam liturgi inisiasi. Dua upacara dalam inisiasi memang baru dikenal sejak abad ketiga, tetapi kesadaran akan perbedaan antara Paska dan Pentekosta sudah ada dalam Kitab Suci (lih. Yoh 7:39 “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”). Menghubungkan dua tahap dalam proses kelahiran Gereja dengan proses inisiasi, baru terjadi dalam perkembangan tradisi Gereja. Tahap kedua inisiasi sekarang disebut “Krisma”, guna membedakan pengurapan itu dari pembaptisan. Kedua sakramen ini dibedakan menurut kekhususan upacaranya. Lama sekali Krisma disebut “sakramen penguatan”. Nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan upacara liturgisnya, tetapi menunjuk kepada isi dan artinya: dikuatkan untuk tampil sebagai saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun (terutama) dengan corak kehidupan.

Pembaptisan
Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci
Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah “penemuan” Tuhan Yesus. Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.

Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang “sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau mempersiapkan orang menghadapi “murka yang akan datang” (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan dalam upacara pembaptisan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4). Maka “sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan” (Mat 3:6).

Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa ”Yesus pergi ke tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa ”Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya. Petrus menambahkan dua hal: “dalam nama Yesus Kristus” dan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi “karunia Roh Kudus”, yang “bersaksi bersama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan “Kristus Yesus, Juru Selamat kita” (Tit 1:4), yang memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” (Kis 2:33).

Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen pembaptisan: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya – sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa – demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: “Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: “Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai “inisiasi Kristen”, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay. 11).

Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita “karena rahmat-Nya oleh pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Itulah yang oleh Yohanes disebut “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus sebagai Anak Allah: “Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak, maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus, tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan langsung dapat ditarik kesimpulan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Dalam Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja
Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. “Tempat pembaptisan” itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada malam Paska:
Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?
Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di sisi kanan Bapa yang mahakuasa?

Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?
Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: ”Ya, saya percaya”. Sesudah itu, ia ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi “sakramen iman”, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku “Inisiasi Kristen” menetapkan:

“Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:
… (disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.
Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya kepada baptisan baru.” .
Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus (lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27, “mengenakan Kristus”, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.

Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebut Didahkeatau “Pengajaran Kedua Belas Rasul”. Di dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: “Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis, berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya”.

Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang menjelaskan arti sakramen.
Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:
“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (SC 6).
Mereka menjadi “penyembah sejati” dalam Gereja, sebab “dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen” (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak
Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa kepala penjara Filipi “memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya” (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anak-anak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke “pinggir” neraka saja).

Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin”. Mereka dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: “Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu”.
Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, “Dalam upacara pembaptisan kanak-kanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis”.

“Wali baptis” sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua “pembantu” calon baptis: penjamin dan wali baptis. “Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis. Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara ‘pemilihan'”, Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai “sponsor” atau “penanggung jawab”. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah “dari luar” (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis “mendampingi katekumen pada hari ‘pemilihan’, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa ‘mistagogi‘, artinya ia menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya.” Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi “penjamin” tidak perlu, dan fungsi “wali baptis” lebih dipegang oleh orangtuanya.

Oleh karena itu, pada saat “penolakan setan dan pengakuan iman” pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: “Maukah saudara supaya anak ini dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?”. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri (yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi, tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

Tiga Tahap Inisiasi Kristen
Menjadi orang Kristen merupakan suatu proses, tahap demi tahap. Langkah pertama ialah katekumenat, yakni masa persiapan dengan pelajaran-pelajaran dan upacara-upacara kecil yang bersifat sakramentali. Pada zaman dahulu para katekumen tidak diperbolehkan ikut perayaan Ekaristi. Baru sesudah dibaptis mereka boleh ikut perayaan Ekaristi. Maka pembaptisan pun dipandang sebagai suatu langkah yang amat penting dalam proses inisiasi itu. Sesudah pembaptisan mereka dihadapkan pada bapa uskup, yang meletakkan tangan atas mereka dan mengurapi mereka. Karena mereka diurapi dengan krisma, yakni “minyak zaitun atau minyak lain yang diperas dari tetumbuhan” (KHK kan. 847), upacara ini kemudian disebut “krisma”. Sesudah itu mereka baru diperbolehkan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, yang dipandang sebagai langkah terakhir dalam proses inisiasi itu.

Dengan demikian ada tiga sakramen dalam proses menjadi orang Kristen, yakni Pembaptisan, Krisma dan Ekaristi, yang karenanya disebut “sakramen-sakramen inisiasi”. Dalam arti yang sesungguhnya Ekaristi tidak termasuk inisiasi, selain bila diikuti untuk pertama kalinya. Bila selanjutnya orang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi lagi, itu sudah bukan “inisiasi” lagi, sebab Ekaristi adalah tujuan dan sekaligus langkah terakhir dari seluruh proses inisiasi Kristen.
Dalam perkembangan lebih lanjut ketiga sakramen inisiasi dipisahkan satu dari yang lain. Banyak orang dibaptis beberapa hari sesudah lahir (baptis bayi). Sakramen Krisma baru diterima bila sudah menjadi remaja. Pada waktu itu orang biasanya sudah menerima “komuni pertama” dan telah lama ikut perayaan Ekaristi. Dengan demikian bukan hanya urut-urutannya diubah, tetapi juga sudah tidak terasa adanya hubungan antara ketiga sakramen itu. Dan karena orang sudah diterima ke dalam Gereja sebagai seorang bayi, maka Ekaristi dan Krisma, tidak lagi dialami sebagai “sakramen inisiasi”.

Tata cara perayaan inisiasi Kristen sekarang ditetapkan dalam buku resmi liturgi “Inisiasi Kristen” untuk Gereja Indonesia dari tahun 1977, sebagai berikut:
“Inisiasi Kristen mengikuti suatu pola yang kurang lebih sama, di mana dapat dibedakan tahap-tahap berikut:
Tahap 1 : Dari “simpatisan” menjadi “katekumen”;
Tahap 2 : Dari “katekumen” menjadi “calon baptis”;
Tahap 3 : Dari “calon baptis” menjadi “baptisan baru”.

Maka hampir dengan sendirinya inisiasi Kristen mendapat susunan sebagai berikut:
(a) Masa pra-katekumenat untuk para simpatisan.
(1) Tahap pertama: Upacara pelantikan menjadi katekumen.
(b) Masa katekumenat untuk para katekumen.
(2) Tahap kedua: Upacara pemilihan sebagai calon baptis.
(c) Masa persiapan terakhir untuk para calon baptis yang terpilih.
(3) Tahap ketiga: Upacara sakramen-sakramen inisiasi.
(d) Masa pendalaman iman (mistagogi) untuk para baptisan baru.”

Selanjutnya diberikan keterangan sebagai berikut:
“Tahap pertama ialah, bila seorang simpatisan sungguh mulai bertobat dan beriman, sehingga ia dapat diterima oleh umat setempat dalam katekumenat. Dalam suatu upacara ia dilantik menjadi katekumen.
Tahap kedua ialah, bila iman seorang katekumen sudah berkembang sedemikian, sehingga ia diizinkan menyiapkan diri akan sakramen-sakramen inisiasi.
Tahap ketiga ialah, bila persiapan terakhir sudah selesai dan calon itu diperkenankan menerima sakramen-sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi pertama), sehingga ia menjadi anggota penuh dalam Gereja.”

Khususnya mengenai “sakramen-sakramen inisiasi” dikatakan:
“Perayaan sakramen-sakramen inisiasi merupakan tahap ketiga dan terakhir dalam proses inisiasi Kristen. Dalam sakramen-sakramen itu para “pilihan” diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus, mereka mati terhadap dosa, sehingga manusia lama dikuburkan, dan mereka bangkit bersama Kristus sebagai manusia baru, dilahirkan kembali dan diangkat sebagai anak Allah. Mereka dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus dan digabungkan pada umat beriman yang bersama-sama menuju kerajaan Allah yang abadi.”

Ulasan di bawah ini akan terbatas pada “tahap ketiga”, ialah sakramen-sakramen inisiasi sendiri. “Ekaristi pertama” hanya berarti bahwa “baptisan baru” untuk pertama kalinya boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, tidak merupakan suatu sakramen atau upacara tersendiri. Maka yang akan dibicarakan hanyalah kedua sakramen inisiasi yang lain, yakni Pembaptisan dan Krisma.

Sakramen Inisiasi Kristen
Sakramen pengurapan orang sakit boleh disebut kepenuhan partisipasi dalam Ekaristi, karena menghubungkan orang secara nyata dengan penyerahan Kristus kepada Bapa. Yang secara sakramental dirayakan dalam Ekaristi, menjadi kenyataan dalam sengsara dan kematian yang dihayati sungguh-sungguh dalam kesatuan dengan Kristus. Kesatuan dengan Kristus, khususnya dengan mengambil bagian dalam peralihan-Nya dari dunia ini kepada Bapa (Yoh 13:1), menurut ajaran St. Paulus sudah mulai dengan pembaptisan: “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (Rm 6:3).
Pembaptisan merupakan langkah pertama ke arah kesatuan hidup dan mati dengan Kristus. Kesatuan dengan Kristus itu dihayati dalam Gereja, maka sakramen pembaptisan juga berarti bahwa seseorang menjadi anggota Gereja. Oleh karena itu pembaptisan juga disebut “inisiasi Kristen“. Dengan pembaptisan orang diinisiasi atau diantar ke dalam Gereja sebagai anggotanya, Tetapi sebenarnya pembaptisan hanya merupakan satu langkah saja dari inisiasi Kristen.

Arti dan Makna Sakramen
Dalam uraian tentang kata “misteri”, dinyatakan bahwa rahasia keselamatan Allah ditampakkan Allah melalui peristiwa-peristiwa konkret di dalam dunia ini. Secara fundamental rahasia itu dinyatakan di dalam seluruh ciptaan melalui penciptaan dan secara paling sempurna dan lengkap di dalam peristiwa Yesus Kristus, yang dipratandai oleh sejarah Israel dan diteruskan melalui sejarah Gereja.

Gereja seluruhnya merupakan satu bagian dalam penampakan rahasia Allah di dalam dunia dan sejarah. Dengan kata lain, Gereja merupakan tanda. Di dalamnya rahasia keselamatan Allah menjadi nyata. Seturut seluruh struktur wahyu Allah, bahwa rahasia yang tersembunyi di dalam Allah ditampakkan di dalam dunia dan sejarah yang seolah-olah menjadi transparan terhadap rahasia Allah itu, sakramen bisa didefinisikan sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Dewasa ini tanda sakramental itu biasanya dijelaskan dengan menggunakan gagasan lambang atau simbol. Manusia merupakan roh yang membadan, sebab itu segala ekspresi roh manusiawi terjadi melalui badan. Nilai-nilai yang luhur atau yang paling rohani pun harus kita ungkapkan melalui badan, supaya nilai atau perasaan itu bisa disampaikan kepada orang lain. Pokoknya adalah suatu hukum manusiawi bahwa kita berkomunikasi melalui badan. Melalui tanda-tanda badaniah terungkaplah sesuatu yang lebih dalam daripada perbuatan-perbuatan konkret yaitu jiwa dan sikap rohani kita.

Kebenaran ini berlaku juga untuk komunikasi Allah dengan kita. Karena itu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret untuk menyampaikan cinta-Nya kepada kita secara konkret. Dan karena itu pula ada Gereja sebagai persekutuan persaudaraan yang konkret dan di dalamnya terdapatlah ritus-ritus sakramen. Dalam sakramen, rahmat (cinta Allah) disampaikan secara konkret melalui tanda-tanda badaniah kepada kita.

Dalam perbuatan manusiawi, kita mengalami cinta ilahi. Dengan sengaja, di sini dibicarakan mengenai “perbuatan manusia” dan tidak mengenai benda material yang di dalamnya kita mengalami rahmat yang menguduskan, karena tanda sakramen sesungguhnya aksi/perbuatan. Yang terpenting ialah apa yang kita buat di antara manusia di dalam umat beriman, karena perbuatan manusiawi itu melambangkan perbuatan Allah terhadap kita; perbuatan Allah itu sungguh terlaksana sementara manusia atau umat beraksi.

Penjelasan yang bersifat antropologis ini mempunyai konsekuensi praktis. Karena sakramen-sakramen itu perbuatan manusiawi/gerejawi yang melambangkan atau lebih baik melaksanakan secara simbolis suatu tindakan Allah terhadap kita, maka ritus-ritus sakramen harus dilaksanakan secara sungguh-sunguh penuh, sehingga bisa dirasakan. Maksudnya, dalam pembaptisan air harus dirasakan, dalam pengurapan orang sakit minyak juga harus dirasakan, dan dalam Ekaristi hosti jangan begitu tipis hingga tidak dirasakan apa-apa.

Dalam hal ini juga penting disadari bahwa perbuatan manusia konkret itu baru mendapat identitasnya sebagai sakramen Kristiani melalui perkataan yang diucapkan. Perbuatan penuangan air atau pembasuhan masih terbuka artinya. Baru melalui formula “Aku membaptis engkau atas nama Bapa,Putra, dan Roh Kudus”, hubungan perbuatan itu dengan peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Allah Tritunggal menjadi nyata. Sebab itu perbuatan dan perkataan bersama-sama membentuk tanda, lambang melaluinya Allah mendekati dan menyelamatkan kita secara konkret badaniah.

Asal Usul Sakramen
Sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang dimulai dalam sejarah Gereja sebagai praktik, tidak lahir sebagai teori yang kemudian dilaksanakan. Karena itu, titik tolak menemukan sumber teologi sakramen adalah praktik perayaan sakramen dalam hidup Gereja perdana.
Sejak awal hidup Gereja terdapat ritus-ritus. Ritus-ritus tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk pelaksanaan hidup Gereja, dan dipandang penting dan mutlak perlu untuk hidup Gereja. Ritus-ritus awal itu antara lain ritus pembaptisan dan pemecahan roti atau Ekaristi. Sebagian besar unsur ritus itu diambil dari kelompok agama lain, khususnya agama Yahudi. Tetapi untuk kita tidak begitu penting, apa yang diambil alih dan apa yang diciptakan baru oleh Gereja perdana. Yang penting ialah arti dan isi ritus-ritus itu, yang isinya ternyata bersifat khas Kristiani sejak permulaan.

Kekhasan itu terletak pada keyakinan Gereja bahwa ritus-ritus itu membuat sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia. Dalam praktik pembaptisan misalnya, Gereja mengambil alih ritus yang sudah lama dikenal di luar Gereja. Yang baru adalah, melalui ritus yang secara lahiriah sudah populer itu Gereja mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut.
Demikian halnya dengan praktik Ekaristi. Benar bahwa perjamuan-perjamuan religius terdapat di dalam banyak agama. Tetapi praktik tersebut sudah diambil alih oleh Gereja perdana untuk suatu maksud dan isi tertentu. Dengan merayakan Ekaristi, Gereja perdana ingin memberitakan kematian Tuhan sampai kedatangan-Nya kembali, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Kalau kita menyelidiki sumber-sumber kita, yaitu Kitab Suci, jelas sekali bahwa Gereja perdana sadar akan perbuatan Allah yang unik dan “satu kali untuk selama-lamanya” sebagai pemenuhan janji dan perbuatan itu dikerjakan Allah secara historis dan kelihatan “pada zaman akhir ini”, dalam diri Yesus dari Nazaret, seorang manusia historis.
Perbuatan Allah itu adalah perbutan keselamatan yang harus diimani, diwartakan, dan dilaksanakan antara lain melalui upacara-upacara tertentu. Allah dalam karya keselamatan itu antara lain menciptakan Gereja. Gereja sebagai hasil karya keselamatan Allah harus menghayati dan melanjutkannya sampai akhir zaman. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus telah melaksanakan keselamatan umat manusia dan dunia seluruhnya dalam salib dan kebangkitan Putra-Nya yang tunggal itu sedemikian rupa, sehingga sekarang Gereja sekaligus merupakan hasil dan sakramen keselamatan.

Karya keselamatan dengan seluruh dimensi historisnya, baik menyangkut janji, pelaksanaan dalam diri Yesus dan pemenuhan eskatologisnya hadir di dalam Gereja sebagai hidup dan inti Gereja. Gereja, sebagai hasil karya penyelamatan yang melaksanakan hakikatnya itu dan menunaikan amanat dan tugasnya sebagai alat keselamatan dengan cara penghayatan hidup yang diberikan oleh Allah, akan juga menyampaikan hidup baru itu kepada dunia yang belum percaya kepada Kristus. Tugas tersebut terlaksana antara lain dalam perbuatan-perbuatan yang kemudian disebut sakramen-sakramen.
Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa isi dan arti Gereja, yaitu rahasia penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus dari Nazaret, mesti dilaksanakan di dalam Gereja itu sendiri antara lain melalui ritus-ritus. Ritus atau upacara itu merupakan sarana yang dengannya rahasia penyelamatan Allah disampaikan kepada manusia sepanjang sejarah dan selanjutnya dikenal sebagai sakramen.

Pembaruan Kharismatik
Kiranya Pembaruan Kharismatik mempunyai hubungan langsung dengan soal pengalaman rahmat atau pengalaman Roh. Lebih khusus hal itu berhubungan dengan Baptis dalam Roh, yang sekarang biasanya disebut Pencurahan Roh (bdk. Kis 1:5). Dalam surat gembala KWI 30 November 1993 dikatakan bahwa “Gereja sekarang memahami ‘Baptis dalam Roh’ sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh agar berkat rahmat baptis dan krisma, hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus”. Doa permohonan itu diucapkan dengan penumpangan tangan sebagai tanda cinta persaudaraan. Dan “dalam peristiwa tersebut orang dapat betul-betul mengalami kasih Allah secara mendalam sekali”. Itulah sebabnya sejak semula “Baptis dalam Roh” – bersama dengan pengalaman rahmat yang menyertainya – mendapat banyak perhatian dalam gerakan kharismatik.

Dalam gerakan kharismatik dapat dibedakan tiga “gelombang”:
1.    Gerakan Pentekosta, yang dimulai, oleh Charles F. Parham bersama beberapa mahasiswa di Kansas, pada tahun 1901 sebagai “gerakan kesucian” (Holiness Movement) di kalangan Gereja Metodis, yang didirikan oleh John Wesley (1703-1791);
2.   Gerakan Kharismatik, yang sejak 1918 amat mementingkan “Baptis dalam Roh” dan menjadi suatu gerakan tersendiri, yang berpusat pada pengalaman Roh;
3.   Gerakan pembaruan yang bersifat kharismatik di kalangan Gereja Protestan dan Katolik; Pembaruan Kharismatik Katolik mulai pada tahun 1967 dan pada tgl. 30 November 1990 Takhta Suci mengakui “Persaudaraan Katolik Jemaat dan Kumpulan Persekutuan Kharismatik” (The Catholic Fraternity of Charismatic Covenant Communities and Fellowships) sebagai kumpulan orang beriman Kristen Katolik yang resmi. Pada tgl. 14 September 1993 Kongregasi Kepausan untuk kaum awam juga mengakui ICCRS (International Catholic Charismatic Renewal Services), yang berkedudukan di Roma, sebagai badan untuk memajukan Pembaruan Kharismatik Katolik.>
Jelaslah bahwa gerakan kharismatik dalam sejarahnya dari Gerakan Pentekosta sampai Pembaruan Kharismatik Katolik mengalami perubahan yang amat berarti. Namun inspirasi semula tetap menjadi pendorong utama, yakni mencari pengalaman akan daya kekuatan Roh. Ajaran John Wesley masih jelas bercorak Protestan, yakni bahwa dalam hidup seorang Kristen harus dibedakan dua tahap: Tahap pembenaran dan tahap pengudusan. Dalam fase pertama orang sudah diterima oleh Allah, walaupun ia belum “baik”. Maka fase kedua berarti bahwa oleh rahmat Allah ia betul-betul diubah menjadi orang suci. Pandangan itu kemudian berkembang menjadi “gerakan kesucian”, di mana orang mencari pengalaman pertobatan mendalam ini, yang kemudian disebut “Baptis dalam Roh” (yang oleh banyak orang waktu itu dibedakan dari “Baptis dengan air”, yakni sakramen inisiasi Kristen).
Kekhasan gelombang kedua, yakni “gerakan kharismatik”, ialah bahwa pengalaman “Baptis dalam Roh” dihubungkan erat-erat dengan kharisma-kharisma, khususnya dengan “bahasa Roh”, yakni bahasa irasional (tidak masuk akal), namun yang merupakan ucapan seperti bahasa, guna mengungkapkan kasih dan devosi kepada Allah.

Pembaruan Kharismatik Katolik mulai, pada tahun 1967, dengan dua mahasiswa yang menerima “Baptis dalam Roh” dalam suatu pertemuan doa Pentekosta. Mereka membagikan pengalaman itu dengan teman-teman Katolik, dan dengan demikian mulailah gerakan kharismatik Katolik.
Konsili Vatikan II sudah mengemukakan ajaran tentang kharisma-kharisma itu, yang tidak seluruhnya sama dengan anugerah Roh, yang disebut “rahmat”,
“Kharisma-kharisma itu, entah yang amat mencolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaklah diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan dari padanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya kharisma-kharisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12).

Oleh karena itu, perlu diperhatikan pula apa yang dikatakan dalam Surat Gembala KWI mengenai Pembaruan Kharismatik Katolik pada 30 November 1993:
“Kharisma itu anugerah cuma-cuma, tanda bahwa Roh mencintai umat. Maka karunia itu tidak dapat dikejar atau kita rebut, seakan-akan sebagai hasil jerih payah kita dan untuk selama-lamanya boleh kita miliki. Misalnya, “bahasa lidah” adalah karunia Roh yang sering tidak tergantung pada emosi dan berupa doa pujian atau permohonan pribadi serta disadari oleh pendoanya . … Lebih lanjut “karunia nubuat” dianugerahkan demi pengutusan Allah, yang biasanya berupa hiburan untuk meneguhkan atau untuk mendorong orang lebih berbakti dalam jemaat. … “Karunia penyembuhan” sering dikaitkan dengan pengutusan Tuhan seyogyanya kita tidak menciptakan kebiasaan mencari penyembuhan demi penyembuhan; sebaliknya baiklah kita lebih menegaskan penyerahan kepada kehendak Tuhan serta tidak mudah menandai orang yang tidak disembuhkan sebagai “tidak beriman” (no. 16-21).

Yang pokok dari kharisma-kharisma bukanlah pengalaman yang luar biasa, melainkan pertemuan dengan Tuhan yang lebih mendalam, pengenalan akan Kristus, yang sungguh berarti suatu hubungan pribadi yang membahagiakan. Pengalaman itu akan mendorong ke arah hidup yang lebih Kristiani, baik dalam kesungguhan hati maupun terutama dalam kerelaan membantu sesama dalam pembangunan Gereja dan masyarakat. Roh Kudus diberikan kepada manusia, juga dengan cara yang tidak biasa, “supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu” (DV 5), entah secara pribadi entah bersama-sama dalam Gereja.

Kendati disebut “kharismatik” namun perhatian untuk kharisma-kharisma bukanlah satu-satunya ciri khusus gerakan ini. Dua aspek lain perlu disebut: Doa-pujian dan kesaksian, Kedua-duanya memang berhubungan erat dengan “Baptis dalam Roh” serta anugerah “bahasa Roh” (atau bahasa lidah). Dalam kelompok doa kharismatik tekanan ada pada doa pujian, yang sering kali diucapkan dengan banyak ekspresi badan, seperti gerakan tangan dan sebagainya. Doa ekspresif ini dapat membantu orang membuka diri bagi kharisma Roh. Namun janganlah doa itu sendiri dilihat sebagai hasil karya Roh langsung. Di sini pun perlu dibedakan antara rahmat dan tanda atau sarana rahmat. Bahkan bisa terjadi bahwa doa ekspresif ini juga terungkap dalam bentuk doa yang serupa dengan “bahasa Roh”, tetapi sebenarnya merupakan cetusan emosi saja. Sama halnya dengan kesaksian. Kesaksian hendaknya berupa anjuran dan dorongan membantu sesama dalam pembentukan jemaat dan bukan ungkapan kesombongan sampai memandang rendah saudara yang lain, yang oleh Tuhan diberi anugerah Roh yang lain. Segala kesaksian akhirnya harus menunjuk kepada Yesus, bukan kepada diri penyaksi sendiri. Anugerah Roh diberikan supaya orang “dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan” (1Kor 12:3).

Sebelum Yesus Tampil;
Persiapan dan Yesus dibaptis
Dikatakan bahwa ketika Yesus mulai tampil di depan umum, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun (Luk 3:23). Sebelumnya Ia hidup tersembunyi di Nazaret dan mencari nafkahnya sebagai tukang (Mrk 6:3), sama seperti ayah-Nya (Mat 13: 55).

1. Persiapan
Mengenai masa pendidikan-Nya Injil tidak mengatakan apa-apa selain peristiwa di kenisah, waktu Ia berusia dua belas tahun. Maka boleh diandaikan bahwa Yesus mendapat pendidikan yang lazim untuk anak-anak pada zaman itu. Pendidikan itu pertama-tama tugas orangtua (lih. Ams 1:8). Demikian pula kiranya yang pertama-tama mendidik Yesus adalah Maria, lebih-lebih pada masa kanak-kanak Yesus, dan Yusuf, ketika Ia sudah menjadi lebih besar. Ayah harus mendidik anaknya, mengajarinya cara membawakan diri dalam masyarakat; dan kalau dia anak laki-laki juga cara mencari nafkah. Anak perempuan dididik dalam pekerjaan rumah tangga oleh ibunya. Pendidikan keagamaan diberikan oleh orangtua. Ayah harus menceritakan sejarah Israel kepada anak-anaknya (Kel 10:2; 13:8; Ul 4:9; 32:7).

DalamTalmud dikatakan:
“Pada umur lima tahun, anak siap mempelajari Kitab Suci;
pada umur sepuluh tahun, siap untuk Mishnah (peraturan);
pada umur tiga belas, untuk perintah-perintah;
pada umur lima belas, untuk Talmud (tradisi);
pada umur delapan belas, siap untuk kamar pengantin;
pada umur dua puluh, siap untuk profesi;
pada umur tiga puluh, ia siap tampil ke depan.”

Anak tidak hanya belajar di rumah. Waktu perayaan atau ziarah ia mendapat banyak instruksi (dari imam-imam atau petugas yang lain), dan pada hari Sabat biasanya ada semacam “kuliah subuh” di sinagoga (rumah ibadat). Setiap anak harus menghafalkan mazmur-mazmur dan bagian-bagian lain Kitab Suci (lih. Mzm 78:1-3). Pada zaman Yesus juga sudah ada sekolah, namun berbeda dengan sekolah zaman sekarang. Biasanya hanya ada satu guru saja (sering kali seorang Farisi, mungkin ahli Taurat), yang mengumpulkan anak-anak untuk mengajarkan kepada mereka segala macam pengetahuan, khususnya mengenai agama. Mereka berkumpul di tempat yang umum dan terbuka, atau (sebagian dari) sinagoga. Tujuan pokok adalah kemampuan membaca (dan menghafalkan) Kitab Suci. Murid yang pintar dan mampu dapat meneruskan studi mereka dengan belajar hukum. Untuk itu anak biasanya harus pergi ke kota (Yerusalem). Sejak zaman para nabi juga ada “kelompok studi”, yang tidak dimaksudkan untuk pendidikan anak kecil, tetapi untuk mempelajari Kitab Suci dan hukum adat bersama-sama. Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri membentuk kelompok-kelompok seperti itu.

Dalam Injil Yesus sering disebut rabi (bahasa Aram dan Ibrani), khususnya oleh para murid (mis. Mrk 9:5; 10:51; 11:21; 14:45), yang berarti guru (lih, Yoh 1:38; 20:16). Dan memang sebutan “guru” (dalam bahasa Yunani) juga dipakai, malah lebih sering (mis. Mrk 4:38; 9:17.38; 10:17.20.35; 12:14.19.32; 13:1). Dengan sebutan itu pertama-tama diungkapkan kehormatan terhadap Yesus, dan ternyata Yesus “mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Akan tetapi para pengikut-Nya tetap disebut “murid”, walaupun tidak dikatakan bahwa mereka “belajar”, melainkan “mengikuti Dia”.
“Murid” berarti pengikut Yesus. Mereka itu orang yang dipanggil oleh Yesus sendiri (lih. Mrk 1:17; 2:14; bdk. 10:17-27; Luk 9:57-60) dan berasal dari daerah Yesus. Petrus dan Andreas kakak-beradik, begitu juga Yakobus dan Yohanes. Simon termasuk kelompok “zelot”, yakni kaum nasionalis; dan Lewi pemungut bea, yang bersekongkol dengan penjajah. Kebanyakan adalah nelayan dari Tiberias. Dalam Luk 8:1-3 juga disebut beberapa wanita (lih. Mrk 15:40-41).
Yang mencolok adalah tuntutan Yesus bahwa mereka harus meninggalkan segala-galanya, termasuk sanak-saudara (lih. Mrk 8:34 dsj.; Luk 14:26 dsj.). Menjadi murid Yesus berarti “menyertai Dia” (Mrk 3:14), dengan segala konsekuensinya (lih. Mrk 8:34; 10:39). Tekanan ada pada hubungan pribadi, bukan pada ajaran atau pengetahuan. Mereka mengambil bagian dalam tugas dan perutusan Yesus (lih. Mrk 1:17) dan “diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:14; Mat 10:7 dsj.). Maka di antara para murid dalam arti yang luas ada dua belas orang yang secara istimewa dipilih oleh Yesus menjadi murid-Nya. Merekalah yang diutus oleh-Nya dan di kemudian hari juga menjadi “saksi kebangkitan” (Kis 1:22). Biasanya mereka disebut “dua belas rasul”.
Kelompok murid Yesus, khususnya kelompok dua belas, serupa dengan kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang berkumpul di bawah seorang guru, Namun kelompok murid Yesus itu juga khas. Kekhasan kelompok ini berakar dalam keistimewaan Yesus sendiri. Dasar kesatuan kelompok Yesus adalah iman akan Yesus dan perutusan-Nya yang berkembang dalam pergaulan dengan Yesus.

2. Yesus Dibaptis
Kehidupan Yesus di depan umum dimulai dengan berita, “Ia meninggalkan Nazaret dan berdiam di Kapernaum, di tepi danau; sejak saat itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:13.17). Yesus meninggalkan ketenangan hidup keluarga di Nazaret dan mulai hidup mengembara. Ia “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Awal perubahan hidup ini adalah pembaptisan oleh Yohanes. Matius menceritakan, “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes supaya dibaptis olehnya” (Mat 3:13). Mrk 1:9 memberitakan peristiwa itu dengan kata-kata yang hampir sama.

Tetapi Lukas menguraikannya lebih luas dan memperlihatkan maknanya: “Ketika seluruh umat dibaptis, dan ketika Yesus pun dibaptis dan sedang berdoa, maka terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya; dan terdengarlah suara dari langit: Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 3:21-22)”
Pertama-tama, dikatakan bahwa bukan hanya Yesus yang dibaptis, melainkan seluruh umat. “Datanglah kepada Yohanes orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan” (Mrk 1:5). Baptis Yohanes merupakan pembaptisan pertobatan (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3; Kis 13:24; 19:4). Maksudnya, orang minta dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda tobat.

Timbullah pertanyaan, bagaimana Yesus “yang tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21) dapat minta dibaptis oleh Yohanes. Rupa-rupanya pertanyaan ini sudah timbul di kalangan Gereja perdana sendiri. Markus masih menceritakan pembaptisan Yesus tanpa keterangan lebih lanjut (Mrk 1:9). Tetapi dalam Injil Matius, Yohanes seolah-olah protes: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Lukas menyebut pembaptisan sepintas saja; tekanan ada pada apa yang terjadi sesudahnya. Injil Yohanes malah sama sekali tidak berbicara mengenai pembaptisan Yesus oleh Yohanes (lih. Yoh 1:19-34). Padahal jelaslah bahwa pembaptisan itu dipandang sebagai awal karya Yesus (lih. Kis 1:22; 10:37 -38). Kiranya sedari semula Gereja sudah bertanya-tanya, mengapa Yesus mau dibaptis? Padahal “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu-daya tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr 2:22; lih. 1Yoh 3:9).

Kiranya tidak ada jawaban lain kecuali yang satu ini, “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka” (Luk 22:37; lih. Mrk 15:28). “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1Tim 1:15). Oleh karena itu Ia selalu mencari orang berdosa. Ia dilecehkan sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34), sebab Ia biasa “makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu” (Mrk 2:16; lih. Mat 9:11; Luk 5:30; 15:1.2). Ia mempersatukan orang berdosa dengan diri-Nya, menghadap Bapa. Memang Ia tidak membutuhkan ampun dari Bapa. Tetapi “Ia memimpin kita dalam iman” (Ibr 12:2). Dan iman adalah intisari tobat, sebab “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibr 11:6).

Yesus menghadap Bapa, bersama orang berdosa. Sabda Bapa, yang dikatakan kepada Yesus, ditujukan kepada semua orang yang bersatu dengan Yesus: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Dalam pembaptisan Yohanes, Yesus diakui oleh Bapa sebagai pemimpin dan penebus semua orang berdosa. Pembaptisan adalah bagaikan “pelantikan” Yesus ke dalam tugas perutusan-Nya. Segera sesudah pembaptisan, Yesus akan “memberitakan Injil Allah: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Dengan pembaptisan-Nya, Yesus sekaligus menyatakan kesatuan dengan orang berdosa dan penyerahan total dan radikal kepada kehendak Bapa. Dengan pembaptisan, Ia tampil sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Semua Injil mengatakan bahwa Roh Kudus turun atas-Nya. Selanjutnya ‘‘Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun”. Sesudah itu “dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (Luk 4:1-2.14). Sesudah pembaptisan, Yesus tampil sebagai orang yang “diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38). Ia tampil sebagai ‘‘Yang terurapi”, Ia dilantik sebagai Kristus. “Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit” (Luk 5:17). Yesus sekarang tampil, bukan lagi sebagai tukang kayu, tetapi benar-benar sebagai seorang nabi. Maka semua orang heran dan bertanya: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita? Mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Sesudah pembaptisan-Nya Yesus kelihatan lain, sampai orang sekampung tidak lagi mengenal-Nya. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”.


Tidak ada komentar: